Oleh: J.E., CEO of Tabooo Network Indonesia
Tabooo.id: Talk – Film Indonesia sudah menembus dunia. Bukan sekali, bukan dua kali, tapi berkali-kali. Sedangkan di dalam negeri, pertanyaan yang terus berulang justru sederhana, “Filmnya layak ditonton nggak?”
Kasus Ghost in The Cell membuka satu hal yang selama ini kita abaikan. Dunia bergerak lebih cepat dalam mengapresiasi karya kita, dibanding kita sendiri.
DUNIA SUDAH LAMA MELIHAT
Fenomena Ghost in The Cell ini bukan kejadian baru. Selama satu dekade terakhir, film Indonesia sudah berulang kali menembus panggung global.
Beberapa film bahkan tidak hanya tampil, tapi juga menang dan mencetak sejarah:
- “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” (2017) – tampil di Cannes dan didistribusikan ke lebih dari 40 negara
- “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” (2021) – memenangkan Golden Leopard di Locarno Film Festival
- “Before, Now & Then (Nana)” (2022) – meraih Silver Bear di Berlin International Film Festival
- “Yuni” (2021) – memenangkan Platform Prize di Toronto International Film Festival
- “Autobiography” (2022) – masuk Venice Film Festival
- “Tiger Stripes” (2023, ko-produksi Indonesia) – memenangkan Grand Prix di Cannes Critics’ Week
Prestasi-prestasi di atas, bukan sekadar pencapaian artistik, tetapi bukti kalau karya para sineas Indonesia punya daya tarik universal dan bisa diterima lintas budaya. Jelas… dunia sudah lama melihat potensi kita. Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah kenapa kita sendiri masih ragu?
GLOBAL NAIK, LOKAL MASIH TERTAHAN
Di satu sisi, kita melihat prestasi yang membanggakan. Film Indonesia masuk festival dunia, menang penghargaan, dan didistribusikan secara global. Namun di sisi lain, realita domestik menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Distribusi film masih terkonsentrasi di kota besar, karena masih ada ratusan kota di Indonesia yang tidak memiliki bioskop. Ironisnya, beberapa film yang dipuji dunia justru tidak tayang di bioskop lokal. Tentu saja, ini menciptakan paradoks. Film kita mendunia—tapi akses lokal masih terbatas.
MASALAHNYA ADA DI SISTEM DAN MENTAL
Kita sering menyalahkan kualitas film Indonesia. Padahal, kualitas itu sudah terbukti di panggung global. Masalah sebenarnya ada di dua hal, yakni sistem dan mental.
Dari sisi sistem, industri masih menghadapi banyak tantangan. Mulai dari distribusi yang timpang, regulasi yang belum adaptif, hingga kesejahteraan pekerja yang belum ideal. Bahkan, banyak pekerja film harus bekerja hingga 16–20 jam per hari tanpa perlindungan yang memadai
Dari sisi mental, kita sebagai penonton juga punya peran. Kita sering menunggu validasi luar negeri sebelum benar-benar percaya.
Ghost in The Cell
Ghost in The Cell menjadi contoh paling relevan hari ini. Film ini sudah dibeli oleh 86 negara, berarti secara pasar global, karya terbaru Joko Anwar ini dinilai layak bahkan sebelum tayang di Indonesia.
Namun reaksi di dalam negeri masih terbagi. Sebagian menunggu review, sebagian menunggu viral, dan sebagian lagi masih ragu. Berarti, ini bukan soal filmnya, ini soal pola pikir.
Penonton adalah Bagian dari Sistem
Sebagai penonton, kamu bukan hanya konsumen, melainkan bagian dari sistem. Setiap tiket yang kamu beli adalah bentuk dukungan terhadap industri. Setiap keputusan untuk menonton atau menunda punya dampak.
Ketika kamu hanya menonton setelah film viral, kamu memperkuat pola bahwa apresiasi datang belakangan. Tapi, ketika kamu hadir sejak awal, kamu ikut membangun ekosistem yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Mari kita jujur, kita bangga ketika film Indonesia menang di luar negeri. Kita share, kita rayakan, kita klaim sebagai prestasi nasional. Namun saat film itu tayang di bioskop lokal, apa yang kita lakukan?
Apakah kita justru menunda dan menunda? Kita menunggu hype, validasi, menunggu review orang lain dulu.
Kita kurang menyadari bahwa ini bukan sekadar kebiasaan. Ini adalah pola yang membentuk masa depan industri.
Film Indonesia sudah mendunia. Itu fakta, karena prestasi sudah ada, pengakuan pun sudah datang.
Sekarang yang tersisa hanya satu pertanyaan, apakah kita siap mengapresiasi sejak awal atau tetap jadi penonton yang datang setelah semuanya selesai? @tabooo



