Tabooo.id: Talk – Kalau striker lokal cetak dua gol di laga besar, harusnya cukup, kan? Atau masih kurang viral?, Sabtu malam, 11/04/2026, Eksel Runtukahu tampil “berisik” di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Dua gol ke gawang Persebaya. Skor 3-0. Persija menang meyakinkan. Tapi pertanyaannya bukan lagi soal hasil. Pertanyaannya kenapa performa kayak gini masih butuh validasi netizen?
Brace Sudah, Tapi Kenapa Masih “Layak Gak Ya?”
Eksel mencetak gol di menit 53 dan 75. Total musim ini: 6 gol, 2 assist dari 18 laga. Menit bermain? Cuma 912 menit.
Kalau dihitung kasar, itu efisien. Tapi anehnya, diskusi publik malah muter di satu titik “Layak gak sih dia ke Timnas?”
Bukannya itu harusnya jadi keputusan teknis pelatih? Atau kita memang lebih suka pemain yang “punya cerita besar” daripada yang kerja diam-diam?
Naturalisasi Lebih Seksi?
Coba jujur. Kalau nama pemainnya terdengar “Eropa”, ekspektasi kita langsung naik, kan? Sementara kalau lokal? Harus buktiin berkali-kali.
Pengamat sepak bola, Budi Santoso, dalam wawancara dengan Kompas Bola pada 12/04/2026, bilang:
“Masalahnya bukan kualitas pemain lokal. Tapi persepsi publik yang sudah terbentuk. Naturalisasi itu cepat dapat kepercayaan, lokal harus rebutan panggung.”
Nah, ini jadi menarik. Apakah kita menilai pemain dari performa atau dari narasi?
Pelatih Butuh Sistem, Bukan Sekadar Hype
Di sisi lain, pelatih biasanya gak terlalu peduli sama timeline Twitter.
Pelatih Persija, Mauricio Souza, setelah laga 11/04/2026, bilang: “Eksel bekerja keras. Dia bukan cuma soal gol, tapi pergerakan dan kontribusi ke tim.”
Artinya jelas di mata pelatih, striker bukan cuma mesin gol Tapi publik? Masih lihat angka di papan skor.
Eks Pemain Bilang: Kesempatan Itu Harus Diberi, Bukan Ditunggu
Mantan pemain Timnas Indonesia, Robby Darwis, dalam diskusi sepak bola di TVRI Sport pada 10/04/2026, sempat nyeletuk:
“Kalau pemain lokal gak pernah dikasih kesempatan, ya kapan kita tahu kualitas aslinya?” Klasik. Tapi masih relevan.
Kita sering nunggu pemain “jadi” dulu, baru percaya. Padahal di negara lain, pemain “dibentuk” lewat kesempatan.
Eksel Sendiri Santai Tapi Kita yang Tegang
Yang menarik, Eksel justru gak ikut overthinking. Dia bilang setelah pertandingan 11/04/2026:
“Saya tidak berharap ke situ. Tapi kalau memang dari Tuhan ada kesempatan, saya siap kasih yang terbaik.”
Rendah hati? Iya. Realistis? Juga iya. Tapi justru itu yang bikin kontras. Dia santai Kita yang ribut.
Jadi, Ini Soal Kualitas atau Kepercayaan?
Mari jujur lagi.
- Eksel lagi perform
- Statistiknya gak buruk
- Pelatih klub percaya
Tapi publik masih ragu,Kenapa? Karena mungkin, selama ini kita lebih percaya “potensi luar” daripada “bukti dalam negeri”.
Atau jangan-jangan kita sendiri belum percaya sama liga kita?
Akhirnya Balik ke Kamu
Kalau striker lokal harus cetak brace dulu baru dilirik, sementara yang lain cukup datang dengan label Ini kompetisi sehat, atau bias yang kita pelihara?
Dan sekarang pertanyaannya simpel Kalau kamu pelatih Timnas, kamu panggil Eksel sekarang atau masih nunggu dia viral dulu?. @teguh







