Tabooo.id: Deep – Malam itu, Indonesia seperti kehilangan arah. Tahun 1998 bukan sekadar angka, melainkan titik patah. Harga melambung, jalanan penuh amarah, dan kepercayaan runtuh perlahan.
Di tengah situasi itu, satu nama muncul: Bacharuddin Jusuf Habibie.
Bukan jenderal. Bukan politisi keras. Tapi seorang insinyur.
Justru karena itu, pertanyaan mulai muncul: apa yang bisa dilakukan seorang ilmuwan ketika negara hampir jatuh?
Retakan yang Tidak Selalu Terlihat
Habibie dikenal sebagai “Mr. Crack”. Ia membaca retakan kecil pada badan pesawat sebelum berubah menjadi bencana.
Namun, hidupnya tidak berhenti di sana. Ketika ia kembali ke Indonesia, ia tidak lagi berhadapan dengan logam. Sebaliknya, ia menghadapi retakan sosial, ekonomi, dan politik yang jauh lebih rumit.
Retakan itu tidak bisa dihitung dengan rumus. Selain itu, retakan itu sering tidak terlihat. Meski begitu, dampaknya terasa di mana-mana.
Pulang: Pilihan yang Tidak Nyaman
Di Jerman, hidupnya sudah mapan. Ia memiliki posisi tinggi, fasilitas lengkap, dan pengakuan global.
Namun demikian, ia memilih pulang.
Keputusan itu bukan langkah aman. Sebaliknya, itu langkah berisiko. Ia kembali ke negara yang bahkan belum siap membangun industri dirgantara.
Meski begitu, ia tetap melangkah. Ia membangun IPTN. Lalu, ia mendorong lahirnya pesawat N-250.
Bagi sebagian orang, itu proyek ambisius. Namun bagi Habibie, itu keyakinan. Ia percaya Indonesia bisa berdiri dengan teknologinya sendiri.
Ketika Negara Tidak Memberi Waktu untuk Berpikir
Kemudian, 1998 datang tanpa kompromi.
Soeharto mundur. Negara kehilangan arah. Situasi berubah cepat, bahkan terlalu cepat.
Dalam kondisi itu, Habibie naik menjadi presiden. Ia tidak menunggu. Ia langsung bergerak.
Pertama, ia membuka kebebasan pers. Selain itu, ia memberi ruang bagi partai politik. Di sisi lain, ia menstabilkan ekonomi yang hampir runtuh.
Namun, di titik paling krusial, ia mengambil keputusan besar: referendum Timor Timur.
Keputusan itu berat. Bahkan, keputusan itu memecah opini publik. Meski demikian, ia tetap memilih bertindak.
Cinta yang Menjaga Sisi Manusianya
Di balik semua keputusan besar itu, ada satu hal yang membuatnya tetap manusia: cintanya pada Ainun.
Cintanya tidak dramatis. Namun, justru karena itu, cintanya terasa nyata.
Ketika Ainun pergi, ia tidak menyembunyikan kesedihan. Sebaliknya, ia menuliskannya. Ia membagikannya.
Karena itu, banyak orang merasa dekat. Mereka melihat bahwa bahkan seseorang sekuat Habibie pun bisa rapuh.
Ini Bukan Sekadar Kisah Sukses
Jika dilihat sekilas, hidup Habibie tampak seperti cerita sukses.
Namun, jika dilihat lebih dalam, ini bukan tentang sukses.
Ini tentang pilihan.
Ia meninggalkan kenyamanan. Ia masuk ke ketidakpastian. Selain itu, ia tetap berdiri di tengah krisis.
Lebih dari itu, ia tetap percaya, bahkan ketika keadaan tidak memberi alasan untuk percaya.
Refleksi: Retakan yang Kita Hadapi Hari Ini
Hari ini, kita mungkin tidak hidup di tahun 1998. Namun, bukan berarti kita bebas dari retakan.
Retakan itu hadir dalam bentuk berbeda. Kadang berupa tekanan hidup. Kadang berupa rasa kehilangan arah.
Namun, di titik itu, cerita Habibie terasa relevan.
Ia tidak lari dari retakan. Sebaliknya, ia memahaminya. Lalu, ia memperbaikinya.
Dan dari sana, satu hal menjadi jelas: kekuatan tidak datang dari keadaan yang utuh, tetapi dari keberanian menghadapi yang retak.
Lalu sekarang pertanyaannya sederhana:
ketika hidup mulai retak, kita akan lari… atau memilih untuk tetap bertahan?







