Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Desa Sade Terbakar, Masa Depan Tradisi Sasak Dipertaruhkan

by dimas
Agustus 30, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Kebakaran melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah, merusak rumah adat dan memukul ekonomi warga. Pemulihan kini diuji untuk menjaga tradisi Sasak.

Tabooo.id: Lombok Tengah – Api melahap sebagian Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026.

Api tidak hanya membakar bangunan tradisional masyarakat Sasak. Kebakaran juga menghantam ruang hidup, sumber penghasilan, dan wajah pariwisata yang selama ini mereka rawat.

Kini pemerintah menghadapi pekerjaan yang jauh lebih rumit daripada sekadar membangun kembali rumah yang hangus.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana datang ke Desa Adat Sade pada Kamis, 27 Agustus 2026. Ia memastikan proses pemulihan tetap mempertahankan nilai budaya, kearifan lokal, dan autentisitas arsitektur tradisional Sasak.

Pernyataan itu penting karena Sade bukan kawasan wisata biasa.

Ini Belum Selesai

Pemerintah Tarik 25 Merek Beras Fortifikasi, Ada Apa?

Bakar Sampah Berujung Kebakaran Kabel PT Sangsaka di Bantul

Rumah-rumah tradisional di kawasan tersebut sekaligus menjadi tempat tinggal, ruang ekonomi, dan bagian dari sejarah masyarakat Sasak. Ketika bangunan terbakar, masyarakat kehilangan lebih dari sekadar dinding dan atap.

Data sementara per 27 Agustus menunjukkan dampaknya cukup besar.

Sebanyak 189 kepala keluarga dan 320 pelaku pariwisata terdampak kebakaran. Kebakaran juga merusak 75 rumah adat, 69 artshop, delapan lumbung alang, satu menara pantau, empat berugak sekenam, enam berugak sakepat, serta satu bale beleq yang berfungsi sebagai museum.

Angka tersebut menunjukkan satu persoalan besar.

Kebakaran Sade telah memukul ekosistem kehidupan yang bertumpu pada budaya.

Ketika Rumah Sekaligus Menjadi Sumber Penghasilan

Sebagian besar masyarakat Sade bekerja dalam ekosistem pariwisata.

Mereka tidak hanya menjaga tradisi sebagai warisan keluarga. Mereka juga menjadikan tradisi sebagai sumber penghidupan.

Kerajinan, aktivitas wisata, rumah tradisional, dan interaksi dengan wisatawan membentuk satu rantai ekonomi. Ketika salah satu bagian runtuh, bagian lain ikut kehilangan pijakan.

Karena itu, pemulihan tidak bisa berhenti pada pembangunan fisik.

Widiyanti menegaskan pemerintah akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan melibatkan masyarakat dalam proses pembangunan kembali.

Kementerian Pariwisata juga menggandeng Politeknik Pariwisata Lombok untuk mendukung pemulihan. Pemerintah pusat dan daerah akan menyusun langkah bersama agar proses rekonstruksi tidak menghapus karakter Sade.

Di titik ini, persoalan Sade menjadi lebih besar daripada urusan pascakebakaran.

Pertanyaannya bukan hanya berapa rumah yang harus dibangun.

Pertanyaan yang lebih penting adalah Sade seperti apa yang akan dibangun kembali?

Jangan Sampai Rekonstruksi Menghapus Identitas

Pembangunan kembali desa adat selalu membawa risiko.

Bangunan yang cepat berdiri belum tentu mengembalikan kehidupan yang sebelumnya ada. Rekonstruksi yang terlalu modern juga dapat membuat desa kehilangan karakter yang justru menjadi alasan wisatawan datang.

Pemerintah karena itu merancang master plan rekonstruksi bersama berbagai pemangku kepentingan.

Masyarakat adat harus ikut menentukan arah pembangunan tersebut.

Rencana itu mencakup rumah tradisional, amenitas, sanitasi, pengelolaan sampah, serta sistem proteksi kebakaran. Pemerintah juga mempertimbangkan embung atau penampungan air darurat di sekitar kawasan.

Langkah tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang.

Desa adat tidak cukup hanya dilestarikan. Desa adat juga harus dibuat lebih siap menghadapi risiko.

Salah satu gagasannya adalah menyediakan APAR komunal yang menyatu dengan estetika desa. Pemerintah juga ingin menjadikan Sade sebagai proyek percontohan bagi desa adat lain.

Teknologi modern dengan demikian tidak harus menjadi musuh tradisi.

Teknologi justru dapat menjadi alat untuk menyelamatkan tradisi.

Kebakaran Membuka Titik Lemah yang Selama Ini Tersembunyi

Peristiwa di Sade memperlihatkan persoalan klasik kawasan wisata berbasis masyarakat.

Identitas budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi. Namun, ketergantungan ekonomi terhadap identitas tersebut juga menciptakan kerentanan ketika bencana datang.

Satu kebakaran dapat mengganggu tempat tinggal sekaligus mata pencaharian.

Itulah sebabnya pemerintah menyiapkan sejumlah program pemulihan ekonomi. Bantuan alat tenun menjadi salah satu langkah agar masyarakat kembali menjalankan aktivitas produktif.

Pemerintah juga menyiapkan dukungan modal kerja, fasilitas menenun, serta tempat sementara untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemulihan tidak cukup menggunakan pendekatan bantuan bencana.

Masyarakat Sade membutuhkan jalan untuk kembali bekerja.

Tanpa pemulihan ekonomi, bangunan baru hanya akan menjadi kulit dari desa yang kehilangan denyut kehidupannya.

Anak-Anak dan Wisatawan Juga Masuk Dalam Persoalan

Dampak bencana tidak berhenti pada kerusakan aset.

Pemerintah juga menyiapkan trauma healing bagi korban, terutama anak-anak. Program tersebut menjadi penting karena kebakaran dapat meninggalkan dampak psikologis yang tidak terlihat dari luar.

Pada saat yang sama, pemerintah ingin memperkuat kemampuan warga menghadapi keadaan darurat.

Kelompok Sadar Wisata dan masyarakat akan mendapatkan bimbingan mengenai prosedur tanggap darurat serta evakuasi wisatawan.

Kebutuhan tersebut memperlihatkan sisi lain Sade sebagai destinasi wisata.

Warga bukan hanya penghuni desa. Mereka juga menjadi bagian dari sistem pelayanan wisata.

Karena itu, keselamatan masyarakat dan keselamatan wisatawan harus berjalan bersama.

Museum Hilang, Memori Juga Terancam

Kebakaran juga berdampak pada ruang yang memiliki fungsi kultural.

Bale beleq yang berfungsi sebagai museum ikut terdampak. Pemerintah kemudian merencanakan pembangunan museum sementara.

Museum tersebut nantinya diharapkan menjadi ruang bagi wisatawan untuk memahami sejarah, budaya, serta kehidupan masyarakat Sasak secara langsung.

Rencana itu memiliki arti lebih besar daripada penyediaan fasilitas wisata.

Museum menyimpan memori.

Ketika ruang fisik sebuah komunitas terbakar, masyarakat membutuhkan tempat untuk menjaga cerita agar tidak ikut hilang.

Hal serupa berlaku pada rencana pembangunan masjid sementara. Fasilitas tersebut ditujukan untuk kebutuhan masyarakat sekaligus kenyamanan wisatawan Muslim.

Targetnya Peak Season, Tetapi Pemulihan Tidak Boleh Terburu-buru

Pemerintah menargetkan pembangunan dapat selesai menjelang peak season, terutama momentum MotoGP di Mandalika.

Target tersebut masuk akal dari perspektif pariwisata.

Sade berada dekat dengan kawasan Mandalika dan selama ini menjadi bagian dari pengalaman wisata Lombok. Ketika arus wisatawan meningkat, keberlanjutan aktivitas Sade ikut menentukan denyut ekonomi masyarakat.

Namun, ada risiko ketika target pariwisata bertemu dengan kebutuhan pemulihan.

Pembangunan yang terlalu mengejar tenggat dapat mengorbankan proses partisipasi masyarakat. Padahal, masyarakat adat justru menjadi pihak yang paling berkepentingan terhadap bentuk Sade setelah rekonstruksi.

Kecepatan memang penting.

Tetapi untuk desa adat, kesalahan desain bisa bertahan jauh lebih lama daripada masa pembangunan.

Sade Tidak Bisa Dibangun Hanya Dengan Beton

Pemerintah kini membahas pembentukan tim kerja lintas kementerian dan lembaga.

Tim tersebut akan melibatkan pemerintah daerah, mitra, serta masyarakat adat. Pendataan detail menjadi langkah awal agar bantuan dapat tersalurkan secara tepat.

Pemerintah juga merencanakan satu rekening donasi sebagai pintu pengumpulan dana rekonstruksi.

Masalah lain muncul dari ketersediaan bahan baku rumah tradisional.

Artinya, mempertahankan bentuk tradisional membutuhkan lebih dari sekadar kemauan. Proses tersebut membutuhkan bahan, keahlian, biaya, waktu, dan keterlibatan masyarakat.

Di sinilah tantangan sebenarnya berada.

Jika bahan tradisional sulit diperoleh, pembangunan bisa terdorong menggunakan material yang lebih mudah dan murah. Jika masyarakat tidak dilibatkan, rekonstruksi berisiko menghasilkan desa yang terlihat tradisional tetapi kehilangan ruhnya.

Sade tidak membutuhkan replika.

Sade membutuhkan keberlanjutan.

Ini Bukan Sekadar Kebakaran

Kebakaran Sade menunjukkan bahwa pariwisata berbasis budaya memiliki dua wajah.

Di satu sisi, budaya mampu menciptakan identitas sekaligus penghasilan. Di sisi lain, ketika ekosistem tersebut rusak, masyarakat kehilangan ruang hidup dan sumber ekonomi secara bersamaan.

Karena itu, pemulihan Sade seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki sistem.

Proteksi kebakaran harus masuk ke desain desa. Jalur evakuasi harus jelas. Infrastruktur air harus tersedia. Warga dan pengelola wisata harus memiliki prosedur tanggap darurat.

Semua itu harus berjalan tanpa mengubah Sade menjadi kawasan wisata modern yang kehilangan karakter.

Pemerintah menyebut proses tersebut sebagai kolaborasi dan gotong royong. Widiyanti juga menekankan bahwa masyarakat desa harus terlibat dalam seluruh proses pembangunan.

Prinsip tersebut akan menjadi penentu keberhasilan rekonstruksi.

Sebab, desa adat bukan benda mati yang bisa dipugar seperti bangunan bersejarah.

Ia adalah komunitas yang hidup.

Dan ketika Sade dibangun kembali, yang harus dikembalikan bukan hanya rumahnya.

Yang harus dikembalikan adalah kehidupan, ingatan, pekerjaan, rasa aman, dan identitas masyarakat Sasak yang membuat Sade tetap menjadi Sade.

Ini bukan sekadar kejadian. Ini pola, ketika pariwisata menjadikan budaya sebagai kekuatan ekonomi, negara juga harus memastikan budaya tersebut memiliki sistem perlindungan ketika bencana datang. @dimas

Tags: Desa Adat SadeKebakaran Desa SadePariwisata LombokSade LombokTradisi Sasak

Kamu Melewatkan Ini

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

by dimas
Agustus 23, 2026

Kebakaran melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah, NTB, hingga menghanguskan sekitar 250 rumah dan memukul kehidupan serta ekonomi warga Sasak....

Next Post
Ratusan Lampion Hiasi Langit Dieng di DCF 2026

Ratusan Lampion Hiasi Langit Dieng di DCF 2026

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id