Pagi dimulai dengan membuka email. Siang dihabiskan mencari lowongan baru. Malam ditutup dengan pertanyaan yang terus berulang, “Apa yang sebenarnya kurang dariku?”. ini menandakan berarti seseorang malas bekerja.
Tabooo.id – Ratusan lamaran sudah terkirim. CV berkali-kali diperbarui. Berbagai pelatihan telah diikuti. Namun, kesempatan pertama untuk bekerja belum juga datang. Di balik angka 7,22 juta pengangguran di Indonesia, ada jutaan anak muda yang sedang berjuang mempertahankan harapan. Ini bukan sekadar cerita tentang seseorang malas bekerja tapi ini adalah kisah tentang harga diri yang perlahan diuji oleh keadaan.
Ketika Ijazah Tidak Lagi Menjamin Masa Depan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat masih ada 7,22 juta orang menganggur di Indonesia hingga Mei 2026. Angka tersebut memang turun sekitar 24 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Meski begitu, penurunan itu belum cukup mengubah kenyataan yang dihadapi jutaan pencari kerja.
Data BPS menunjukkan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yakni 7,68 persen. Setelah itu terdapat lulusan SMA sebesar 6,17 persen, kemudian lulusan Diploma IV hingga S3 sebesar 6,09 persen.
Ironisnya, semakin tinggi jenjang pendidikan, peluang memperoleh pekerjaan belum tentu ikut meningkat.
Dalam konferensi pers Rabu, 05/08/2026, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mengatakan,
“Angkatan kerja yang tidak terserap pasar kerja adalah pengangguran, yaitu sebanyak 7,22 juta orang atau turun sekitar 24 ribu orang dibandingkan Februari 2026.”
Pernyataan itu menunjukkan adanya perbaikan secara statistik. Namun, statistik tidak pernah mampu menjelaskan bagaimana rasanya menunggu panggilan kerja yang tak kunjung datang.
Dunia Kerja Bergerak Lebih Lambat dari Pertumbuhan Lulusan
Setiap tahun sekolah dan perguruan tinggi meluluskan jutaan anak muda. Sementara itu, dunia kerja belum mampu membuka lapangan pekerjaan dengan kecepatan yang sama.
Akibatnya, persaingan menjadi semakin ketat. Sebagian lulusan baru telah mengirim lebih dari seratus CV.
Sebagian lainnya menjalani belasan wawancara tanpa hasil. Tidak sedikit pula yang berkali-kali gagal pada tahap akhir rekrutmen.
Semua itu menunjukkan satu hal yaitu, Mereka tidak berhenti berusaha.
Sebaliknya, mereka terus mencari peluang sambil berharap ada perusahaan yang bersedia memberikan kesempatan pertama.
Sayangnya, setiap email penolakan sedikit demi sedikit mengikis rasa percaya diri yang selama ini mereka bangun.
Rumah Kadang Menjadi Tempat yang Paling Berat
Banyak orang mengira tekanan terbesar datang dari perusahaan. Padahal, kenyataannya sering justru berasal dari lingkungan terdekat.
“Sudah dapat kerja belum?”
“Kapan mulai kerja?”
“Temanmu sudah jadi pegawai.”
Kalimat-kalimat itu mungkin lahir dari perhatian. Namun, bagi pencari kerja, pertanyaan tersebut terasa seperti pengingat bahwa mereka belum berhasil memenuhi harapan.
Pertanyaan itu membuat mereka merasa tertinggal. Perbandingan dengan teman sebaya semakin menggoyahkan keyakinan terhadap kemampuan sendiri.
Di saat yang sama, setiap penolakan perlahan mengikis rasa percaya diri. Lama-kelamaan, rasa malu mulai tumbuh.
Bukan karena mereka malas bekerja melainkan karena mereka merasa belum mampu membalas perjuangan orang tua.
Quarter Life Crisis yang Datang Tanpa Suara
Usia 20-an sering digambarkan sebagai masa paling produktif. Namun, bagi sebagian anak muda, fase itu justru menjadi periode yang penuh kebingungan.
Pengangguran berkepanjangan sering memicu quarter life crisis, yaitu kondisi ketika seseorang mulai mempertanyakan masa depan, identitas, hingga arti keberhasilan dalam hidupnya.
Psikolog klinis Dr. Tiara Puspita, M.Psi., Psikolog, dalam berbagai diskusi mengenai kesehatan mental anak muda sepanjang 2024–2025, menjelaskan bahwa kegagalan memperoleh pekerjaan dalam waktu lama dapat memicu kecemasan, menurunkan harga diri, bahkan meningkatkan risiko depresi apabila tidak mendapat dukungan yang memadai.
Gejalanya sering tidak terlihat. Mereka masih tersenyum dan aktivitas sehari-hari tetap berjalan.
Namun, di dalam kepala, muncul pertanyaan yang jauh lebih berat, “Apakah aku memang tidak cukup baik?”
Pendidikan Mengajarkan Cara Belajar, Dunia Kerja Menguji Cara Bertahan
Selama bertahun-tahun, sekolah mengajarkan bahwa pendidikan menjadi jalan menuju masa depan. Sayangnya, realitas tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Sosiolog Universitas Indonesia, Robertus Robet, dalam berbagai kajiannya mengenai perubahan sosial dan ketenagakerjaan, menilai bahwa tantangan generasi muda bukan hanya terletak pada kualitas individu, tetapi juga pada struktur ekonomi yang belum mampu menyediakan kesempatan kerja secara seimbang.
Pandangan serupa juga beberapa kali disampaikan pengamat pendidikan Darmaningtyas.
Menurutnya, sistem pendidikan belum sepenuhnya mampu menjembatani kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi lulusan.
Ijazah akhirnya hanya menjadi syarat administratif. Sementara itu, perusahaan justru mencari pengalaman kerja.
Persoalannya sederhana, bagaimana seseorang memperoleh pengalaman jika kesempatan pertama saja belum pernah datang?
Pengangguran Tidak Hanya Menghilangkan Penghasilan
Banyak orang melihat pengangguran sebagai persoalan ekonomi. Padahal, dampaknya jauh lebih luas karena rutinitas perlahan menghilang.
Keberanian bertemu teman lama ikut memudar bahkan rasa percaya diri saat menghadiri reuni terus menurun.
Sebagian orang mulai menghindari acara keluarga karena tidak ingin kembali mendengar pertanyaan yang sama.
Pada akhirnya, keyakinan terhadap masa depan ikut melemah. Semua perubahan itu sering berlangsung tanpa disadari.
Ada yang tetap bangun pagi meski belum memiliki kantor. Sebagian lain terus memperbaiki CV sambil berharap ada balasan email.
Masih banyak pula yang percaya bahwa kerja keras suatu hari akan menemukan jalannya.
Pemerintah Terus Berupaya, Tetapi Tantangan Belum Berakhir
Pemerintah terus memperluas pelatihan vokasi, pemagangan, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja sebagai upaya meningkatkan daya saing pencari kerja.
Berbagai balai latihan kerja juga memperkuat program pelatihan berbasis kebutuhan industri. Terlihat langkah tersebut tentu penting.
Namun, pelatihan saja belum cukup apabila penciptaan lapangan kerja masih tumbuh lebih lambat dibandingkan pertambahan angkatan kerja baru setiap tahun.
Indonesia membutuhkan lebih banyak investasi, industri yang berkembang, dan kebijakan yang mampu membuka peluang kerja secara nyata.
Yang Sebenarnya Hilang
Angka 7,22 juta memang terlihat seperti statistik. Namun, setiap angka mewakili seseorang yang sedang memperjuangkan masa depannya.
Seorang anak yang ingin membantu orang tua. Seorang lulusan baru yang ingin mandiri. Seorang kakak yang berharap bisa membiayai adiknya sekolah.
Pengangguran bukan hanya soal hilangnya penghasilan. Kondisi itu juga mengikis rasa percaya diri, harapan, dan keberanian untuk merencanakan masa depan.
Yang Tidak Pernah Masuk ke Dalam Statistik
Masyarakat sering terlalu cepat memberi label bahwa generasi muda malas bekerja atau terlalu memilih pekerjaan. Fakta di lapangan menunjukkan cerita yang berbeda.
Sebagian besar dari mereka tidak sedang memilih. Mereka sedang menunggu kesempatan pertama yang belum juga datang.
Kita memang sering menghitung jumlah pengangguran. Sebaliknya, kita jarang menghitung berapa banyak mimpi yang ikut tertunda di balik angka tersebut.
Inilah sisi yang sering luput dari pembahasan karena ini bukan sekadar persoalan ekonomi.
Ini adalah cermin tentang bagaimana sebuah bangsa menyediakan ruang bagi generasi mudanya untuk memulai kehidupan.
Sebab negara yang benar-benar maju bukan hanya mampu meluluskan jutaan siswa setiap tahun.
Negara yang maju juga mampu memastikan bahwa kerja keras, pendidikan, dan harapan masih memiliki jalan menuju masa depan. @teguh








