Tabooo.id: News – Kalau kebiasaan nonton terus bergeser ke layar kecil, apakah bioskop masih punya masa depan? Pertanyaan ini mulai terasa nyata.
Anggota DPR RI, Fadli, mengingatkan ancaman itu secara langsung. Ia menilai, jika masyarakat makin terbiasa menonton film lewat gadget, bioskop bisa kehilangan relevansinya.
“Bioskop bisa tutup lama-lama kalau orang sudah mulai nonton langsung di gadget,” ujarnya di Jakarta.
Ia pun mendorong regulasi yang memberi hak eksklusif penayangan film di bioskop selama empat bulan. Tujuannya sederhana: memberi ruang napas bagi bioskop agar tetap hidup di tengah gempuran platform streaming.
Sistem Pasar yang “Kejam” untuk Film Lokal
Masalahnya, kondisi industri film Indonesia tidak sesederhana itu.
Saat ini, film yang tayang di bioskop sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar. Artinya, film yang tidak cepat menarik penonton akan langsung tersingkir.
Produser akhirnya mengambil jalan lain: menjual hak siar ke platform streaming.
Pengamat film Hikmat Darmawan menyebut sistem ini bekerja seperti mesin tanpa kompromi.
“Kalau okupansi di bawah 10 persen, film bisa langsung diturunkan. Bahkan di hari kedua penayangan,” jelasnya.
Menurutnya, sistem ini tidak memberi ruang bagi film untuk berkembang secara organik. Kualitas bukan lagi satu-satunya faktor, tapi kecepatan menarik massa.
Layar Terbatas, Produksi Melimpah
Di sisi lain, jumlah layar bioskop di Indonesia masih terbatas. Sementara produksi film terus meningkat.
Akibatnya, persaingan menjadi tidak sehat. Film saling “berebut waktu hidup” di layar, bukan lagi bersaing secara kualitas.
“Secara hukum film harus diputar, tapi tidak ada aturan kapan. Ada yang baru tayang setelah bertahun-tahun,” kata Hikmat.
Kondisi ini jelas merugikan, terutama bagi investor baru yang berharap perputaran cepat.
Belajar dari Negara Lain
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia.
Fadli mencontohkan kondisi di Eropa dan Korea Selatan, di mana jumlah penonton bioskop terus menurun. Bahkan, banyak bioskop yang terpaksa tutup.
Streaming bukan lagi alternatif. Ia sudah menjadi kebiasaan.
Antara Regulasi dan Perubahan Perilaku
Pertanyaannya sekarang: apakah regulasi bisa mengubah kebiasaan?
Atau justru penonton sudah terlalu nyaman dengan fleksibilitas menonton di genggaman?
Industri film kini tidak hanya berhadapan dengan teknologi, tapi juga perubahan perilaku manusia.
Dan ketika kebiasaan berubah, siapa yang siap beradaptasi bioskop atau penontonnya? @jeje



