• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Jumat, April 3, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Vibes

Batukaras: Liburan yang Nggak Pamer, Tapi Diam-Diam Nyembuhin

April 3, 2026
in Vibes
A A
Batukaras: Liburan yang Nggak Pamer, Tapi Diam-Diam Nyembuhin

Batukaras sempat jadi bahan omongan. Seorang influencer menyebutnya kampung dan tertinggal. (Foto: Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Dulu, orang liburan pakai checklist datang, foto, upload, lalu pulang. Sekarang, banyak orang mulai lelah terlihat bahagia terus-menerus.

Di tengah tren healing, staycation, dan digital detox, pola baru mulai terlihat. Akibatnya, banyak orang ingin hilang sebentar. Mereka tidak benar-benar kabur dari hidup, melainkan mencoba menurunkan tempo yang terasa terlalu cepat.

Menariknya, orang-orang tidak lagi melirik Bali atau Lombok. Sebaliknya, mereka memilih Batukaras tempat yang tidak semua orang kenal, tapi punya daya tarik yang sulit dijelaskan.

Slow Living: Tren atau Kebutuhan?

Kita sering menyebutnya slow living. Kedengarannya estetik. Namun, di Batukaras, orang benar-benar menjalaninya.

Pagi dimulai dengan suara ombak, bukan alarm. Lalu, siang berjalan tanpa tekanan berlebihan. Sementara itu, sore diisi obrolan santai tanpa agenda.

Di sini, orang mengatur waktunya sendiri. Mereka tidak mengejar jam, melainkan menikmati ritme.

Karena itu, banyak pelancong memilih tinggal lebih lama. Mereka tidak sekadar liburan, tetapi juga mencari jeda. Mereka tetap bekerja, membuka laptop di pinggir pantai, namun tidak membawa beban yang sama seperti di kota. Alhasil, hidup terasa lebih ringantanpa perlombaan.

RelatedPosts

Raja Islam Membantai Ulama? Sejarah atau Framing Kolonial?

Jalir, Lanji, dan Juru Pajak Seks di Balik Sistem Jawa Kuno

Generasi yang Capek Jadi Sibuk

Kalau kamu perhatikan, Batukaras tidak menarik turis yang terburu-buru. Sebaliknya, tempat ini menarik mereka yang ingin tinggal.

Freelancer, remote worker, sampai orang yang mengalami burnout datang dengan alasan yang sama: mereka ingin bernapas lebih lega. Karena itu, mereka memilih menetap lebih lama.

Mereka menyewa villa kayu, lalu mengikuti ritme desa. Pagi mereka surfing. Kemudian, siang mereka bekerja. Setelah itu, sore mereka berbincang santai.

Tidak ada yang berlebihan. Namun, justru itu yang terasa jujur. Pada akhirnya, kita sering tidak butuh tempat baru. Sebaliknya, kita hanya butuh cara hidup yang berbeda.

Batukaras: Liburan yang Nggak Pamer, Tapi Diam-Diam Nyembuhin
Batukaras memberi ruang untuk berhenti Tanpa tekanan dan tuntutan.

Kampung atau Justru Versi Jujur dari Liburan?

Seorang influencer sempat menyebut Batukaras sebagai “kampung” dan “tertinggal”. Komentar itu memicu reaksi, dan sekaligus membuka satu ironi.

Banyak orang masih mengukur liburan dari kemewahan dan keramaian. Padahal, tidak semua orang membutuhkan itu.

Warga lokal dan netizen langsung membela. Sebab, mereka memahami kesederhanaan Batukaras sebagai identitas, bukan kekurangan.

Seperti kata Laura Herwati, tempat ini memang bukan untuk semua orang. Justru karena itu, Batukaras terasa jujur.

Batukaras: Liburan yang Nggak Pamer, Tapi Diam-Diam Nyembuhin
Batukaras Menawarkan keindahan yang tidak kalah dengan Pangandaran

Kita Pergi untuk Pamer, atau untuk Pulang?

Sekarang, coba jawab. Kamu liburan untuk apa? Untuk mengisi galeri? Atau justru untuk mengosongkan kepala?

Batukaras tidak menawarkan resort mewah. Selain itu, tempat ini juga tidak menyediakan spot Instagramable di setiap sudut.

Namun, Batukaras memberi ruang untuk berhenti. Tanpa tekanan. Tanpa tuntutan.

Di dunia yang bergerak cepat, ruang seperti ini jadi semakin langka. Oleh karena itu, nilainya terasa lebih mahal.

Mungkin, yang Kita Butuh Bukan Liburan

Pada akhirnya, pertanyaannya berubah. Kita tidak selalu butuh perjalanan jauh. Sebaliknya, kita hanya butuh hidup yang tidak terlalu cepat.

Kalau kamu harus pergi untuk menyadari itu, Batukaras sudah menunggu.

Bukan dengan gemerlap. Melainkan dengan ketenangan yang apa adanya. Sekarang, pilihannya ada di kamu ingin pergi atau sebenarnya ingin pulang?. @teguh

Tags: BatukarasChecklissdesaHealingInfluencerInstagramableKampungLaptopLiburanReaksiSantaiSlow LivingSpotStaycationSurfingVilla

Recommended

Mutasi Elite TNI Bergerak: Regenerasi atau Sekadar Rotasi Kekuasaan?

Mutasi Elite TNI Bergerak: Regenerasi atau Sekadar Rotasi Kekuasaan?

Maret 27, 2026
Kata yang Tak Bisa Ditarik Kembali di Ketinggian 30 Ribu Kaki

Kata yang Tak Bisa Ditarik Kembali di Ketinggian 30 Ribu Kaki

April 1, 2026

Popular News

  • Topeng Monyet: Di Balik Aksi Lucu, Ada Realita yang Pahit

    Topeng Monyet: Di Balik Aksi Lucu, Ada Realita yang Pahit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tiga Salib Berdiri: Satu Jadi Simbol, Dua Lainnya Dihapus dari Narasi?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jumat Agung: Saat Kasih Terbesar Justru Datang dari Luka Terdalam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pembantaian Ulama di Era Amangkurat I: Fakta Sejarah atau Narasi yang Dibesar-besarkan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penyaliban Tidak Pernah Mati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.