Tabooo.id: Vibes – Dulu, orang liburan pakai checklist datang, foto, upload, lalu pulang. Sekarang, banyak orang mulai lelah terlihat bahagia terus-menerus.
Di tengah tren healing, staycation, dan digital detox, pola baru mulai terlihat. Akibatnya, banyak orang ingin hilang sebentar. Mereka tidak benar-benar kabur dari hidup, melainkan mencoba menurunkan tempo yang terasa terlalu cepat.
Menariknya, orang-orang tidak lagi melirik Bali atau Lombok. Sebaliknya, mereka memilih Batukaras tempat yang tidak semua orang kenal, tapi punya daya tarik yang sulit dijelaskan.
Slow Living: Tren atau Kebutuhan?
Kita sering menyebutnya slow living. Kedengarannya estetik. Namun, di Batukaras, orang benar-benar menjalaninya.
Pagi dimulai dengan suara ombak, bukan alarm. Lalu, siang berjalan tanpa tekanan berlebihan. Sementara itu, sore diisi obrolan santai tanpa agenda.
Di sini, orang mengatur waktunya sendiri. Mereka tidak mengejar jam, melainkan menikmati ritme.
Karena itu, banyak pelancong memilih tinggal lebih lama. Mereka tidak sekadar liburan, tetapi juga mencari jeda. Mereka tetap bekerja, membuka laptop di pinggir pantai, namun tidak membawa beban yang sama seperti di kota. Alhasil, hidup terasa lebih ringantanpa perlombaan.
Generasi yang Capek Jadi Sibuk
Kalau kamu perhatikan, Batukaras tidak menarik turis yang terburu-buru. Sebaliknya, tempat ini menarik mereka yang ingin tinggal.
Freelancer, remote worker, sampai orang yang mengalami burnout datang dengan alasan yang sama: mereka ingin bernapas lebih lega. Karena itu, mereka memilih menetap lebih lama.
Mereka menyewa villa kayu, lalu mengikuti ritme desa. Pagi mereka surfing. Kemudian, siang mereka bekerja. Setelah itu, sore mereka berbincang santai.
Tidak ada yang berlebihan. Namun, justru itu yang terasa jujur. Pada akhirnya, kita sering tidak butuh tempat baru. Sebaliknya, kita hanya butuh cara hidup yang berbeda.

Kampung atau Justru Versi Jujur dari Liburan?
Seorang influencer sempat menyebut Batukaras sebagai “kampung” dan “tertinggal”. Komentar itu memicu reaksi, dan sekaligus membuka satu ironi.
Banyak orang masih mengukur liburan dari kemewahan dan keramaian. Padahal, tidak semua orang membutuhkan itu.
Warga lokal dan netizen langsung membela. Sebab, mereka memahami kesederhanaan Batukaras sebagai identitas, bukan kekurangan.
Seperti kata Laura Herwati, tempat ini memang bukan untuk semua orang. Justru karena itu, Batukaras terasa jujur.

Kita Pergi untuk Pamer, atau untuk Pulang?
Sekarang, coba jawab. Kamu liburan untuk apa? Untuk mengisi galeri? Atau justru untuk mengosongkan kepala?
Batukaras tidak menawarkan resort mewah. Selain itu, tempat ini juga tidak menyediakan spot Instagramable di setiap sudut.
Namun, Batukaras memberi ruang untuk berhenti. Tanpa tekanan. Tanpa tuntutan.
Di dunia yang bergerak cepat, ruang seperti ini jadi semakin langka. Oleh karena itu, nilainya terasa lebih mahal.
Mungkin, yang Kita Butuh Bukan Liburan
Pada akhirnya, pertanyaannya berubah. Kita tidak selalu butuh perjalanan jauh. Sebaliknya, kita hanya butuh hidup yang tidak terlalu cepat.
Kalau kamu harus pergi untuk menyadari itu, Batukaras sudah menunggu.
Bukan dengan gemerlap. Melainkan dengan ketenangan yang apa adanya. Sekarang, pilihannya ada di kamu ingin pergi atau sebenarnya ingin pulang?. @teguh



