Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Anak Tantrum Saat Gadget Diambil? Ini yang Terjadi di Otaknya

by jeje
April 2, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Banyak orang tua menghadapi situasi yang sama. Anak tiba-tiba marah, menangis, bahkan berteriak saat orang tua menghentikan penggunaan gadget. Sekilas terlihat seperti pembangkangan tapi kenyataannya, reaksi itu jauh lebih kompleks.

Psikolog Eka Renny Yustisia menjelaskan, paparan konten digital yang terus-menerus membuat otak anak terbiasa menerima lonjakan cepat hormon kesenangan atau dopamin. Saat orang tua menghentikan akses itu secara mendadak, emosi anak langsung turun drastis.

Di titik ini, anak tidak sekadar “ngambek”. Tubuhnya sedang bereaksi.

Otak Anak Terbiasa dengan Stimulus Instan

Video pendek, game interaktif, dan media sosial memberi kesenangan dalam hitungan detik. Anak kemudian mengulang pengalaman itu terus-menerus, kondisi ini membentuk pola stimulasi tinggi di otak.

Saat orang tua menghentikan aktivitas tersebut secara tiba-tiba, anak kehilangan sumber kesenangan, situasi ini memicu reaksi seperti putus dari kebiasaan menyenangkan.

Ini Belum Selesai

Kekerasan di Kampus Naik: Yang Rusak Bukan Hanya Korban, Tapi Kepercayaan

Kenapa Guru Harus Demonstrasi untuk Didengar?

Akibatnya, anak bisa:

  • Marah
  • Menangis
  • Sulit tenang
  • Menolak komunikasi

Tantrum di sini bukan soal sikap buruk. Anak belum mampu mengelola rasa kecewa dan frustrasi.

Validasi Emosi, Jangan Langsung Menghakimi

Banyak orang tua langsung memarahi anak saat tantrum muncul. Padahal, reaksi ini justru memperburuk keadaan.

Eka menyarankan orang tua untuk memvalidasi emosi anak tanpa membenarkan perilakunya.

“Kami menyarankan orang tua untuk memvalidasi emosi anak tanpa membenarkan perilaku. Orang tua perlu menunjukkan empati agar sistem emosinya perlahan menjadi lebih tenang,” ujarnya dikutip dari ANTARA, Rabu (1/4/2026).

Orang tua bisa menggunakan kalimat sederhana:
“Ibu tahu kamu masih ingin bermain dan merasa kesal karena harus berhenti.”

Kalimat ini membantu anak merasa didengar. Setelah emosi anak turun, orang tua bisa menjelaskan aturan dengan lebih efektif.

Gunakan Teknik Transisi, Jangan Mendadak

Banyak konflik muncul karena orang tua langsung mengambil gadget tanpa peringatan.

Cara ini memicu penolakan yang lebih besar, orang tua sebaiknya memberi batas waktu sebelum aktivitas berakhir. Misalnya:

  • “5 menit lagi selesai ya”
  • “Satu game terakhir, setelah itu berhenti”

Pendekatan ini membantu anak menyiapkan diri. Selain itu, rutinitas yang konsisten membuat anak lebih mudah memahami aturan.

Terapkan Detoks Digital Bersama

Anak tidak hanya mendengar aturan, mereka meniru kebiasaan. Kalau orang tua terus memegang gadget saat makan atau sebelum tidur, anak akan sulit menerima pembatasan.

Karena itu, keluarga perlu menerapkan detoks digital bersama:

  • Tidak menggunakan gadget saat makan
  • Tidak membuka layar sebelum tidur
  • Menentukan jam tanpa perangkat

Anak lebih mudah mengikuti aturan saat melihat contoh nyata.

Ganti Gadget dengan Aktivitas Nyata

Mengambil gadget tanpa alternatif hanya akan memicu konflik baru.

Sebaliknya, orang tua perlu mengalihkan perhatian anak ke aktivitas lain:

  • Bermain di luar rumah
  • Bersepeda
  • Menggambar
  • Bermain bersama keluarga

Aktivitas seperti panahan juga bisa melatih fokus dan kesabaran, dengan cara ini anak tetap mendapat stimulasi tanpa bergantung pada layar.

Konten Juga Harus Dikontrol

Durasi bukan satu-satunya masalah jenis konten juga berpengaruh besar. Konten dengan perubahan cepat membuat otak anak semakin terbiasa dengan stimulasi tinggi. Akibatnya, anak semakin sulit berhenti.

Orang tua perlu:

  • Memilih konten sesuai usia
  • Menghindari konten dengan pergantian cepat
  • Membatasi rangsangan visual dan audio berlebihan

Kontrol ini membantu anak menjaga keseimbangan emosi.

Penutup

Tantrum saat gadget dihentikan bukan sekadar masalah perilaku. Anak sedang belajar mengelola emosi di dunia yang serba instan.

Sekarang pertanyaannya, orang tua mau terus menyalahkan anak, atau mulai mengubah cara mendampingi mereka? @jeje

Kamu Melewatkan Ini

25 Minimarket Ditutup: Kenapa Pemerintah Baru Tegas Setelah Ritel Menjamur?

25 Minimarket Ditutup: Kenapa Pemerintah Baru Tegas Setelah Ritel Menjamur?

by teguh
Mei 22, 2026

Pemkab Lombok Tengah memilih langkah tegas. Pemerintah menghentikan operasional 25 Minimarket karena lokasi mereka melanggar aturan zonasi pasar rakyat. Tabooo.id...

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

by teguh
Mei 22, 2026

"Kalau aturan ditegakkan, siapa menjaga nasib pekerja?" Pertanyaan itu kini menggantung di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pemkab Lombok...

Kalau Niatnya Baik, Masih Salah Pakai Nama Yakuza?

Kalau Niatnya Baik, Masih Salah Pakai Nama Yakuza?

by teguh
Mei 22, 2026

Nama “Yakuza” selama ini identik dengan bayangan dunia kriminal Jepang: kekerasan, mafia, dan ketakutan. Namun di Kediri, Jawa Timur, nama...

Next Post
Bumi Manusia: Cermin Ketidakadilan yang Masih Hidup

Bumi Manusia: Cermin Ketidakadilan yang Masih Hidup

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

Februari 4, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026

Wacana Beras Satu Harga, Bulog Buka Kartu Soal Rugi

Desember 30, 2025

Kota Sehat, Papua Sekarat: Ironi Layanan Kesehatan Indonesia

November 27, 2025
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id