Tabooo.id: Life – Banyak orang tua menghadapi situasi yang sama. Anak tiba-tiba marah, menangis, bahkan berteriak saat orang tua menghentikan penggunaan gadget. Sekilas terlihat seperti pembangkangan tapi kenyataannya, reaksi itu jauh lebih kompleks.
Psikolog Eka Renny Yustisia menjelaskan, paparan konten digital yang terus-menerus membuat otak anak terbiasa menerima lonjakan cepat hormon kesenangan atau dopamin. Saat orang tua menghentikan akses itu secara mendadak, emosi anak langsung turun drastis.
Di titik ini, anak tidak sekadar “ngambek”. Tubuhnya sedang bereaksi.
Otak Anak Terbiasa dengan Stimulus Instan
Video pendek, game interaktif, dan media sosial memberi kesenangan dalam hitungan detik. Anak kemudian mengulang pengalaman itu terus-menerus, kondisi ini membentuk pola stimulasi tinggi di otak.
Saat orang tua menghentikan aktivitas tersebut secara tiba-tiba, anak kehilangan sumber kesenangan, situasi ini memicu reaksi seperti putus dari kebiasaan menyenangkan.
Akibatnya, anak bisa:
- Marah
- Menangis
- Sulit tenang
- Menolak komunikasi
Tantrum di sini bukan soal sikap buruk. Anak belum mampu mengelola rasa kecewa dan frustrasi.
Validasi Emosi, Jangan Langsung Menghakimi
Banyak orang tua langsung memarahi anak saat tantrum muncul. Padahal, reaksi ini justru memperburuk keadaan.
Eka menyarankan orang tua untuk memvalidasi emosi anak tanpa membenarkan perilakunya.
“Kami menyarankan orang tua untuk memvalidasi emosi anak tanpa membenarkan perilaku. Orang tua perlu menunjukkan empati agar sistem emosinya perlahan menjadi lebih tenang,” ujarnya dikutip dari ANTARA, Rabu (1/4/2026).
Orang tua bisa menggunakan kalimat sederhana:
“Ibu tahu kamu masih ingin bermain dan merasa kesal karena harus berhenti.”
Kalimat ini membantu anak merasa didengar. Setelah emosi anak turun, orang tua bisa menjelaskan aturan dengan lebih efektif.
Gunakan Teknik Transisi, Jangan Mendadak
Banyak konflik muncul karena orang tua langsung mengambil gadget tanpa peringatan.
Cara ini memicu penolakan yang lebih besar, orang tua sebaiknya memberi batas waktu sebelum aktivitas berakhir. Misalnya:
- “5 menit lagi selesai ya”
- “Satu game terakhir, setelah itu berhenti”
Pendekatan ini membantu anak menyiapkan diri. Selain itu, rutinitas yang konsisten membuat anak lebih mudah memahami aturan.
Terapkan Detoks Digital Bersama
Anak tidak hanya mendengar aturan, mereka meniru kebiasaan. Kalau orang tua terus memegang gadget saat makan atau sebelum tidur, anak akan sulit menerima pembatasan.
Karena itu, keluarga perlu menerapkan detoks digital bersama:
- Tidak menggunakan gadget saat makan
- Tidak membuka layar sebelum tidur
- Menentukan jam tanpa perangkat
Anak lebih mudah mengikuti aturan saat melihat contoh nyata.
Ganti Gadget dengan Aktivitas Nyata
Mengambil gadget tanpa alternatif hanya akan memicu konflik baru.
Sebaliknya, orang tua perlu mengalihkan perhatian anak ke aktivitas lain:
- Bermain di luar rumah
- Bersepeda
- Menggambar
- Bermain bersama keluarga
Aktivitas seperti panahan juga bisa melatih fokus dan kesabaran, dengan cara ini anak tetap mendapat stimulasi tanpa bergantung pada layar.
Konten Juga Harus Dikontrol
Durasi bukan satu-satunya masalah jenis konten juga berpengaruh besar. Konten dengan perubahan cepat membuat otak anak semakin terbiasa dengan stimulasi tinggi. Akibatnya, anak semakin sulit berhenti.
Orang tua perlu:
- Memilih konten sesuai usia
- Menghindari konten dengan pergantian cepat
- Membatasi rangsangan visual dan audio berlebihan
Kontrol ini membantu anak menjaga keseimbangan emosi.
Penutup
Tantrum saat gadget dihentikan bukan sekadar masalah perilaku. Anak sedang belajar mengelola emosi di dunia yang serba instan.
Sekarang pertanyaannya, orang tua mau terus menyalahkan anak, atau mulai mengubah cara mendampingi mereka? @jeje



