Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gerindra 18 Tahun: Dari Cibiran ke Pusat Kekuasaan

by Anisa
Februari 7, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasioanal – Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) genap berusia 18 tahun pada 6 Februari 2026. Usia ini menandai fase kedewasaan sebuah partai yang sejak lahir kerap dicap nekat, diragukan, bahkan diremehkan. Namun kini, arah cerita berubah. Gerindra berdiri sebagai kekuatan utama politik nasional sekaligus kendaraan ideologis Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto.

Dengan kata lain, partai yang dulu dianggap eksperimen kini justru mengemudi negara.

Manifesto Besar, Risiko Besar

Sejak awal, Gerindra mengusung manifesto ambisius: kemandirian ekonomi, kedaulatan politik, dan pembangunan karakter bangsa. Di atas kertas, gagasan ini terdengar heroik. Namun di lapangan, jalannya penuh rintangan. Terlebih lagi, publik melekatkan Gerindra pada satu figur sentral: Prabowo Subianto.

Sebagai pemimpin nasionalis-populis, Prabowo tampil konsisten membawa narasi kerakyatan. Meski demikian, ia juga memikul kontroversi dan resistensi politik yang tidak kecil.

Nama Besar dan Beban Sejarah

Prabowo tidak datang dari ruang hampa. Ia adalah putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo dan menantu Presiden Soeharto. Warisan ini memberinya modal simbolik, tetapi sekaligus membebaninya dengan sejarah panjang Orde Baru.

Ini Belum Selesai

Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran di DPRD DIY Diwarnai Kericuhan

Aksi Mahasiswa di Yogyakarta: Gedung Dewan Terbuka, Jawaban Kebijakan Masih Dinanti

Karena itu, setiap langkah politik Prabowo selalu berada di bawah sorotan. Ia bukan hanya diuji sebagai politisi, tetapi juga sebagai representasi masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Kalah Dulu, Baru Mendirikan Jalan

Faktanya, jalan Prabowo menuju kekuasaan tidak dimulai dari karpet merah. Pada 2004, ia kalah di Konvensi Capres Partai Golkar. Elite partai menolak gagasan ekonomi kerakyatannya yang menekankan pertanian sebagai fondasi industrialisasi. Golkar memilih Wiranto.

Alih-alih menyerah, Prabowo memilih keluar dari zona nyaman. Pada 2008, ia mendirikan Gerindra. Saat itu, banyak pihak menilai langkah ini irasional. Prabowo meninggalkan partai besar demi membangun kendaraan politik dari nol.

Yang diuntungkan dari keputusan ini adalah kader-kader yang mendambakan alternatif. Sebaliknya, status quo politik lama justru merasa terusik.

Konsistensi yang Mengubah Persepsi

Seiring waktu, cap “nekat” berubah menjadi bukti konsistensi. Gerindra selalu lolos parliamentary threshold dan terus menaikkan perolehan suara:

  • 2009: 4,46% (26 kursi)
  • 2014: 11,81% (73 kursi)
  • 2019: 12,57% (78 kursi)
  • 2024: 13,22% (86 kursi)

Tren ini memperlihatkan satu realitas politik: Gerindra dan Prabowo sulit dipisahkan. Prabowo bukan sekadar ketua umum, melainkan simbol ideologis partai.

Di satu sisi, personifikasi ini memperkuat militansi dan loyalitas kader. Di sisi lain, partai menjadi sangat bergantung pada satu figur. Namun sejauh ini, mesin itu terus berjalan.

Dari Narasi ke Kebijakan

Setelah Prabowo resmi menjadi Presiden, dampak politik Gerindra langsung menyentuh masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis, sekolah rakyat, pemeriksaan kesehatan gratis, kenaikan gaji guru, hingga penertiban kawasan hutan menunjukkan terjemahan konkret manifesto lama.

Negara kini memihak masyarakat bawah anak sekolah, guru, petani, dan warga pinggiran. Pada saat yang sama, negara mencabut kenyamanan kelompok elite yang selama ini hidup dari kebijakan setengah hati.

Oposisi Rasional dan Politik Belajar

Menariknya, Gerindra tidak pernah memainkan oposisi buta. Saat berada di luar pemerintahan, partai ini tetap mendukung kebijakan pro-rakyat dan aktif mengkritik kebijakan yang melenceng. Selain itu, tiga kali kekalahan Prabowo di Pilpres justru menjadi ruang evaluasi, bukan alasan perpecahan.

Kekalahan itu mengeras menjadi daya tahan politik dan loyalitas ideologis.

Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai

Kini, di usia 18 tahun, Gerindra bukan lagi partai pendatang baru. Ia telah merasakan pahitnya oposisi dan manisnya kekuasaan. Namun pertanyaan terpenting justru muncul sekarang apakah konsistensi ideologis itu mampu bertahan ketika kekuasaan sudah digenggam penuh?

Sebab sejarah politik Indonesia berulang kali mengingatkan, banyak partai tidak runtuh saat kalah melainkan saat terlalu lama merasa menang. @tabooo

Tags: GerindraPartaiPrabowo SubiantoSugiono

Kamu Melewatkan Ini

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

by teguh
Oktober 19, 2026

Diplomasi sering dimulai dari sebuah jabat tangan. Dua tokoh bertemu yaitu, Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang kamera merekam, lalu pernyataan...

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

by teguh
Oktober 19, 2026

Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, di kediaman pribadinya di Hambalang, Jawa Barat, Minggu...

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

by eko
Oktober 18, 2026

Survei SMRC mencatat kepuasan publik terhadap Prabowo turun menjadi 44,5 persen. Harga sembako, ekonomi, penegakan hukum, dan program pemerintah menjadi...

Next Post
Jalur Impor yang Direkayasa: Barang KW dan Wajah Gelap Bea Cukai

Jalur Impor yang Direkayasa: Barang KW dan Wajah Gelap Bea Cukai

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id