Tabooo.id: Deep – Menjelang senja, langkah kaki satu per satu memenuhi Padepokan Agung Persaudaraan Setia Hati Terate di Jalan Merak, Kota Madiun. Para delegasi datang dengan wajah berbeda-beda, namun membawa tujuan yang sama. Ada yang menempuh perjalanan darat berjam-jam. Ada pula yang terbang lintas negara. Semua berhenti di satu titik rumah besar bernama PSHT.
Jumat (6/2/2026) petang, padepokan ini kembali hidup. PSHT resmi membuka Parapatan Luhur 2026, forum tertinggi organisasi. Di ruang inilah para sedulur akan menentukan arah kebijakan, kepemimpinan, dan wajah PSHT untuk lima tahun ke depan. Namun lebih dari itu, forum ini juga menjadi ruang sunyi untuk bertanya masihkah persaudaraan mampu bertahan di tengah zaman yang kian terbelah?
Tema yang diusung tidak lahir dari euforia. “Meneguhkan Jati Diri SH Terate untuk Memperkokoh Solidaritas Organisasi dan Memperkuat Jiwa Nasionalisme”, mencerminkan kegelisahan yang nyata. PSHT melihat fragmentasi sosial semakin dalam. Di saat yang sama, tarik-menarik kepentingan politik dan pergeseran nilai generasi muda terus menguji daya tahan organisasi.

Organisasi Besar, Tantangan yang Tak Kecil
PSHT berdiri sebagai organisasi besar dengan ratusan ribu anggota. Cabangnya tersebar di seluruh Indonesia hingga 35 negara. Karena itu, Parapatan Luhur tidak pernah menjadi urusan internal semata. Setiap keputusan selalu memantul ke banyak arah.
Ratusan delegasi hadir mewakili 375 cabang dari dalam dan luar negeri. Kehadiran Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Plt Wali Kota Madiun Bagus Panuntun, serta jajaran kepolisian daerah mempertegas skala nasional forum ini. Negara ikut memantau. Publik ikut menilai.
Namun, di balik sambutan resmi dan deretan kursi kehormatan, kegelisahan lain bergerak diam-diam. Banyak anggota bertanya apakah organisasi sebesar ini masih mampu menjaga jarak dari kepentingan luar tanpa kehilangan relevansi sosial.
Madiun, Titik Pulang yang Sarat Makna
PSHT tidak memilih Kota Madiun secara kebetulan. Kota ini menjadi titik awal kelahiran dan pertumbuhan organisasi. Dengan kembali ke pusat sejarahnya, PSHT ingin menegaskan akar sekaligus merawat ingatan kolektif.
Ketua Umum PSHT Kangmas R. Moerdjoko HW menegaskan pentingnya Parapatan Luhur sebagai agenda wajib lima tahunan.
“Parluh adalah agenda organisasi yang harus dilaksanakan lima tahun sekali. Di PSHT, kita membangun persaudaraan dari hati ke hati,” tegasnya.
Ia kemudian menambahkan nilai dasar yang terus dijaga PSHT.
“Persaudaraan tidak membedakan ras, suku, maupun agama. Kita membangun persaudaraan sesama umat manusia.” tambahnya.
Dalam konteks sosial hari ini, pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi menuntut konsistensi tinggi. Karena itu, Moerdjoko juga menegaskan posisi PSHT yang tidak terikat politik praktis.
“PSHT berkomitmen pada ajaran pendiri kami, Ki Hardjo Utomo, yaitu cinta tanah air dan bangsa. Kami memilih untuk tidak terikat dengan partai politik atau ormas mana pun.” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi penanda sikap sekaligus benteng. PSHT berusaha berdiri sebagai ruang persaudaraan, bukan alat kekuasaan.
Forum Penentu Arah, Bukan Sekadar Seremoni
Bagi Ketua Dewan Pusat PSHT Kangmas Issoebiantoro, Parapatan Luhur bukan sekadar perayaan organisasi. Forum ini memikul tanggung jawab besar.
“Parapatan Luhur akan menentukan kebijakan organisasi lima tahun mendatang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa PSHT tidak hanya mendidik kemampuan fisik, tetapi juga membentuk manusia berbudi luhur dan berperan dalam pembangunan mental bangsa. Namun ia juga mengingatkan bahwa nilai tidak akan bertahan tanpa pembaruan cara.
“PSHT harus menemukan jati diri yang sebenarnya,” jelasnya.
Menurutnya, PSHT memiliki potensi besar untuk menjadi contoh persatuan lintas suku dan bangsa. Namun potensi itu hanya akan hidup jika organisasi mampu menjawab tantangan zaman secara profesional dan terbuka.
Negara Hadir, Generasi Muda Menjadi Taruhan
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi PSHT dalam dunia pencak silat dan kerja sosial.
“Saya bangga dengan sumbangsih PSHT, baik untuk pencak silat maupun masyarakat,” ujarnya.
Namun Emil juga menyelipkan harapan besar pada generasi muda. Ia mendorong kader muda PSHT untuk mengambil peran lebih aktif. Harapan ini lahir dari kesadaran bahwa organisasi nilai hanya akan bertahan jika mampu berbicara dengan bahasa zaman.
Di titik inilah dilema muncul. PSHT harus beradaptasi dengan dunia digital tanpa mengorbankan nilai dasar. Jika terlalu kaku, organisasi akan ditinggalkan. Sebaliknya, jika terlalu longgar, jati diri bisa memudar.
Akar Rumput Menanggung Keputusan
Keputusan Parapatan Luhur tidak berhenti di meja sidang. Ia mengalir hingga ke ranting-ranting. Pelatih, siswa, dan pengurus tingkat bawah akan merasakan langsung dampaknya.
Pola pembinaan, kurikulum latihan, hingga arah kaderisasi bergantung pada keputusan forum ini. Karena itu, akar rumput menjadi pihak yang paling terdampak, meski jarang bersuara di forum besar.
Di sisi lain, Parluh 2026 juga menggerakkan ekonomi lokal. Hotel penuh, warung makan ramai, dan UMKM ikut berputar. Namun dampak ekonomi ini hanya berlangsung sementara. Sebaliknya, dampak kebijakan akan membekas jauh lebih lama.
Sistem Diam, Nilai Diuji
Di sinilah refleksi menjadi penting. Banyak organisasi berbicara tentang persaudaraan, tetapi lupa membangun sistem yang adil dan adaptif. Konflik sering kali tidak lahir dari niat buruk, melainkan dari struktur yang tertinggal.
Parapatan Luhur seharusnya menjadi ruang kejujuran. Bukan hanya untuk memilih pemimpin, tetapi juga untuk memastikan nilai benar-benar hidup dalam kebijakan.
Jika tidak, persaudaraan akan berhenti sebagai slogan. Sistem akan terus berjalan, tetapi kehilangan ruh.
Pertanyaan yang Tersisa Setelah Forum Usai
Parapatan Luhur 2026 akan berakhir. Kepengurusan baru akan terbentuk. Dokumen resmi akan disahkan. Namun pertanyaan paling penting justru muncul setelah forum ditutup.
Apakah keputusan ini akan terasa hingga ke anggota paling bawah? Ataukah ia hanya akan tersimpan rapi dalam arsip organisasi?
Sebab persaudaraan tidak lahir dari tema besar. Ia tumbuh dari konsistensi kecil. Dari keberanian menjaga nilai di tengah tekanan zaman.
Dan ketika padepokan kembali sunyi, PSHT tidak sedang berhadapan dengan lawan di gelanggang. Organisasi ini sedang berhadapan dengan waktu. @dimas







