Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tragedi Gunung Slamet: Kronologi Terpisahnya Syafiq dan Himawan

by dimas
Januari 17, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Regional – Hilangnya pendaki muda Syafiq Ridhan Ali Razani (18) di Gunung Slamet berujung tragedi. Setelah menghilang lebih dari dua pekan, tim SAR menemukan jasadnya pada Rabu (14/1/2026) di lereng selatan gunung tertinggi di Jawa Tengah itu. Namun, penemuan tersebut justru meninggalkan satu pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya terjadi di atas gunung hingga Syafiq dan rekannya, Himawan, terpisah?

Peristiwa ini bukan sekadar kisah pendakian yang berakhir buruk. Sebaliknya, tragedi ini kembali membuka perdebatan lama soal keselamatan pendaki, praktik pendakian tektok, serta kesiapan jalur dan manajemen risiko di gunung-gunung populer Indonesia.

Awal Pendakian yang Pelan, Risiko yang Terabaikan

Syafiq dan Himawan memulai pendakian melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kabupaten Pemalang, pada 28 Desember 2025. Sejak awal, keduanya memilih berjalan kaki menuju basecamp tanpa menggunakan ojek. Akibatnya, perjalanan awal mereka berlangsung lambat dan melelahkan.

Mereka baru tiba di basecamp sekitar pukul 20.00 WIB. Meski begitu, keduanya merasa kondisi fisik masih cukup prima. Cuaca juga terlihat cerah, sehingga tidak ada tanda bahaya yang terasa saat itu. Setelah melakukan registrasi dan beristirahat singkat, mereka memutuskan langsung mendaki tengah malam dengan rencana tektok naik dan turun dalam satu hari.

Belakangan, keputusan inilah yang menuai sorotan dari banyak pendaki senior.

Ini Belum Selesai

Relawan Gugur Antar Bantuan Gempa NTT, Siapa Melindungi Mereka?

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

Puncak Terlambat, Ancaman Mulai Nyata

Pendakian berlangsung relatif lancar hingga Pos 5. Namun, seiring waktu berjalan, risiko perlahan membesar. Syafiq dan Himawan baru mencapai puncak Gunung Slamet sekitar pukul 14.00 WIB jauh melampaui batas waktu aman yang lazim dipahami para pendaki.

“Secara aturan tak tertulis, kalau pukul 10 pagi belum sampai puncak, seharusnya turun,” ujar Abdul Azis dari Wanadri, yang kemudian terlibat langsung dalam pencarian.

Selain itu, Gunung Slamet dikenal memiliki karakter cuaca ekstrem yang dapat berubah cepat. Dalam hitungan menit, langit cerah bisa berganti kabut tebal dan angin kencang. Kondisi inilah yang menyambut Syafiq dan Himawan ketika mereka mulai turun sekitar pukul 15.00 WIB.

Salah Arah dan Awal Disorientasi

Saat menuruni jalur, keduanya tertinggal dari pendaki lain dan menjadi rombongan terakhir yang meninggalkan puncak. Pada saat yang sama, kabut semakin tebal dan jarak pandang menyusut drastis.

Di titik krusial tersebut, mereka salah mengambil arah. Jalur yang seharusnya mengarah ke Dipajaya justru membawa mereka ke sisi Gunung Malang. Sejak itu, disorientasi mulai muncul. Emosi pun ikut memanas. Keduanya sempat saling menyalahkan, meski tetap berusaha bertahan bersama.

Hari beranjak gelap ketika mereka mencapai area bebatuan dan lembahan. Medan menjadi licin, jurang mengintai di sekitar mereka, sementara perlengkapan mulai bermasalah. Senter tidak berfungsi normal, sedangkan emergency blanket dan tas P3K sempat terjatuh.

Akhirnya, malam itu mereka memutuskan bertahan di balik batu besar dengan pakaian seadanya.

Pagi Penentuan dan Detik-detik Perpisahan

Memasuki pagi Senin, 29 Desember 2025, situasi tidak banyak membaik. Kaki Himawan terasa nyeri dan sulit digerakkan. Sebaliknya, Syafiq terlihat masih memiliki tenaga lebih.

Karena itu, Syafiq memilih bergerak lebih dulu untuk mencari bantuan. Sekitar pukul 08.00 WIB, ia melangkah ke arah kanan. Di titik inilah keduanya berpisah.

Tak lama kemudian, Himawan sempat mencoba menyusul, tetapi ia memilih jalur berbeda. Bahkan, dari kejauhan, ia mendengar Syafiq memanggil namanya dari arah bawah jurang. Sayangnya, panggilan itu tak pernah terjawab.

Sejak momen itu, Syafiq benar-benar menghilang.

Bertahan Sendiri dan Kronologi yang Terlambat Utuh

Sementara itu, Himawan bertahan hidup dengan kemampuan survival seadanya. Ia memakan buah cantigi dan dedaunan untuk mengisi tenaga. Pada hari keempat, ia akhirnya bertemu pendaki lain dan berhasil turun dengan bantuan ranger.

Namun, kondisi fisik dan mentalnya sangat buruk. Kelelahan ekstrem dan shock membuat penuturannya tidak runtut. Akibatnya, informasi awal yang beredar pun simpang siur dan menyulitkan proses pencarian.

Situasi berubah ketika Wanadri turun tangan. Abdul Azis mendatangi Himawan langsung di Magelang dan melakukan pendekatan personal tanpa tekanan. Dari situlah kronologi pendakian dan perpisahan keduanya akhirnya terungkap secara lebih utuh.

Tragedi yang Mengulang Pola Lama

Syafiq bukan sekadar korban alam. Ia mencerminkan rapuhnya sistem keselamatan pendakian di gunung-gunung populer. Pendaki muda, jalur ekstrem, keputusan tektok yang dipaksakan, serta minimnya kontrol waktu membentuk kombinasi berbahaya.

Yang paling terdampak tentu keluarga korban. Namun, dampaknya meluas ke komunitas pendaki, relawan SAR, hingga pengelola jalur pendakian yang kembali berada di bawah sorotan publik.

Gunung tidak pernah kejam. Namun, manusia kerap lalai dan sistem sering membiarkannya.

Di Gunung Slamet, satu nyawa kembali hilang. Pertanyaannya kini sederhana, tetapi mendesak berapa banyak lagi korban yang harus jatuh sebelum keselamatan benar-benar menjadi prioritas, bukan sekadar imbauan? @dimas

Tags: Gunung SlametJawa TengahKeselamatanNasionalPemalangpendakianRelawanSAR

Kamu Melewatkan Ini

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Excerpt: Kartu Kredit Indonesia resmi meluncur. Bersamaan dengan itu, BI memperluas MDR QRIS 0% mulai 1 Oktober 2026 untuk transaksi...

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Prabowo meminta RUU Perampasan Aset dipercepat. DPR masih menjaring masukan publik. Tantangannya bukan cuma pengesahan, tetapi memastikan aset hasil kejahatan...

Laporan Ke Polisi Dicabut: Apa yang Sebenarnya Terjadi di SMPN 1 Blora?

Laporan Ke Polisi Dicabut: Apa yang Sebenarnya Terjadi di SMPN 1 Blora?

by teguh
Agustus 16, 2026

Kasus dugaan bullying di SMPN 1 Blora, Jawa Tengah memasuki, memasuki babak baru dimana laporan ke polisi dicabut. Korban berinisial...

Next Post
Konsep Otomatis

KPK Dalami Dugaan Perantara Kuota Haji, Nama Tokoh NU Ikut Disorot

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id