• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Edge

Korupsi Pendidikan di Balik Program Chromebook

Januari 17, 2026
in Edge
A A
Korupsi Pendidikan di Balik Program Chromebook

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, mengikuti sidang dakwaan kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (5/1/2026). (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Di negeri ini, transformasi digital pendidikan ternyata tidak selalu datang lewat cloud atau server. Kadang ia datang diam-diam, masuk ke ruangan, lalu pergi sambil meninggalkan kantong kertas. Bukan berisi modul ajar, bukan juga laptop, melainkan uang tunai Rp 500 juta. Low-tech, tapi sangat membumi.

Cerita ini bukan plot sitkom absurd. Di ruang sidang, Eva menyaksikan bagaimana kantong kertas itu diberikan diam-diam. Kadang ia datang, menyerahkan kantong kertas berisi Rp 50 juta pada 12 Januari 2026, sambil menulis catatan: “Sempat mau dikembalikan, tapi yang memberi tidak mau menerima.” Sebuah dilema klasik birokrasi Indonesia: niat baik kalah cepat dari sistem yang sudah nyaman.

Dari Chromebook ke Kantong Cokelat

Sekretaris Ditjen Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Muhammad Hasbi, mengaku menerima kantong kertas berisi uang Rp 500 juta. Uang itu berasal dari Mariana Susy, rekanan PT Bhinneka Mentari Dimensi, salah satu penyedia Chromebook untuk proyek pengadaan laptop pendidikan.

Dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi Chromebook, Hasbi mengungkapkan pengakuannya sebagai saksi. Sidang itu menyeret tiga terdakwa utama: Ibrahim Arief, Mulyatsyah, dan Sri Wahyuningsih, yang saat itu memegang posisi strategis sebagai konsultan teknologi dan kuasa pengguna anggaran.

Menurut Hasbi, Nia Nurhasanah, Kepala Seksi Sarana Direktorat Pembinaan PAUD sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen, menerima uang itu. Setelah membuka kantong kertas dan melihat isinya, Nia melapor. Hasbi memerintahkan agar uang itu dikembalikan, namun upayanya mentok karena pemberi uang menolak mengambil kembali uangnya.

Akhirnya, Hasbi dan Nia membagi uang itu masing-masing Rp 250 juta. Simpel, efisien, dan tentu saja tidak ada di modul etika aparatur sipil negara.

Ketika “Niat Mengembalikan” Jadi Genre Baru

Indonesia tampaknya butuh kamus baru. Di dalam kantong kertas itu, ia menyisipkan frasa khas birokrasi modern: “uang sempat mau dikembalikan.” Frasa ini ajaib. Ia membuat uang haram berubah status menjadi abu-abu. Uang itu diterima setengah hati, tidak sepenuhnya diterima, tapi juga tidak sepenuhnya ditolak menggantung, seperti revisi kurikulum.

Dalam logika publik, jika sesuatu salah, prosesnya jelas: tolak, lapor, selesai. Namun praktik nyata sering berbeda. Niat baik tersangkut di labirin hierarki, relasi kuasa, dan budaya sungkan. Uang beralih fungsi dari alat suap menjadi “titipan sementara”, dan entah bagaimana mereka membaginya menjadi dua.

Ironisnya, pengakuan ini muncul dalam konteks program digitalisasi pendidikan program yang seharusnya bicara efisiensi, transparansi, dan masa depan anak-anak. Namun di balik layar, sistem lama tetap bekerja: relasi rekanan, pembiaran, dan pembagian sunyi.

Dari Rp 500 Juta ke Rp 2,1 Triliun

Rp 500 juta terdengar besar, tapi dalam kasus Chromebook, angka itu hanyalah remah roti. Berdasarkan dakwaan, Mariana Susy menerima keuntungan hingga Rp 5,1 miliar. PT Bhinneka Mentari Dimensi mencatat penerimaan sekitar Rp 281,6 miliar, dan proyek itu merugikan keuangan negara, menurut dugaan, hingga mencapai Rp 2,1 triliun.

Di titik ini, Rp 250 juta per orang terlihat seperti uang jajan. Namun masalah sesungguhnya: korupsi besar selalu bertumpu pada normalisasi praktik kecil. Ketika orang menganggap kantong kertas wajar, mereka mulai menggunakan koper.

Sistem yang Salah, Bukan Sekadar Orang

Kasus ini mencerminkan pola lama: segelintir elite mengunci kebijakan besar, lalu mengeksekusinya melalui rantai birokrasi yang sulit mengatakan “tidak.” Dalam dakwaan, para terdakwa mengondisikan agar Chromebook menjadi satu-satunya pilihan pengadaan perangkat TIK. Ketika kompetisi mati, harga dan kualitas jadi urusan belakangan; yang utama: siapa dekat dengan siapa.

Publik seharusnya marah bukan hanya karena kehilangan uang, tetapi juga karena kompromi elit mengalahkan akal sehat kebijakan.

Kita Penonton atau Korban?

Masyarakat sering menjadi penonton drama elite. Sidang, kutipan, dan angka fantastis disajikan kepada kita, tapi pihak berwenang jarang mengajak kita membahas dampaknya secara jujur.

RelatedPosts

OTT Episode 9: Serial Korupsi yang Sepertinya Tidak Pernah Tamat

TNI Siaga 1, Publik Bertanya: Ancaman Nyata atau Mode Waspada?

Setiap rupiah yang bocor di proyek pendidikan menghapus waktu belajar, menahan fasilitas, dan mengorbankan kualitas. Anak-anak di daerah tidak tahu bahwa laptop mereka mahal bukan karena teknologinya, tapi karena kantong kertas yang berpindah tangan.

Pendidikan Digital, Moral Analog

Kasus Chromebook mengajarkan satu hal: kita bisa bicara digital sejauh apa pun, tapi kalau moral masih analog, hasilnya tetap error.

Di negeri ini, korupsi tidak selalu datang dengan koper hitam. Kadang ia datang sederhana, bersikap ramah, dan membawa kantong kertas cokelat. Lalu ketika ketahuan, ia berlindung di balik kalimat paling aman sedunia: “Saya sebenarnya mau mengembalikan.”

Sayangnya, niat baik tidak pernah tercatat di neraca negara. @dimas

Tags: anggaranBirokrasiChromebookDigitaldigitalisasiIntegritaskorupsiMariana SusyMuhammad HasbiNadiem MakarimPendidikanSidang TipikorUang Negara
Next Post
Radu Cel Frumos: Si Ganteng di Balik Bayang-Bayang Dracula

Radu Cel Frumos: Si Ganteng di Balik Bayang-Bayang Dracula

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Legian: Jalan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.