Rabu, Oktober 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mahfud MD Ingatkan Potensi Jual-Beli Perkara di KUHP dan KUHAP Baru

by dimas
Januari 4, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Penerapan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru langsung memicu peringatan keras dari kalangan akademisi dan praktisi hukum. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), Mahfud MD, mengingatkan potensi praktik jual-beli perkara jika aparat penegak hukum tidak menjaga integritas saat menjalankan aturan baru tersebut.

Mahfud menyampaikan peringatan itu di tengah perubahan besar sistem peradilan pidana nasional. Ia menilai pembaruan hukum memang membawa harapan perbaikan, tetapi juga membuka risiko serius bila aparat tidak mengawasinya secara ketat dan menjalankannya secara akuntabel.

“Di situ ada beberapa hal yang menjadi pekerjaan rumah kita agar hati-hati memulainya,” ujar Mahfud melalui kanal YouTube pribadinya, @Mahfud MD Official, Sabtu (3/1/2026).

Restorative Justice: Cepat, tapi Perlu Pengawasan Ketat

Mahfud memberi perhatian khusus pada penguatan mekanisme keadilan restoratif atau restorative justice. Skema ini memungkinkan aparat menyelesaikan perkara pidana melalui pendekatan perdamaian tanpa harus membawa kasus ke ruang sidang.

Mahfud menilai mekanisme tersebut memiliki tujuan baik karena dapat mempercepat penyelesaian perkara sekaligus mengurangi beban pengadilan. Namun, karena prosesnya dapat berlangsung di berbagai tingkat mulai dari kepolisian hingga kejaksaan ia menegaskan pentingnya pengawasan yang jauh lebih ketat.

Ini Belum Selesai

Karhutla Gunung Sumbing Meluas, Api Mengancam Hutan dan Permukiman

Komdigi Bantah Shadowban Konten Karhutla, Mengapa Views Kreator Turun?

“Kalau aparat tidak berhati-hati, ruang negosiasi yang tidak sehat bisa muncul,” tegasnya.

Ia menegaskan, keadilan di luar pengadilan hanya akan benar-benar tercapai jika aparat menjalankan prosesnya dengan integritas tinggi dan transparansi penuh.

Plea Bargaining dan Risiko Negosiasi Hukuman

Selain keadilan restoratif, Mahfud juga menyoroti mekanisme plea bargaining atau pengakuan bersalah yang kini masuk dalam KUHAP baru. Melalui skema ini, tersangka atau terdakwa dapat mengakui kesalahan dan menyepakati bentuk serta besaran hukuman, yang kemudian harus mendapat pengesahan hakim.

Mahfud menjelaskan bahwa plea bargaining lazim diterapkan di negara-negara dengan sistem hukum common law. Di Indonesia, mekanisme tersebut diharapkan mampu mempercepat proses hukum dan menekan penumpukan perkara.

Namun, Mahfud mengingatkan bahwa tanpa integritas aparat, mekanisme ini justru berpotensi membuka pintu transaksi perkara.

“Kita harus sangat hati-hati. Jangan sampai terjadi jual-beli perkara dalam plea bargaining maupun restorative justice. Ini bukan sekadar masalah hukum, tetapi masalah negara,” tambahnya.

Aturan Ketat di Atas Kertas, Ujian di Lapangan

KUHAP Nomor 20 Tahun 2025 mengatur plea bargaining dengan istilah “pengakuan bersalah”. Aturan ini hanya berlaku untuk perkara tertentu dengan persyaratan ketat, seperti pelaku yang baru pertama kali melakukan tindak pidana dan ancaman pidana tidak lebih dari lima tahun penjara.

KUHAP juga mewajibkan hakim memastikan pengakuan bersalah dilakukan secara sukarela, tanpa paksaan, dan dengan pemahaman penuh atas konsekuensi hukumnya. Jika para pihak mencapai kesepakatan, hakim hanya boleh menjatuhkan hukuman maksimal dua pertiga dari ancaman pidana tertinggi.

Di atas kertas, Mahfud menilai aturan tersebut tampak rapi dan progresif. Namun, ia mengingatkan bahwa hukum tidak hanya hidup di dalam undang-undang, melainkan bergantung pada integritas para penegaknya.

Dampak bagi Publik: Keadilan atau Diskon Hukuman?

Bagi masyarakat, penerapan KUHP dan KUHAP baru akan berdampak langsung, terutama bagi pencari keadilan yang berhadapan dengan aparat hukum. Tanpa pengawasan yang kuat, mekanisme yang seharusnya mempercepat keadilan justru bisa memicu kecurigaan publik tentang adanya “diskon hukuman” bagi pihak tertentu.

KUHP Nomor 1 Tahun 2023 dan KUHAP Nomor 20 Tahun 2025 memang menandai berakhirnya hukum pidana warisan kolonial. Namun, seperti diingatkan Mahfud, reformasi hukum tidak otomatis melahirkan keadilan.

Pada akhirnya, hukum tidak hanya soal aturan baru, tetapi soal siapa yang menegakkannya dan seberapa kuat mereka menahan godaan lama yang kini hadir dengan kemasan baru. @dimas

Tags: AparatIntegritasKeadilanKriminal & HukumKUHAPKUHPMahfud MDNasionalPenegakanPidanaReformasi

Kamu Melewatkan Ini

Munir di Malioboro: 22 Tahun Berlalu, Pertanyaan Belum Selesai

Munir di Malioboro: 22 Tahun Berlalu, Pertanyaan Belum Selesai

by dimas
September 25, 2026

Munir di Malioboro menghidupkan kembali ingatan tentang perjuangan HAM, 22 tahun setelah kematiannya dan pertanyaan hukum yang belum selesai. Tabooo.id...

Pelanggaran HAM dan Kekuasaan: Mengapa Keadilan Terus Tertunda?

Pelanggaran HAM dan Kekuasaan: Mengapa Keadilan Terus Tertunda?

by dimas
September 1, 2026

Pelanggaran HAM dan kekuasaan terus berhadapan dengan persoalan impunitas. Mengapa keadilan bagi korban tak kunjung tuntas? Tabooo.id - Ada perkara...

Wiji Thukul: 28 Tahun Hilang, Api Perjuangan Tetap Menyala

Wiji Thukul: 28 Tahun Hilang, Api Perjuangan Tetap Menyala

by dimas
September 1, 2026

Wiji Thukul hilang selama 28 tahun. Jejak perjuangan, puisi, dan ingatannya tetap hidup di tengah pertanyaan tentang penghilangan paksa yang...

Next Post
Konsep Otomatis

Jenazah Pelatih Valencia CF Ditemukan di Labuan Bajo

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id