Tabooo.id: Vibes – Di dunia digital yang penuh teori dan nostalgia kosmik, nama Gunung Muria tiba-tiba jadi tren mistis baru. Di TikTok dan forum spiritual, ia disebut “gerbang Lemuria”, benua purba yang konon tenggelam sebelum Atlantis. Video-video dengan musik etnik dan kabut CGI mengklaim bahwa Muria menyimpan rahasia “suku pertama manusia.” Di kolom komentar, ribuan orang menulis doa, teori, bahkan lokasi “portal cahaya” di lereng Rahtawu.
Lucunya, gunung ini bukan sekadar dongeng. Ia nyata, berdiri anggun di utara Jawa Tengah, membelah kabut Kudus, Jepara, dan Pati. Di puncaknya, suara azan bersahut dengan desir hutan. Muria adalah gunung yang hidup, tapi juga penuh legenda, dari kisah Sunan Muria hingga klaim Lemuria.
Jejak yang Nyata, Bayangan yang Diciptakan
Secara ilmiah, Muria dulu memang pernah terpisah dari Pulau Jawa. Ia adalah gunung api kuarter yang berdiri sebagai pulau tersendiri, sebelum proses sedimentasi menyatukannya dengan daratan Demak. Fakta ini sering dijadikan “bukti spiritual” oleh para penganut teori Lemuria: katanya, “pulau yang terpisah” itu adalah sisa benua yang tenggelam.
Padahal, kalau menelusuri penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta dan BP3 Jawa Tengah, yang ditemukan di lerengnya bukan artefak alien atau kristal purba, tapi menhir dan candi: Candi Angin, Candi Bubrah, dan Candi Aso. Ada juga Prasasti Candi Angin dari abad ke-8, bukti bahwa masyarakat di sana sudah punya sistem literasi dan peradaban lokal.
Artinya? Muria bukan “reruntuhan Lemuria”, melainkan ruang hidup manusia nyata dari era megalitik, Hindu-Buddha, hingga Islam. Sejarahnya tidak hilang, ia justru berlapis.
Ketika Sejarah Bertemu Spiritual Marketing
Nama “Lemuria di Muria” muncul bukan dari peneliti, tapi dari figur karismatik bernama Djuyoto Suntani, tokoh perdamaian dunia asal Jepara. Ia membangun Gong Perdamaian Dunia di Desa Plajan dan menyebutnya “Tanah suku Lemuria, leluhur umat manusia.”
Narasi ini mengalir seperti kisah New Age yang manis, bahwa Indonesia adalah pusat spiritual dunia, bahwa kita semua pewaris peradaban tertua di bumi. Dalam versi ini, Jepara bukan cuma tanah kelahiran R.A. Kartini, tapi juga asal mula manusia.
Masalahnya, klaim itu tak punya dasar arkeologis atau geologis. Lemuria sendiri berasal dari teori zoolog Inggris abad ke-19, Philip Sclater, yang cuma ingin menjelaskan kenapa Lemur hidup di Madagaskar tapi tidak di Afrika. Dari situ, imajinasi meluas menjadi legenda benua tenggelam.
Namun dalam kacamata modern, teori Lemuria sudah gugur. Geologi menyebut kerak benua stabil selama ribuan tahun. Tak ada “benua yang hilang” di Samudra Hindia—yang ada hanyalah kisah yang terus dihidupkan oleh mereka yang butuh makna besar di tengah dunia yang terlalu cepat berubah.

Dari Lemuria ke Timeline: Haus Akan Asal-usul
Fenomena “Muria = Lemuria” menarik bukan karena faktanya, tapi karena emosi kolektif di baliknya. Di era digital, kita hidup dalam kecepatan tanpa akar, dan manusia, pada dasarnya, selalu butuh asal-usul. Maka ketika seseorang berkata, “Kita keturunan bangsa cahaya dari Lemuria,” telinga spiritual generasi urban langsung berbinar.
Ada rasa ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih tua dari sejarah, lebih dalam dari agama, dan lebih besar dari politik. Lemuria menawarkan itu semua, mitos yang menenangkan sekaligus estetis, lengkap dengan visual aurora, meditasi kristal, dan narasi penyatuan dunia.
Mungkin itulah kenapa Muria dipilih: ia punya aura purba, tapi tetap bisa dijangkau. Gunung ini tidak liar seperti Semeru, tidak “turistik” seperti Merapi. Ia sakral tapi tenang—tempat di mana doa, kabut, dan legenda bisa bercampur tanpa bertabrakan.
Di Antara Iman dan Imajinasi
Namun di balik romantisme Lemuria, Muria punya kisah yang lebih membumi. Di lerengnya, makam Sunan Muria tak pernah sepi. Setiap bulan Sura, ribuan orang naik menembus kabut, membawa doa dan harapan. Mereka bukan mencari “portal energi”, tapi ketenangan batin.
Itulah paradoks Indonesia modern, di negeri yang spiritualitasnya melimpah, batas antara sejarah, mitos, dan marketing kadang kabur. Gunung bisa jadi museum, museum bisa jadi altar, dan legenda bisa jadi brand.
Tapi mungkin memang begitu cara budaya bekerja, ia tidak pernah mati, hanya berganti bentuk.
Kita Tak Selalu Butuh Benua yang Hilang
Kisah Lemuria di Muria adalah cermin kecil dari kehausan besar manusia modern, haus akan makna, tapi juga akan keajaiban. Di balik teori-teori kosmik itu, ada kebutuhan untuk merasa istimewa, untuk percaya bahwa tanah ini lebih tua dari yang dikatakan buku sejarah.
Tapi justru di sanalah letak keindahannya. Gunung Muria tidak perlu jadi Lemuria untuk menjadi suci. Ia sudah menyimpan ribuan tahun doa, batu, dan kenangan manusia, itu sudah lebih purba daripada mitos apa pun.
Jadi, mungkin pertanyaannya bukan “Apakah Lemuria pernah ada?”, tapi “Kenapa kita begitu ingin mempercayainya?”
Mungkin karena di dunia yang terus bergerak, setiap orang sedang mencari pulau purbanya sendiri, tempat di mana keyakinan, sejarah, dan harapan bisa berdamai.
Gunung Muria berdiri di antara sains dan mitos, antara tanah dan langit, antara fakta dan fantasi. Di sinilah batas tipis antara sejarah dan spiritualitas diuji. Dan mungkin, selama manusia masih mencari asal-usulnya, nama Lemuria akan terus bergema, bukan sebagai benua yang hilang, tapi sebagai metafora dari kerinduan yang tak pernah selesai. @tabooo







