Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Surjan dan Ingatan yang Tak Mau Padam

by dimas
Desember 4, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di tengah lautan outfit minimalis, jaket oversized, dan kaos hitam serbaguna yang memenuhi lini masa, satu busana tradisional selalu muncul seperti bisikan lama yang menolak padam. Namanya Surjan. Wujudnya sederhana dengan garis lurus dan kancing kecil yang tertata rapi. Tidak ada dramatisasi, namun justru keheningan itu membuatnya terasa seperti sedang mengawasi.

Bayangkan seorang tetua duduk di sudut joglo. Ia jarang berbicara, tetapi matanya menandakan bahwa ia memahami lebih banyak daripada yang kita sangka. Surjan memiliki energi yang sama. Ia mengingatkan bahwa manusia punya laku, punya tata, punya batas, tanpa perlu banyak kata.

Di era ketika pakaian sering dipilih demi viralitas, Surjan melangkah masuk sebagai teguran halus. Pakaian ini mengajak kita melihat penampilan bukan hanya sebagai visual, tetapi sebagai etika yang melekat pada diri.

Lurik dari Tanah Keraton

Surjan lahir pada masa Mataram Islam. Saat itu pakaian tidak berhenti di level estetika, melainkan menjadi ruang untuk menyisipkan nilai moral. Garis lurik yang tampak sederhana ternyata menyimpan filosofi tentang keteguhan hati.

Perancang masa itu memberi enam kancing di dada dan dua di leher sebagai pengingat spiritual. Setiap kancing berfungsi seperti jeda kecil agar pemakainya tidak tergesa mengikuti hawa nafsu. Sebuah desain yang lebih mirip nasihat.

Ini Belum Selesai

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

Berbagai rupa Surjan kemudian tumbuh dari akar yang sama. Surjan Lurik hadir sebagai teman masyarakat sehari-hari. Ontrokusumo membawa motif bunga merah yang dulu hanya bisa dikenakan bangsawan. Surjan Takwa menawarkan karakter tenang untuk tokoh agama dan mereka yang membawa martabat di bahunya.

Walau bentuknya berbeda, seluruhnya mengajak pemakainya untuk bersikap lebih jernih.

Identitas di Era Digital yang Serba Cair

Dunia hari ini bergerak cepat, secepat jempol yang menggulir layar ponsel. Identitas terasa cair. Seseorang dapat berganti persona melalui avatar baru, tone warna baru, atau gaya baru dalam hitungan detik. Media sosial menyediakan panggung bagi semua perubahan itu.

Di tengah kecepatan itu, Surjan justru berdiri di jalur lain. Ia tidak menuntut sorotan, melainkan keteguhan. Banyak orang kembali mencarinya karena alasan itu. Para seniman menjadikannya simbol akar budaya. Generasi muda mengenakannya untuk prewedding atau festival budaya sebagai upaya memegang identitas yang mudah hanyut. Para pembawa acara adat merasa lebih tenang ketika mengenakan Surjan yang sarat filosofi.

Ruang penampilan modern pun membuka pintu. Surjan hadir dalam film, mengisi runway, dan muncul dalam editorial digital. Aura tradisionalnya berpadu dengan estetika kontemporer sehingga tampil kuno namun tetap elegan. Ada kedalaman yang tidak dibuat-buat.

Barangkali kita memang merindukan ritme yang lebih pelan. Surjan memberikannya melalui kain yang tidak berisik.

Tabu yang Menjaga Lurik

Pakaian Jawa sering membawa aturan yang tidak tertulis. Surjan menyimpan banyak di antaranya. Orang Jawa percaya bahwa Surjan mesti dikenakan dengan niat baik. Luriknya seakan tahu kondisi hati pemakainya. Ketika seseorang memakainya dengan niat buruk, rasa berat muncul bukan di tubuh, tapi di batin.

Masyarakat juga memandang garis lurik sebagai penjaga moral. Saat pemakainya bertindak buruk, muncul anggapan bahwa ia sedang melawan pakaian. Sebuah ungkapan yang terdengar puitis namun memberi peringatan tegas.

Pada masa lampau, beberapa jenis Surjan terutama Ontrokusumo dianggap tabu bagi perempuan karena citranya yang maskulin dan sakral. Generasi kini mulai mencairkan batas itu, meski sebagian orang tua masih membawa keyakinan lama.

Detail lain yang tidak kalah penting terletak pada bidang dada yang tertutup rapat. Enam kancing mengingatkan pemakai untuk menutup hawa nafsu. Membuka kancing berlebihan dianggap melenceng dari filosofi Surjan. Pakaian ini bukan sekadar pelindung tubuh, melainkan penuntun perilaku.

Makna yang Mengendap di Balik Seratnya

Banyak busana tradisi kita hormati dari jauh seolah mereka tinggal menunggu hari menjadi artefak museum. Surjan berbeda. Ia masih hidup dan memberi arah. Ia tidak meminta kita diam, justru membantu kita bergerak lebih sadar.

Ketika identitas berubah secepat notifikasi masuk, Surjan mengingatkan bahwa karakter tidak bisa diganti sesering itu. Kain lurik memaksa ritme yang lebih pelan. Bahu yang terbungkus rapi membuat pemakainya berdiri lebih tegak dan memasuki ruang dengan sikap lebih halus.

Dalam budaya Jawa ketenangan bukan sekadar gestur, tetapi laku spiritual. Surjan hadir sebagai guru yang tidak bersuara namun berhasil mengubah cara seseorang berjalan.

Lorong Lurik yang Menuntun Pulang

Pada akhirnya Surjan menyimpan kisah panjang tentang manusia Jawa yang terus berusaha berjalan lurus di dunia yang ribut. Tradisi ini tidak pernah mati karena ia sabar menunggu seseorang mengingatnya kembali.

Seperti lorong lurik yang memanjang, Surjan menuntun kita pulang menuju sesuatu yang tidak goyah, sesuatu yang merapikan laku, dan sesuatu yang membuat kita merasa dekat dengan rumah yang sebenarnya. @Arimbi P

Tags: Budaya JawaIdentitas BudayaKearifan Lokal

Kamu Melewatkan Ini

Pamali: Benarkah Tradisi Membunuh Pikiran Kritis?

Pamali: Benarkah Tradisi Membunuh Pikiran Kritis?

by Waras
Mei 8, 2026

Internet semakin cepat dan generasi muda semakin kritis. Namun, pamali/wewaler tetap hidup di banyak rumah Indonesia. Orang tua masih melarang...

Pamali Jawa Bukan Sekadar Mitos. Ini Algoritma Moral Leluhur

Pamali Jawa Bukan Sekadar Mitos. Ini Algoritma Moral Leluhur

by Waras
Mei 7, 2026

Dari larangan duduk di bantal sampai makan di depan pintu, semua terdengar seperti mitos lama. Padahal, di balik ancaman mistis...

“Jangan Duduk di Bantal” Ternyata Bukan Mitos Bodoh

“Jangan Duduk di Bantal” Ternyata Bukan Mitos Bodoh

by Waras
Mei 7, 2026

Banyak orang muda menertawakan larangan duduk di bantal. Mereka menganggapnya mitos lama yang tidak masuk akal. “Mana mungkin duduk di...

Next Post
Banjir Aceh dan Tapanuli: Ketika Luka Lama Datang Menagih

Banjir Aceh dan Tapanuli: Ketika Luka Lama Datang Menagih

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id