Dua heli tumbang saat menjalankan misi pemadaman karhutla di Kalimantan. Empat awak tewas, siapa menjamin keselamatan mereka?
Tabooo.id – Dua helikopter jatuh ketika menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Dalam rentang empat hari, kecelakaan itu merenggut empat nyawa awak. Operasi yang semestinya melindungi hutan justru menyisakan duka bagi keluarga mereka yang bertugas dari udara.
Peristiwa pertama menimpa helikopter Mi-17V5 milik TNI Angkatan Darat di perairan Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11/2026). Tiga prajurit gugur, sementara lima personel lainnya selamat.
Belum selesai publik mengikuti proses evakuasi dan investigasi kecelakaan tersebut, helikopter Eurocopter EC225LP Super Puma dengan registrasi VH-HGM kembali jatuh. Kali ini, kecelakaan terjadi di Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Minggu (8/11/2026).
Helikopter yang dikontrak BNPB itu membawa tiga awak. Dua awak berhasil selamat, sedangkan Yayan Supyansuri, warga negara Indonesia yang bertugas sebagai Helicopter Landing Officer (HLO), ditemukan meninggal dunia.
Dua kecelakaan tersebut memang melibatkan armada dan operator berbeda. Belum ada bukti yang menunjukkan keduanya memiliki penyebab yang sama. Namun, kemunculannya dalam satu rangkaian operasi karhutla menempatkan keselamatan penerbangan sebagai persoalan yang tidak bisa lagi dipinggirkan.
Empat Hari, Dua Kecelakaan, Empat Nyawa
Mi-17V5 bernomor registrasi HA-5235 mengalami kecelakaan saat menjalankan misi water bombing di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Helikopter tersebut bertolak dari Kuala Pembuang menuju Telaga Pulang untuk mendukung pemadaman karhutla.
Saat mengambil air di perairan Desa Sungai Perlu, helikopter mengalami kendala terbang dan jatuh ke sungai. Delapan personel berada di dalam armada tersebut.
Pada tahap awal evakuasi, tim menemukan lima personel selamat dan satu personel meninggal dunia. Dua personel lainnya masih berada dalam proses evakuasi. Pencarian kemudian menemukan dua korban tambahan, termasuk Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo pada Jumat (6/11/2026).
Dengan ditemukannya Heri, jumlah korban meninggal dalam kecelakaan Mi-17 mencapai tiga orang. Mereka adalah Letkol Cpn (Anumerta) Dudi Firmansyah, Kapten Cpn (Anumerta) Nurhafiz Akbar, dan Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo. Lima personel lainnya selamat.
Dua hari setelah jenazah Heri ditemukan, kecelakaan kembali terjadi di Sungai Barito. Super Puma VH-HGM jatuh saat mendukung operasi pemadaman karhutla. Informasi awal menyebut helikopter mengalami kecelakaan ketika mengambil air untuk water bombing.
Dua awak berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Sementara itu, Yayan Supyansuri sempat dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan kemudian menemukan dan mengevakuasinya dalam kondisi meninggal dunia pada Minggu malam.
Rangkaian ini memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi awak penerbangan dalam operasi karhutla. Namun, angka korban bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Publik juga membutuhkan penjelasan tentang bagaimana kecelakaan tersebut bisa terjadi dan bagaimana risiko serupa dicegah.
Water Bombing: Strategi Pemadaman dengan Risiko Berlapis
Pemadaman melalui jalur udara menjadi salah satu strategi menghadapi kebakaran di kawasan yang sulit dijangkau petugas darat. Helikopter dapat membawa air dan menjatuhkannya langsung ke titik api melalui perangkat bambi bucket.
Namun, operasi tersebut bukan sekadar menerbangkan helikopter menuju lokasi kebakaran. Awak harus menjalankan serangkaian manuver, termasuk mendekati permukaan air, mengambil air, mengangkat beban, lalu kembali menuju titik kebakaran.
Setiap tahapan membutuhkan perhitungan penerbangan dan koordinasi yang ketat. Kondisi cuaca, angin, jarak pandang, karakteristik sungai, beban angkut, hingga kondisi teknis pesawat dapat menjadi bagian dari penilaian keselamatan.
Pengambilan air di sungai juga menghadirkan tantangan tersendiri. Permukaan air, arus, ruang manuver, dan kondisi lingkungan sekitar perlu masuk dalam perencanaan operasi.
Karena itu, keberhasilan water bombing tidak semestinya hanya diukur dari jumlah penerbangan atau volume air yang dijatuhkan. Kelayakan armada, kesiapan awak, serta keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan penerbangan juga menentukan keberhasilan misi.
Di sinilah keselamatan harus menjadi bagian utama strategi pemadaman. Operasi yang cepat tetapi mengabaikan risiko justru dapat menciptakan keadaan darurat baru.
Dua Operator Berbeda, Standar Keselamatan Harus Terukur
Kecelakaan Mi-17V5 dan Super Puma melibatkan dua lingkungan pengoperasian berbeda. Mi-17V5 merupakan armada milik TNI AD yang dioperasikan Pusat Penerbangan Angkatan Darat. Sementara itu, Super Puma VH-HGM merupakan helikopter milik swasta yang dikontrak BNPB.
Perbedaan tersebut membuat proses pemeriksaan dan pertanggungjawaban harus mengikuti kewenangan masing-masing pihak. Namun, keduanya bertemu dalam satu kepentingan: memastikan operasi penerbangan untuk penanganan karhutla berlangsung aman.
Pada kecelakaan Mi-17V5, tim gabungan telah menemukan dan mengevakuasi seluruh korban. Tim juga menemukan Flight Data Recorder (FDR) pada Sabtu (7/11/2026). Perangkat tersebut menjadi salah satu bahan penting bagi tim investigasi untuk menelusuri data penerbangan sebelum kecelakaan.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menerima laporan kecelakaan Super Puma VH-HGM. Kemenhub menyiapkan pemeriksaan awal dari aspek kelaikudaraan dan pengoperasian pesawat.
Pemeriksaan tersebut penting untuk menjawab sejumlah pertanyaan teknis. Apakah armada memenuhi persyaratan kelaikudaraan? Bagaimana catatan pemeliharaannya? Bagaimana kondisi penerbangan ketika helikopter mengambil air? Apakah seluruh prosedur operasi telah dijalankan?
Pertanyaan itu bukan tuduhan terhadap operator atau awak. Justru, investigasi yang transparan diperlukan agar publik tidak terjebak dalam spekulasi. Hasil pemeriksaan juga harus menjadi dasar perbaikan, bukan sekadar dokumen administratif setelah kecelakaan.
Jangan Tunggu Kecelakaan Berikutnya untuk Mengevaluasi
BNPB menyatakan operasi penanganan karhutla tetap berjalan dengan memperketat aspek keselamatan. Evaluasi mencakup kesiapan teknis armada, prosedur pengambilan air, kelaikan awak, faktor cuaca, dan karakteristik lokasi operasi.
Langkah tersebut perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang terukur. Evaluasi tidak cukup berhenti pada pernyataan bahwa keselamatan menjadi prioritas. Publik perlu mengetahui bagaimana standar diterapkan, siapa yang mengawasi, dan apa perubahan yang dilakukan setelah kecelakaan.
Pemeriksaan juga perlu menjangkau tata kelola operasi udara secara menyeluruh. Mulai dari proses penugasan armada, pemeriksaan sebelum terbang, pemantauan kondisi cuaca, komunikasi antarpihak, hingga kewenangan menghentikan misi ketika risiko meningkat.
Dalam operasi kebencanaan, tekanan untuk bergerak cepat memang besar. Kebakaran dapat meluas, kawasan terdampak bertambah, dan masyarakat membutuhkan perlindungan. Namun, tekanan tersebut tidak boleh menghapus kewajiban untuk memastikan awak dan armada berada dalam kondisi aman.
Empat orang telah kehilangan nyawa ketika menjalankan misi pemadaman karhutla. Tiga prajurit TNI AD gugur di Seruyan. Seorang awak helikopter kontrak BNPB meninggal di Sungai Barito.
Mereka datang untuk membantu memadamkan api. Namun, keluarga justru menerima kabar duka dari operasi yang mereka jalankan.
Hutan harus diselamatkan. Akan tetapi, keselamatan manusia yang berada di garis depan tidak boleh menjadi harga yang dianggap wajar. Sebab, keberhasilan memadamkan api tidak seharusnya dibayar dengan nyawa mereka yang ditugaskan untuk memadamkannya. @dimas







