Siapa bilang tanaman obat keluarga (Toga) hanya berakhir sebagai bahan rebusan ketika badan terasa tidak nyaman? Jahe yang biasa disimpan di dapur dan bunga telang yang tumbuh sebagai tanaman pekarangan ternyata bisa dikembangkan menjadi produk olahan yang lebih menarik. Mulai dari gummy candy hingga serbuk jahe instan, inovasi ini membuka kemungkinan baru bagi masyarakat desa untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal yang bisa membuat ekonomi desa berjalan.
Tabooo.id: Health – Peluang baru ekonomi desa tersebut mulai diperkenalkan kepada kelompok PKK Desa Al Kautsar, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, melalui program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) 2026.
Tim Universitas Borneo Lestari (UNBL) bersama Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (Uniska) memberikan pendampingan pengelolaan kebun Toga sekaligus pelatihan pengolahan tanaman lokal menjadi produk bernilai tambah.
Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) ini tidak hanya memperkenalkan cara mengolah tanaman. Lebih jauh, pendampingan tersebut mencoba membuka jalan agar pengetahuan sederhana dari lingkungan rumah dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi masyarakat.
Sebab, tanaman lokal tidak kekurangan potensi. Yang sering kali belum tersedia justru pengetahuan pengolahan, konsistensi produksi, standar keamanan pangan, kemasan, dan akses pasar.
Ekonomi Desa: Dari Dapur Rumah ke Produk Bernilai Tambah
Jahe dan bunga telang menjadi dua bahan yang menarik dalam pengembangan produk Toga di Desa Al Kautsar.
Jahe sudah lama dikenal masyarakat sebagai bahan minuman tradisional. Rasanya yang khas membuat tanaman ini mudah diterima dalam berbagai bentuk olahan. Sementara itu, bunga telang memiliki warna biru alami yang menarik dan dapat memberikan karakter visual tersendiri pada produk makanan maupun minuman.
Tim pendamping kemudian mengembangkan dua contoh produk, yakni gummy candy dan serbuk jahe instan kombinasi bunga telang. Keduanya menawarkan pendekatan berbeda.
Gummy candy membawa bahan tanaman lokal ke bentuk makanan yang lebih praktis dan dekat dengan kebiasaan konsumsi masyarakat modern. Produk ini juga berpotensi menarik perhatian konsumen muda yang menyukai makanan dengan bentuk, warna, dan pengalaman rasa yang unik.
Sementara itu, serbuk jahe instan menawarkan kemudahan penyajian. Masyarakat tidak perlu lagi mengupas, mengiris, dan merebus jahe setiap kali ingin menikmati minuman berbahan jahe.
Namun, inovasi produk tidak cukup berhenti pada bentuk yang menarik. Produsen juga perlu memperhatikan formulasi, rasa, tekstur, daya simpan, kebersihan proses produksi, hingga keamanan bahan tambahan pangan.
Di sinilah pengetahuan pengolahan menjadi pembeda antara produk rumahan biasa dan produk yang siap bersaing di pasar.
Herbal Bukan Berarti Otomatis Menyehatkan
Tren konsumsi produk berbahan alami terus menarik perhatian masyarakat. Label herbal, tanaman tradisional, dan bahan alami sering kali dianggap identik dengan kesehatan.
Padahal, istilah alami tidak otomatis menjamin suatu produk aman atau memiliki manfaat medis tertentu.
Jahe mengandung sejumlah senyawa bioaktif, termasuk gingerol, sedangkan bunga telang dikenal memiliki kandungan antosianin yang memberikan warna biru khas. Berbagai penelitian mengkaji potensi antioksidan dari senyawa tersebut.
Meski demikian, keberadaan senyawa bioaktif tidak serta-merta membuktikan bahwa gummy candy atau serbuk jahe kombinasi bunga telang dapat mencegah maupun menyembuhkan penyakit.
Proses pengolahan, konsentrasi bahan, suhu, penyimpanan, dan jumlah konsumsi dapat memengaruhi karakteristik produk akhir.
Karena itu, pengembangan produk herbal perlu berjalan bersama pengujian mutu dan edukasi konsumen. Jangan sampai kata herbal berubah menjadi strategi pemasaran yang menjanjikan manfaat kesehatan tanpa dukungan bukti yang memadai.
Bagi konsumen, produk berbahan tanaman lokal tetap perlu dibaca secara kritis. Periksa komposisi, informasi nilai gizi, izin edar sesuai ketentuan, serta klaim yang tercantum pada kemasan.
Ketika PKK Menjadi Penggerak Ekonomi Desa
Salah satu hal menarik dari program ini adalah keterlibatan kelompok PKK. Selama ini, aktivitas PKK di banyak desa identik dengan kegiatan sosial, kesehatan keluarga, keterampilan rumah tangga, dan pemberdayaan perempuan.
Padahal, kelompok tersebut memiliki peluang lebih besar jika memperoleh akses terhadap pengetahuan produksi dan pengembangan usaha.
Ketua PKK Desa Al Kautsar, Fitriani, SPd, Aud, menyambut baik pelatihan yang diberikan tim pendamping.
“Kami berterima kasih karena mendapat pelatihan pengolahan Toga menjadi gummy candy dan serbuk jahe kombinasi bunga telang, sekaligus pendampingan dalam pengelolaan Toga.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat mulai mendapatkan alternatif pemanfaatan tanaman yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Namun, ada satu pertanyaan yang perlu dijawab setelah pelatihan selesai apakah produk tersebut bisa berkembang menjadi usaha yang menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan?
Mengubah keterampilan menjadi bisnis membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan membuat produk.
Kelompok PKK perlu memahami perhitungan modal, biaya bahan baku, tenaga kerja, kemasan, harga jual, hingga keuntungan bersih. Mereka juga membutuhkan strategi pemasaran yang sesuai dengan karakter konsumen.
Misalnya, serbuk jahe instan bisa dipasarkan sebagai minuman praktis berbahan lokal. Gummy candy dapat dikembangkan sebagai produk camilan dengan identitas khas desa.
Keduanya memiliki peluang diferensiasi, tetapi perlu pengujian penerimaan konsumen sebelum kelompok menentukan produk mana yang layak diproduksi secara rutin.
Inovasi boleh dimulai dari dapur, tetapi keberlanjutan usaha harus dibangun melalui manajemen.
Peluang Besar, tetapi Jangan Berhenti pada Pelatihan
Program Kosabangsa 2026 di Desa Al Kautsar sebenarnya membawa pesan lebih luas mengenai hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Universitas tidak hanya hadir untuk menyampaikan teori, tetapi juga membawa hasil penelitian agar masyarakat dapat merasakan manfaatnya.
Ketua tim pelaksana UNBL, apt M. Andi Chandra, MFarm, menjelaskan bahwa paket teknologi yang diperkenalkan merupakan bagian dari hilirisasi penelitian tim pendamping Uniska.
Salah satu penelitian tersebut berasal dari Prof. Dr. Ir. Hj. Tintin Rostini, SPt, MP, IPM, ASEAN Eng, yang berkaitan dengan fermentasi pakan dan pemanfaatan limbah pertanian.
Teknologi yang diterapkan juga mencakup paten mengenai proses produksi cairan suplemen untuk memacu pertumbuhan ternak.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi desa tidak harus selalu dimulai dengan teknologi mahal. Pengetahuan yang tepat, bahan baku yang tersedia, dan pendampingan yang berkelanjutan dapat menjadi fondasi pengembangan ekonomi lokal.
Namun, hilirisasi penelitian baru benar-benar terasa ketika hasilnya digunakan, diproduksi secara konsisten, dan memiliki manfaat ekonomi yang terukur.
Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang akan mendampingi masyarakat setelah program berakhir?
Apakah kelompok PKK memiliki akses terhadap pemasok bahan baku, peralatan produksi, laboratorium pengujian, perizinan, dan jaringan pemasaran?
Tanpa ekosistem tersebut, inovasi berisiko berhenti sebagai dokumentasi kegiatan dan produk percobaan.
Ketua tim pendamping Prof. Tintin Rostini berharap program tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang.
“Semoga kegiatan ini mendukung kemandirian pakan Kelompok Mahesa Makmur dan hilirisasi produk agro oleh kelompok PKK Desa Al Kautsar.”
Harapan tersebut menjadi penting karena keberhasilan pemberdayaan masyarakat seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah peserta pelatihan atau alat yang dibagikan, tetapi juga dari perubahan kemampuan produksi dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Standar Pangan: Tantangan yang Tidak Boleh Diabaikan
Ada satu aspek yang harus mendapat perhatian ketika produk Toga mulai memasuki pasar: keamanan pangan.
Gummy candy dan serbuk jahe instan bukan sekadar produk kreatif. Keduanya merupakan pangan olahan yang harus memperhatikan standar kebersihan, komposisi, proses produksi, penyimpanan, dan informasi produk.
BPOM melalui pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) menekankan pentingnya proses produksi yang menjamin keamanan, mutu, dan kelayakan pangan.
Pelaku usaha juga perlu memahami ketentuan perizinan sesuai jenis dan skala produknya. Untuk produk industri rumah tangga, terdapat mekanisme Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT), dengan persyaratan yang harus dipenuhi.
Selain itu, label produk harus memberikan informasi yang benar mengenai nama produk, komposisi, berat bersih, identitas produsen, kode produksi, dan kedaluwarsa sesuai ketentuan yang berlaku.
Hal yang tidak kalah penting adalah klaim kesehatan. BPOM melarang klaim pangan olahan yang menyesatkan, termasuk pernyataan bahwa suatu produk dapat berfungsi sebagai obat atau menyehatkan tanpa memenuhi ketentuan yang berlaku. Direktorat Registrasi Pangan Olahan
Dengan demikian, produk berbahan jahe dan bunga telang sebaiknya dipasarkan berdasarkan karakteristik bahan, rasa, kepraktisan, dan proses pengolahannya. Bukan dengan menjanjikan kesembuhan penyakit.
Kepercayaan konsumen tidak dibangun melalui kata-kata herbal yang terdengar meyakinkan. Kepercayaan tumbuh dari kualitas produk yang bisa dipertanggungjawabkan.
Dari Potensi Pekarangan Menuju Identitas Produk Desa
Desa Al Kautsar sebenarnya memiliki modal pengembangan ekonomi yang cukup beragam.
Perkebunan kelapa sawit, karet rakyat, lahan hortikultura, serta aktivitas peternakan memberikan peluang untuk mengembangkan usaha berbasis sumber daya lokal.
Pendampingan dalam program Kosabangsa 2026 bahkan tidak hanya menyentuh pengolahan Toga.
Pada 20–21/09/2026, kelompok peternak juga mengikuti pelatihan pembuatan ransum silase dari pelepah sawit dan pupuk kompos dari kotoran sapi.
Ketua Kelompok Tani Ternak Mahesa Makmur, Eko Prayitno, mengungkapkan perubahan pemanfaatan bahan yang sebelumnya kurang dilirik masyarakat.
Dalam keterangannya pada 25/10/2026, Eko mengatakan:
“Pelepah sawit yang selama ini tidak dimanfaatkan warga kini dapat diolah menjadi pakan. Kami juga mendapat pelatihan membuat pupuk kompos dari kotoran sapi.”
Dua pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi desa bisa bergerak melalui beberapa jalur sekaligus.
Limbah perkebunan dapat mendukung kebutuhan pakan ternak. Kotoran ternak dapat diolah menjadi pupuk. Sementara tanaman lokal dapat dikembangkan menjadi produk pangan olahan.
Jika masyarakat mampu menghubungkan ketiga aktivitas tersebut, Desa Al Kautsar berpeluang membangun ekosistem ekonomi lokal yang lebih produktif.
Tetapi, peluang itu membutuhkan perencanaan. Masyarakat harus mengetahui berapa biaya produksi yang dapat ditekan, berapa kapasitas produksi yang realistis, dan bagaimana produk bisa menjangkau konsumen di luar lingkungan desa.
Pemasaran digital juga dapat menjadi pintu masuk. Produk dapat diperkenalkan melalui media sosial, marketplace, kegiatan pameran UMKM, hingga kerja sama dengan toko oleh-oleh dan pelaku usaha kuliner.
Identitas produk lokal menjadi penting agar masyarakat tidak hanya menjual jahe atau bunga telang, tetapi juga menawarkan cerita tentang asal bahan, proses produksi, dan keterlibatan warga di baliknya.
Inovasi Tidak Cukup Dipamerkan, Harus Menghasilkan
Program Kosabangsa 2026 di Desa Al Kautsar memberikan contoh bagaimana hasil penelitian perguruan tinggi dapat diterjemahkan menjadi keterampilan masyarakat.
Jahe, bunga telang, pelepah sawit, dan kotoran ternak memperlihatkan bahwa potensi ekonomi desa tidak selalu tersembunyi jauh di dalam hutan atau lahan perkebunan. Sebagian justru berada di sekitar rumah warga. Namun, ada perbedaan besar antara berhasil membuat produk dan berhasil membangun usaha.
Membuat gummy candy merupakan pencapaian awal. Memproduksinya secara konsisten, menjaga kualitas, memperoleh perizinan, menentukan harga yang kompetitif, dan menemukan pembeli merupakan tantangan berikutnya.
Kelompok PKK membutuhkan akses pasar, bukan sekadar pelatihan. Peternak membutuhkan kepastian manfaat ekonomi, bukan hanya pengetahuan mengolah limbah. Perguruan tinggi pun perlu memastikan pendampingan tidak berhenti ketika laporan program selesai.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan inovasi desa bukan seberapa banyak produk yang berhasil diperkenalkan saat pelatihan, melainkan berapa banyak warga yang mampu melanjutkan produksi, memperoleh penghasilan, dan membangun usaha secara mandiri.
Karena tanaman yang tumbuh di sekitar rumah memang bisa menjadi sumber ekonomi. Tetapi kreativitas saja tidak cukup. Pengetahuan membuka pintu. Produksi menciptakan peluang. Pasar menentukan keberlanjutan.
Itulah yang seharusnya menjadi tujuan akhir pemberdayaan masyarakat bukan sekadar membuat desa terlihat produktif, melainkan membuat warganya benar-benar memiliki kekuatan ekonomi. @teguh





