Minggu, November 8, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
RADIO
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

10 November 1945: Ketika Surabaya Menolak Menyerah

by dimas
November 8, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
10 November 1945 menjadi saksi perlawanan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan dari serangan pasukan Inggris. Pertempuran ini menjadi tonggak lahirnya Hari Pahlawan.

Tabooo.id – Ada masa ketika kemerdekaan bukan sekadar kata yang tertulis dalam buku sejarah. Ia menjadi sesuatu yang harus dipertahankan dengan keberanian, darah, bahkan nyawa.

Di Surabaya, November 1945 menjadi saksi bagaimana rakyat biasa menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar. Mereka mungkin tidak memiliki persenjataan sebanding. Namun, mereka punya sesuatu yang tidak mudah ditaklukkan: keyakinan bahwa Indonesia tidak boleh kembali dijajah.

Setiap 10 November, bangsa Indonesia mengenang peristiwa tersebut melalui peringatan Hari Pahlawan. Namun, di balik upacara, bendera, dan ucapan penghormatan, ada kisah panjang tentang keberanian manusia mempertahankan kemerdekaan.

Ketika Merdeka Belum Berarti Aman

Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun, kemerdekaan tidak serta-merta membuat seluruh wilayah negeri aman dari ancaman penjajahan.

Jepang memang telah menyerah kepada Sekutu. Akan tetapi, kedatangan pasukan Sekutu justru membawa persoalan baru. Bersama mereka, hadir pula Netherlands Indies Civil Administration (NICA), yang berupaya mengembalikan kekuasaan Belanda.

Surabaya menjadi salah satu kota dengan ketegangan paling tinggi.

Rakyat yang baru merasakan kemerdekaan tidak ingin kembali hidup di bawah kekuasaan kolonial. Karena itu, setiap tindakan yang dianggap mengancam kedaulatan Indonesia memancing perlawanan.

Salah satu peristiwa yang membakar kemarahan rakyat terjadi pada 19 September 1945.

Sepotong Warna Biru yang Menjadi Simbol Perlawanan

Di Hotel Yamato, Surabaya, sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera Merah-Putih-Biru.

Bagi rakyat Indonesia, tindakan tersebut bukan sekadar persoalan selembar kain. Bendera itu menjadi simbol yang mengingatkan mereka pada kemungkinan kembalinya kekuasaan kolonial.

Massa kemudian mendatangi hotel dan menuntut penurunan bendera.

Di tengah ketegangan, dua pemuda, Hariyono dan Koesno Wibowo, memanjat bangunan hotel. Mereka merobek bagian biru bendera Belanda hingga menyisakan Merah Putih.

Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Insiden Hotel Yamato.

Sepotong warna biru yang terlepas menjadi simbol keberanian. Bukan karena tindakan itu mengakhiri ancaman penjajahan, melainkan karena rakyat Surabaya menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan.

Ketika Sebuah Kota Menolak Tunduk

Ketegangan terus meningkat setelah pasukan Sekutu tiba di Surabaya pada akhir Oktober 1945.

Pasukan Inggris di bawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby menghadapi perlawanan rakyat. Perselisihan mengenai senjata, kekuasaan, dan masa depan Indonesia semakin memperkeruh keadaan.

Upaya perundingan tidak mampu menghentikan bentrokan.

Pada 30 Oktober 1945, Mallaby tewas dalam insiden di sekitar Jembatan Merah. Peristiwa tersebut kemudian memperburuk hubungan antara pasukan Inggris dan pihak Indonesia.

Mayor Jenderal Robert Mansergh selanjutnya mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945.

Ia memerintahkan rakyat Surabaya menyerahkan senjata paling lambat pukul 06.00 pada 10 November. Jika perintah itu tidak dipenuhi, pasukan Inggris akan melancarkan serangan besar.

Namun, rakyat Surabaya tidak memilih menyerah.

Bagi mereka, menyerahkan senjata berarti membuka kembali pintu penjajahan. Karena itu, ketika pagi 10 November tiba, pertempuran besar akhirnya pecah.

Pasukan Inggris menyerang melalui darat, laut, dan udara. Sementara itu, rakyat Surabaya bertahan menggunakan persenjataan yang jauh dari kata seimbang.

Di tengah situasi tersebut, Bung Tomo mengobarkan semangat perlawanan melalui siaran radio. Seruannya menggema, menyatukan keberanian rakyat yang menghadapi ancaman di depan mata.

Bersama tokoh-tokoh perjuangan lainnya, seperti Mayor Sungkono, para pejuang mempertahankan setiap jengkal kota.

Pertempuran berlangsung sengit selama berminggu-minggu. Banyak nyawa melayang. Bangunan hancur dan kehidupan masyarakat berubah menjadi medan perjuangan.

Surabaya memang mengalami kehancuran. Namun, perlawanan rakyatnya mengirimkan pesan kuat kepada dunia: Indonesia tidak akan menyerahkan kemerdekaannya begitu saja.

Mereka yang Gugur, Kita yang Melanjutkan

Kini, Surabaya memiliki Tugu Pahlawan sebagai salah satu pengingat peristiwa bersejarah tersebut.

Monumen itu bukan hanya penanda sebuah pertempuran. Ia menyimpan ingatan tentang manusia-manusia yang pernah mempertaruhkan segalanya demi masa depan bangsa.

Pemerintah kemudian menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.

Sejak saat itu, tanggal tersebut menjadi momentum nasional untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan para pahlawan.

Namun, ada pertanyaan yang layak kita renungkan: apakah menghormati pahlawan cukup dengan mengibarkan bendera dan menggelar upacara setiap tahun?

Kepahlawanan Tidak Berhenti pada Masa Perang

Delapan dekade telah berlalu sejak Pertempuran Surabaya. Generasi sekarang memang tidak lagi menghadapi tank dan senjata di jalanan.

Namun, Indonesia tetap menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan keberanian.

Ketidakadilan, kemiskinan, korupsi, ketimpangan pendidikan, hingga persoalan lingkungan menjadi tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan slogan nasionalisme.

Bentuk perjuangan memang berubah. Akan tetapi, tanggung jawab terhadap bangsa tidak pernah selesai.

Seorang guru yang bertahan mendidik anak-anak di daerah terpencil, warga yang memperjuangkan lingkungan, jurnalis yang menjaga kebenaran, hingga masyarakat yang berani melawan ketidakadilan juga mengambil bagian dalam perjalanan bangsa.

Mereka mungkin tidak membawa bambu runcing. Namun, keberanian untuk mempertahankan nilai kemanusiaan tetap menjadi bagian dari semangat kepahlawanan.

Di sinilah Hari Pahlawan menemukan relevansinya bagi generasi hari ini.

Jangan sampai kita begitu sibuk mengagungkan keberanian masa lalu, tetapi justru kehilangan keberanian ketika berhadapan dengan persoalan masa kini.

Sebab, kemerdekaan bukan hanya warisan yang harus dirayakan. Ia juga tanggung jawab yang harus dijaga.

Para pahlawan telah menyelesaikan perjuangannya. Sekarang, giliran kita membuktikan bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia. @dimas

Tags: Hari PahlawanNasionalismePerjuangan KemerdekaanPertempuran SurabayaSejarah Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Bung Tomo: Suara Lantang dari Pertempuran Surabaya

Bung Tomo: Suara Lantang dari Pertempuran Surabaya

by dimas
November 8, 2026

Bung Tomo dikenang lewat suara lantangnya dalam Pertempuran Surabaya. Simak perjalanan perjuangan, kiprah politik, hingga jejak perlawanannya terhadap kekuasaan. Tabooo.id...

Sumpah Pemuda di Tengah Krisis Keadilan dan Kejujuran

Sumpah Pemuda di Tengah Krisis Keadilan dan Kejujuran

by dimas
Oktober 30, 2026

Sumpah Pemuda dan Sumpah Mahasiswa mengingatkan pentingnya persatuan yang berpihak pada keadilan, bebas dari penindasan, serta menjunjung kejujuran di tengah...

Sumpah Pemuda: Sejarah Persatuan yang Melampaui Perbedaan

Sumpah Pemuda: Sejarah Persatuan yang Melampaui Perbedaan

by dimas
Oktober 27, 2026

Sumpah Pemuda menjadi tonggak persatuan bangsa. Dari perbedaan identitas, para pemuda pada 1928 merajut satu tanah air, satu bangsa, dan...

◉
TABOOO RADIOVERSE
SATU BUMI · RIBUAN FREKUENSI
RADIO ONLINE
Dimulai dari Indonesia, jelajahi seluruh dunia
Menyiapkan peta dunia…
Putar bumi · Klik titik kota · Dengarkan radio
🌏 INDONESIA FOCUS
JELAJAHI SUARA DUNIA

Temukan frekuensimu.

Pilih kota, lalu dengarkan siarannya.

⌕

Radio pilihan

— stasiun
Memuat direktori radio…
1 / 1
♫
SIAP MENDENGARKAN
Pilih stasiun radio
Jelajahi frekuensi dari seluruh dunia
◖))
Belum ada siaran
Powered by TABOOO · Radioverse v1.2Audio disiarkan oleh stasiun pihak ketiga · Radio Browser · Peta © OpenStreetMap

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
    • Pattern
  • Figures
  • Radioverse

© 2026 Tabooo.id