Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Menjaga Mata Air, Merawat Tradisi Dawetan Umbul Kroman, Klaten

by Waras
November 3, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Air menghidupi manusia setiap hari, tetapi manusia tidak selalu ingat cara menjaganya. Di Mranggen, Klaten, masyarakat merawat ingatan itu melalui tradisi Dawetan Umbul Kroman. Bukan sekadar ritual membagikan dawet, tradisi ini mengingatkan bahwa mata air bukan warisan untuk dihabiskan.

Tabooo.id: Di sebuah sudut Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Klaten, air bukan sekadar sesuatu yang mengalir dari mata air. Ia menghidupi sawah, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan menjadi bagian dari ingatan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya.

Karena itu, warga setempat punya cara tersendiri untuk merawat hubungan mereka dengan alam. Bukan melalui seremoni megah atau pidato panjang, melainkan lewat tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi yaitu Dawetan Umbul Kroman.

Di tengah arak-arakan warga, kendi berisi dawet dibawa menuju sumber mata air. Ada iringan kesenian tradisional, sesaji, doa, dan kebersamaan. Sekilas, kegiatan ini terlihat seperti perayaan budaya biasa. Namun, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar membagikan minuman tradisional.

Ada rasa syukur, penghormatan terhadap alam, dan pesan sederhana yang semakin relevan: manusia bisa hidup karena alam menyediakan kehidupan.

Akar Tradisi Bersih Sendang

Dawetan Umbul Kroman bukan tradisi yang muncul tiba-tiba sebagai agenda wisata desa. Akarnya berhubungan dengan kebiasaan masyarakat Mranggen menjaga sumber mata air.

Ini Belum Selesai

Kisah Jenderal Hoegeng: Integritas di Tengah Godaan Kekuasaan

Ibu Soed: Perempuan di Balik Semangat Sumpah Pemuda

Dahulu, warga mengenal kegiatan ini sebagai tradisi bersih sendang. Masyarakat berkumpul untuk membersihkan sumber air sekaligus menjaga tempat yang selama ini menopang kehidupan mereka.

Tradisi tersebut berlangsung turun-temurun. Mujiyono, Ketua RW 13 sekaligus tokoh masyarakat setempat, menjelaskan bahwa kegiatan itu sudah dikenal sejak zaman nenek moyang.

Menurutnya, masyarakat baru mengemasnya menjadi perayaan budaya yang lebih besar dalam beberapa tahun terakhir.

Perubahan ini terlihat dari penyelenggaraan kirab budaya, pertunjukan kesenian, dan rangkaian ritual yang melibatkan lebih banyak warga.

Namun, kemasan boleh berubah. Tujuan utamanya tetap sama yaitu merawat sumber mata air dan mempertahankan hubungan masyarakat dengan alam.

Bagi warga Mranggen, Umbul Kroman bukan sekadar kolam alami. Sumber air ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi dan mencuci hingga mengairi lahan pertanian.

Artinya, menjaga umbul sama dengan menjaga keberlangsungan hidup masyarakat sendiri.

Dawet dan Makna Rasa Syukur

Di antara berbagai unsur dalam tradisi tersebut, dawet punya tempat tersendiri.

Minuman tradisional ini bukan sekadar sajian untuk melepas dahaga. Dalam tradisi Dawetan Umbul Kroman, dawet menjadi simbol rasa syukur atas sumber kehidupan yang terus memberikan manfaat kepada masyarakat.

Muhammad Ansori, tokoh masyarakat sekaligus pengelola Sanggar Sayuk Rukun, menjelaskan filosofi tersebut melalui makna rasa manis.

Menurutnya, Umbul Kroman telah memberikan banyak rasa manis bagi kehidupan warga. Harapannya, keberadaan sumber air itu juga membawa hasil yang baik bagi masa depan desa.

Simbolisme ini terasa sederhana, tetapi menyimpan pesan yang kuat.

Air memberikan kehidupan. Sementara dawet menghadirkan rasa manis sebagai gambaran berkah yang masyarakat terima dari keberadaan sumber mata air.

Dalam konteks ini, dawet menjadi bahasa budaya untuk mengungkapkan rasa terima kasih.

Ada sesuatu yang menarik dari cara masyarakat menyampaikan rasa syukur. Mereka tidak hanya mengucapkannya melalui doa, tetapi juga menghadirkannya dalam makanan, ritual, dan kebersamaan.

Sebab, bagi masyarakat yang hidup dekat dengan alam, rasa syukur bukan sekadar ucapan. Ia juga tercermin dari bagaimana manusia memperlakukan sumber kehidupannya.

Kirab, Kendi, dan Ingatan Kolektif Masyarakat

Pada pelaksanaan Dawetan Umbul Kroman, Minggu, 1 November 2026, warga kembali menghidupkan tradisi tersebut melalui gelar budaya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab yang membawa kendi berisi dawet dan berbagai perlengkapan ritual menuju kawasan umbul.

Iring-iringan melibatkan sesepuh desa, warga, serta kelompok kesenian. Dalam prosesi tersebut, masyarakat juga membawa bibit pohon beringin untuk ditanam di sekitar kawasan mata air.

Setelah rombongan tiba, warga melanjutkan kegiatan dengan kenduri dawet dan kembul bujana atau makan bersama.

Prosesi juga menghadirkan pertunjukan karawitan, tari, Jathilan Tirta Budaya, dan Wayang Jantur.

Setiap unsur memiliki tempat dalam rangkaian perayaan. Kirab menjadi ruang kebersamaan, kenduri menjadi simbol rasa syukur, sedangkan kesenian menjadi cara masyarakat merawat identitas budayanya.

Di sinilah tradisi bekerja lebih dari sekadar ritual.

Anak-anak, orang tua, sesepuh, dan generasi muda bertemu dalam satu kegiatan. Mereka berbagi ruang, pengalaman, serta ingatan yang menghubungkan kehidupan hari ini dengan warisan leluhur.

Tradisi yang diwariskan secara lisan dan melalui kebiasaan akhirnya menemukan cara untuk terus hidup.

Merawat Umbul di Tengah Arus Wisata

Klaten dikenal memiliki banyak sumber mata air alami atau umbul. Kejernihan airnya bahkan menjadi daya tarik wisata yang mengundang pengunjung dari berbagai daerah.

Umbul Kroman juga memiliki potensi serupa. Airnya yang jernih dan lingkungan yang masih alami menjadikannya salah satu aset penting Desa Mranggen.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika sumber mata air mulai dikenal sebagai destinasi wisata. Semakin banyak orang datang, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya. Jangan sampai sumber air yang dahulu dirawat masyarakat justru kehilangan kualitas karena aktivitas yang tidak terkendali.

Karena itu, Dawetan Umbul Kroman membawa pesan yang relevan dengan perkembangan desa wisata. Pengembangan ekonomi dan pelestarian lingkungan seharusnya berjalan beriringan.

Warga tidak cukup hanya memperkenalkan keindahan umbul kepada pengunjung. Mereka juga perlu memastikan sumber air tetap terjaga untuk kebutuhan generasi berikutnya.

Tradisi bersih sendang mengingatkan bahwa merawat alam bukan pekerjaan sekali selesai. Ia membutuhkan kebiasaan, kepedulian, dan keterlibatan bersama.

Ketika Tradisi Menjadi Identitas Sebuah Desa

Di tengah kehidupan modern yang semakin cepat, tradisi lokal sering menghadapi tantangan sederhana yaitu generasi berikutnya belum tentu mengenal alasan di balik sebuah kebiasaan.

Mereka mungkin masih melihat kirab, menikmati dawet, atau menonton pertunjukan kesenian. Namun, tanpa pemahaman tentang maknanya, tradisi perlahan bisa berubah menjadi tontonan tanpa ingatan.

Dawetan Umbul Kroman punya kesempatan untuk menghindari hal tersebut.

Melalui keterlibatan masyarakat dan generasi muda, tradisi ini bisa menjadi ruang belajar tentang sejarah lokal, hubungan manusia dengan alam, serta pentingnya gotong royong.

Apalagi, budaya tidak harus selalu tampil dalam bentuk yang sama agar tetap lestari. Tradisi bisa berkembang mengikuti zaman selama masyarakat tidak kehilangan nilai dasarnya.

Kirab budaya boleh semakin meriah. Pertunjukan seni boleh semakin beragam. Wisata desa boleh berkembang. Namun, penghormatan terhadap sumber mata air harus tetap menjadi inti.

Sebab, yang membuat Umbul Kroman berarti bukan hanya kejernihan airnya, melainkan hubungan panjang antara sumber mata air dan masyarakat yang menjaganya.

Pada akhirnya, Dawetan Umbul Kroman mengajarkan sesuatu yang sering kita lupakan yaitu manusia tidak pernah benar-benar memiliki alam. Kita hanya menerima manfaatnya sekaligus memikul tanggung jawab untuk merawatnya.

Dawet mungkin meninggalkan rasa manis di lidah. Tetapi tradisi ini ingin meninggalkan sesuatu yang lebih lama yakni kesadaran bahwa air adalah kehidupan, dan kehidupan tidak boleh kita perlakukan seperti sesuatu yang selalu tersedia tanpa batas. @waras

Tags: Budaya JawaDawetan KlatenMranggenTradisi Bersih SendangUmbul Kroman

Kamu Melewatkan Ini

Kenduri Dawet: Etika Masyarakat Jatinom dalam Merawat Alam

Kenduri Dawet: Etika Masyarakat Jatinom dalam Merawat Alam

by Waras
November 2, 2026

Air bisa mengalir tanpa manusia mengadakan ritual. Namun, bagi masyarakat Jatinom, mata air bukan sekadar tempat mengambil kebutuhan hidup. Ada...

Dua Garebeg Mulud Karaton Surakarta, Delapan Gunungan Jadi Rebutan

Dua Garebeg Mulud Karaton Surakarta, Delapan Gunungan Jadi Rebutan

by dimas
Agustus 26, 2026

Dua Garebeg Mulud digelar di Karaton Surakarta, membawa delapan gunungan ke Masjid Agung Solo yang kemudian diperebutkan warga di puncak...

Keris Dilepas Demi Diingat: Ketika Warisan Pusaka Keluarga Masuk Museum

Keris Dilepas Demi Diingat: Ketika Warisan Pusaka Keluarga Masuk Museum

by teguh
Agustus 25, 2026

Ada warisan pusaka keluarga yang kita simpan di lemari. Ada pula warisan yang justru kita lepaskan agar tetap hidup. Pilihan...

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id