Starbucks mulai memangkas gerai di pasar global yang dinilai kurang menguntungkan. Di tengah perubahan strategi perusahaan induk, pasar domestik punya kondisi dan tantangannya sendiri. Namun, apakah langkah itu juga menjadi sinyal bagi bisnis Starbucks di Indonesia?
Tabooo.id: Pasar kopi terlihat menjanjikan. Namun, gerai yang ramai belum tentu menghasilkan keuntungan. Starbucks kini harus memastikan setiap lokasi benar-benar layak dipertahankan.
Akan tetapi, strategi global yang dijalankan tidak otomatis mencerminkan kondisi Starbucks Indonesia. Keduanya menghadapi dinamika pasar, struktur biaya, dan perilaku konsumen yang berbeda.
Starbucks Global Hitung Ulang Strategi Gerai
Pada September 2025, Starbucks mengumumkan penutupan gerai berkinerja buruk melalui strategi Back to Starbucks. Perusahaan juga melakukan pengurangan tenaga kerja dan restrukturisasi organisasi.
Karena itu, Starbucks perlu menilai kinerja finansial sekaligus kualitas pengalaman pelanggan. Membuka gerai baru saja, tidak cukup jika kontribusinya terhadap bisnis lemah.
Ekspansi pun berubah menjadi persoalan selektivitas. Perusahaan harus memastikan setiap lokasi memiliki alasan bisnis yang kuat.
Indonesia punya Cerita Beda
Starbucks Indonesia berkembang melalui kemitraan Starbucks Coffee Company dengan MAP. Operasionalnya berada di bawah PT Sari Coffee Indonesia, anak usaha MAPB.
Data tersebut tidak menunjukkan penghentian ekspansi secara menyeluruh. Sebaliknya, Starbucks Indonesia masih menambah gerai ketika perusahaan global memperketat portofolionya.
Lantas, apakah Indonesia juga mulai mengerem ekspansi?
Untuk menjawabnya, kita perlu membedakan penutupan gerai, revisi target pembukaan, dan pemilihan lokasi yang lebih selektif. Ketiganya merupakan keputusan bisnis berbeda.
Lokasi Strategis Tidak Selalu Menguntungkan
Tantangan Starbucks Indonesia bukan sekadar menjangkau konsumen. Perusahaan juga harus memilih lokasi yang mampu menghasilkan penjualan berkelanjutan.
Gerai di mal premium, kawasan perkantoran, bandara, dan kota sekunder menghadapi karakter pasar berbeda. Potensi penjualan, biaya sewa, dan pola kunjungannya pun tidak sama.
Karena itu, popularitas kawasan tidak cukup menjadi dasar ekspansi. Perusahaan harus menilai kontribusi setiap lokasi terhadap bisnis.
Gerai yang ramai pada akhir pekan belum tentu menguntungkan sepanjang minggu. Sebaliknya, lokasi yang tidak terlalu mencolok bisa memiliki pelanggan rutin dan biaya lebih terkendali.
Selektivitas membantu perusahaan memprioritaskan lokasi potensial dan mengevaluasi gerai yang kurang produktif. Namun, ini merupakan kerangka analisis bisnis, bukan konfirmasi bahwa MAPB telah menerapkan seluruh langkah tersebut.
Perilaku Konsumen yang Berubah
Kopi bukan sekadar minuman bagi sebagian konsumen. Kafe juga menjadi tempat bekerja, bertemu teman, dan menghabiskan waktu.
Starbucks menawarkan lebih dari secangkir kopi. Merek ini menjual suasana, kenyamanan, dan pengalaman yang menyertai produknya.
Namun, konsumen kini memiliki banyak alternatif. Kedai lokal, jaringan kopi berharga lebih terjangkau, kopi siap minum, dan kopi rumahan menawarkan pilihan berbeda.
Ketika konsumen semakin mempertimbangkan harga dan manfaat, merek premium harus membuktikan nilai yang mereka tawarkan. Reputasi saja tidak cukup untuk mempertahankan pelanggan.
Meski demikian, kita tidak bisa menyimpulkan konsumen Indonesia secara keseluruhan meninggalkan Starbucks tanpa data penjualan, transaksi, atau survei yang mendukungnya.
Pasar Besar, Belum Tentu Gerai Menguntungkan
Pasar yang kehilangan permintaan berbeda dari perusahaan yang mengevaluasi model bisnisnya.
Starbucks global sedang membenahi kinerja gerai dan pengalaman pelanggan. Sementara itu, Starbucks Indonesia beroperasi dalam struktur pengelolaan dan kondisi pasar berbeda.
Karena itu, penutupan gerai di Amerika Utara tidak otomatis menandakan masalah serupa di Indonesia. Sebaliknya, pertumbuhan jaringan domestik juga tidak menjamin semua gerai menguntungkan.
Pasar besar memang menawarkan peluang. Namun, perusahaan tetap membutuhkan pemilihan lokasi, pengendalian biaya, dan pemahaman terhadap perilaku konsumen.
Pasar yang menjanjikan bukan jaminan bahwa setiap gerai akan menghasilkan uang.
Ekspansi Besar, Bisnis Belum Tentu Sehat
Bagi konsumen, persaingan kedai kopi memberi lebih banyak pilihan. Harga, kualitas, kenyamanan, dan pengalaman bisa menjadi pertimbangan sebelum membeli.
Bagi pelaku usaha, pelajarannya lebih keras. Meniru merek besar atau membuka banyak cabang tidak otomatis menciptakan bisnis sehat.
Ekspansi membutuhkan perhitungan matang. Pemilik usaha harus memahami daya beli, biaya sewa, persaingan, frekuensi pembelian, dan keuntungan setiap cabang.
Jumlah gerai memang mudah dipamerkan. Namun, kemampuan mempertahankan bisnis secara berkelanjutan jauh lebih menentukan.
Pertumbuhan Gerai Bukan Ukuran Utama Keberhasilan
Starbucks global memperketat strategi gerainya. Sementara itu, kondisi Starbucks Indonesia perlu dinilai melalui data domestik, bukan sekadar mengikuti perkembangan di Amerika Utara.
Keduanya tidak menghadapi situasi yang identik. Namun, perubahan global memberikan pelajaran penting bagi bisnis ritel: pertumbuhan harus disertai perhitungan yang realistis.
Pada akhirnya, perusahaan tidak cukup hadir di pasar besar. Mereka harus memastikan lokasi, biaya, dan kebutuhan konsumen mendukung keberlanjutan bisnis.
Inilah pola yang perlu diperhatikan: gerai tidak bisa lagi dibuka hanya karena pasarnya terlihat besar.
Bagi Starbucks maupun kedai kopi lokal, pertanyaan terpenting bukan sekadar berapa banyak gerai yang bisa dibuka. Pertanyaannya, berapa banyak gerai yang benar-benar layak dipertahankan dan mampu menghasilkan keuntungan? @waras




