Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Balik Pintu Istana, Seberapa Jujur Nasihat Wantimpres?

by dimas
Oktober 3, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Di balik pintu Istana, 26 anggota Wantimpres menghadapi satu ujian: seberapa jujur nasihat mereka kepada Presiden dan seberapa kuat ruang untuk berbeda?

Tabooo.id – Pada Jumat, 2 Oktober 2026, Istana Negara kembali dipenuhi orang-orang yang mengucapkan sumpah.

Presiden Prabowo Subianto melantik 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres. Pratikno menjadi ketua, Hatta Rajasa wakil ketua, dan Muhammad Qodari sekretaris.

Di dalamnya terdapat tokoh dari beragam latar belakang. Ada akademisi, ulama, pengusaha, mantan pejabat, hingga figur yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah.

Rocky Gerung termasuk di dalamnya.

Namun, persoalan Wantimpres bukan sekadar siapa yang duduk di kursi itu. Pertanyaan yang lebih penting justru sederhana: berapa banyak suara yang benar-benar berani mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar Presiden?

Ini Belum Selesai

Langit Oranye, Napas Terancam: Kabut Asap Uji Tanggung Jawab Negara

Mengapa Publik Makin Skeptis terhadap Janji Pejabat?

Kekuasaan Tidak Kekurangan Nasihat

Nasihat selalu memiliki hubungan yang rumit dengan kekuasaan.

Seorang penasihat harus cukup dekat agar suaranya terdengar. Namun, ia juga membutuhkan jarak agar pandangannya tidak hilang karena kedekatan.

Niccolò Machiavelli sudah membicarakan persoalan itu hampir lima abad lalu. Dalam The Prince, ia memperingatkan penguasa tentang bahaya para penjilat.

Masalah tersebut masih relevan dalam bentuk yang berbeda. Kekuasaan dapat mengumpulkan banyak orang pintar dalam satu ruangan.

Namun, banyak kepala belum tentu menghasilkan banyak pandangan.

Sebuah ruangan dapat penuh dengan puluhan orang. Pada akhirnya, semua orang tetap bisa membawa satu suara yang sama.

Psikolog sosial Irving Janis menyebut salah satu risiko itu sebagai groupthink. Kelompok dapat mengutamakan kesepakatan daripada menguji pilihan lain.

Dalam konteks Wantimpres, persoalannya bukan semata jumlah orang pintar. Tantangan yang lebih penting adalah menjaga ruang untuk ketidaksetujuan.

Sebab, nasihat yang terlalu mudah menyetujui dapat kehilangan fungsi kritisnya.

26 Kursi dan Pertanyaan tentang Uang Publik

UU Nomor 64 Tahun 2024 mengubah ketentuan jumlah anggota Wantimpres. Aturan itu tidak lagi menetapkan batas maksimal sembilan anggota.

Jumlah anggota kini mengikuti kebutuhan Presiden dengan memperhatikan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan.

Karena itu, angka 26 tidak otomatis menjadi persoalan hukum.

Negara dengan persoalan yang luas memang membutuhkan banyak perspektif. Dari ekonomi hingga geopolitik, dari agama hingga kebudayaan, setiap bidang membawa kompleksitas sendiri.

Tetapi setiap kursi juga memiliki konsekuensi anggaran.

Perpres Nomor 15 Tahun 2026 menetapkan hak keuangan Ketua dan anggota Wantimpres sebesar Rp76,5 juta per bulan. Hak tersebut bersumber dari APBN. Anggota Wantimpres juga memperoleh fasilitas yang mengikuti fasilitas menteri.

Jika 26 orang menerima hak keuangan tersebut selama satu tahun penuh, nilainya sekitar Rp23,9 miliar.

Angka itu bukan realisasi belanja 2026. Para anggota baru dilantik pada 2 Oktober.

Perhitungan tersebut hanya menunjukkan skala biaya jika komposisi 26 anggota berlangsung selama satu tahun.

Karena itu, pertanyaan publik tidak berhenti pada apakah anggarannya sah.

Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting apa nilai publik yang lahir dari biaya tersebut?

Legalitas menjawab apakah negara boleh mengeluarkan anggaran. Akuntabilitas bertanya untuk apa uang itu digunakan dan apa manfaatnya bagi masyarakat.

Ketika Nasihat Berada di Balik Pintu

Wantimpres memiliki posisi yang berbeda dari lembaga politik lain.

Lembaga ini memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden. Anggotanya dapat memberikan pertimbangan ketika Presiden meminta maupun tanpa permintaan.

Namun, isi nasihat dan pertimbangan tersebut tidak dapat disebarluaskan.

Di satu sisi, kerahasiaan memiliki alasan. Presiden membutuhkan ruang untuk mendengar pandangan tanpa setiap percakapan berubah menjadi konsumsi publik.

Di sisi lain, ada paradoks.

Masyarakat dapat mengetahui berapa besar hak keuangan para anggota. Publik juga dapat mengetahui siapa saja yang duduk di dalamnya.

Namun, masyarakat tidak dapat mengetahui seluruh isi percakapan yang menjadi inti pekerjaan mereka.

Di sinilah akuntabilitas menemukan tantangannya.

Kerahasiaan isi nasihat tidak harus berarti hilangnya pertanggungjawaban. Publik tetap dapat menilai apakah lembaga bekerja, apakah tugasnya berjalan, dan apakah sumber daya negara menghasilkan manfaat.

Yang dirahasiakan adalah isi nasihat.

Bukan alasan untuk menghapus akuntabilitas lembaganya.

Anwar Usman dan Soal Kepercayaan

Persoalan lain muncul dari rekam jejak orang-orang yang mengisi kursi tersebut.

Ada Anwar Usman, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi.

Pada 7 November 2023, Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi menyatakan Anwar melakukan pelanggaran terhadap sejumlah prinsip kode etik dan perilaku hakim konstitusi. MKMK kemudian memberhentikannya dari jabatan Ketua MK.

Catatan tersebut merupakan bagian dari rekam publik Anwar.

Kini ia berada dalam institusi yang berbeda. Ia tidak lagi menjalankan fungsi sebagai Ketua MK, melainkan memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Pada saat yang sama, MK tengah menangani Perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 terkait sengketa hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2024. Perkara itu antara lain mempersoalkan syarat pendidikan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden.

Anwar merupakan paman Gibran.

Kedekatan keluarga tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan adanya intervensi. Anwar juga menyatakan tidak ingin mengintervensi ataupun menerima intervensi terkait perkara yang berjalan di MK.

Namun, kepercayaan publik tidak hanya tumbuh dari ada atau tidaknya intervensi.

Kepercayaan juga berkaitan dengan bagaimana lembaga dan pejabat mengelola potensi konflik kepentingan.

Itulah sebabnya rekam jejak tetap penting.

Nasihat mungkin berlangsung di ruang tertutup. Namun, orang yang menyampaikan nasihat membawa seluruh sejarah publiknya ke dalam ruangan tersebut.

Rocky Gerung dan Ujian Jarak

Kemudian ada Rocky Gerung.

Jika Anwar membawa pertanyaan tentang kepercayaan, Rocky membawa pertanyaan tentang jarak.

Rocky selama bertahun-tahun dikenal menyampaikan kritik dari luar pemerintahan. Kini, ia duduk di dalam lembaga yang memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Setelah pelantikan, Rocky mengatakan Wantimpres harus tetap kritis terhadap kebijakan pemerintah.

Pernyataan itu menarik karena posisi telah berubah, tetapi ia menyatakan sikapnya tetap.

“Saya cuma pindah dari luar ke dalam. Sikap saya tetap, pandangan saya tetap, radical break.”

Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa pengangkatan Rocky membuktikan Presiden ingin menerima kritik.

Kita juga tidak dapat menyimpulkan bahwa Presiden ingin menjinakkan kritik.

Motif tersebut hanya diketahui pihak yang mengambil keputusan.

Yang dapat diuji justru lebih sederhana.

Apakah kritik masih memiliki ruang setelah jarak dengan kekuasaan menjadi semakin dekat?

Pertanyaan itu tidak hanya berlaku untuk Rocky.

Ia berlaku untuk seluruh anggota Wantimpres.

Nasihat yang Paling Mahal

Keragaman latar belakang dapat memperkaya sebuah dewan.

Namun, pengalaman belum otomatis menjadi nasihat. Pengetahuan juga belum tentu menghasilkan keberanian.

Nasihat membutuhkan kemampuan melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Lebih dari itu, nasihat membutuhkan keberanian untuk mempertahankan pandangan ketika pandangan tersebut tidak menyenangkan penguasa.

Di sinilah ukuran Wantimpres sebenarnya berada.

Bukan pada 26 kursi.

Bukan pula pada berapa banyak tokoh besar yang duduk di dalamnya.

Pertanyaannya adalah apakah ruang tersebut mampu menghasilkan perbedaan pandangan yang berguna bagi Presiden dan negara.

Sebab Istana selalu memiliki pintu yang membawa orang masuk.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pintu itu tertutup.

Apakah masih ada seseorang yang berani berkata:

“Pak Presiden, mungkin kita keliru.”

Mungkin itulah nasihat yang paling mahal dalam sebuah republik. @dimas

Tags: AkuntabilitaskekuasaanNasihat PresidenPintu IstanaWantimpres

Kamu Melewatkan Ini

Anwar Usman di Wantimpres, Luka Etik Putusan 90 Belum Usai

Anwar Usman di Wantimpres, Luka Etik Putusan 90 Belum Usai

by dimas
Oktober 4, 2026

Anwar Usman kembali menjadi sorotan setelah masuk Wantimpres. Jejak pelanggaran etik Putusan 90 dan perkara Gibran kembali mengundang pertanyaan publik....

Rocky Gerung Masuk Wantimpres: Pengkritik Kini di Lingkar Kekuasaan

Rocky Gerung Masuk Wantimpres: Pengkritik Kini di Lingkar Kekuasaan

by dimas
Oktober 2, 2026

Rocky Gerung masuk Wantimpres setelah dilantik Prabowo. Dari pengkritik Istana, kini ia berada di lingkar kekuasaan dan memberi pertimbangan kepada...

Jabatan Publik: Pengabdian, Kekuasaan atau Risiko Hukum?

Jabatan Publik: Pengabdian, Kekuasaan atau Risiko Hukum?

by dimas
September 23, 2026

Jabatan publik berada di antara pengabdian, kekuasaan, dan risiko hukum. Bagaimana menjaga tanggung jawab, pengawasan, serta kepastian bagi pejabat? Tabooo.id...

Next Post
Tujuh Kali Reshuffle, Seberapa Jauh Pemerintahan Berubah?

Tujuh Kali Reshuffle, Seberapa Jauh Pemerintahan Berubah?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id