Aktivis Angkatan 66 itu meninggal di Gunung Semeru pada 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya. Ia pergi bersama sahabatnya, Idhan Lubis. Soe Hok Gie berencana merayakan ulang tahun ke-27 di Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Namun, rencana itu berubah menjadi perjalanan terakhirnya.
Tabooo.id – Pada 16 Desember 1969, Gie dan kawannya, Idhan Lubis, mengembuskan napas terakhir di kawasan Mahameru setelah menghirup gas beracun. Sehari kemudian, Gie seharusnya merayakan ulang tahunnya.
Ia lahir di Jakarta pada 17 Desember 1942. Namanya kemudian melekat dengan gerakan mahasiswa 1966, tulisan-tulisan kritis, serta kecintaannya terhadap gunung dan alam.
Dari Perpustakaan ke Catatan Kritis
Soe Hok Gie lahir dari pasangan Soe Lie Pit, seorang novelis yang dikenal dengan nama Salam Sutrawan, dan Nio Hoe An.
Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Kakaknya, Soe Hok Djie atau Arief Budiman, juga dikenal sebagai intelektual dan aktivis.
Sejak sekolah dasar, Gie bersama kakaknya sering mengunjungi perpustakaan umum dan taman bacaan di Jakarta.
Ia membaca karya sastra serius sejak usia muda, termasuk karya Pramoedya Ananta Toer. Latar belakang ayahnya sebagai penulis turut mendekatkan Gie dengan dunia sastra.
Ketika duduk di sekolah menengah pertama, Gie memperluas bacaannya. Ia membaca karya William Shakespeare, George Orwell, hingga Mochtar Lubis.
Bacaan tersebut ikut membentuk cara Gie melihat persoalan sosial di sekitarnya.
Saat bersekolah di Kanisius, ia memilih sastra sebagai bidang yang ia tekuni. Gie juga mulai menuangkan kegelisahan terhadap kondisi negara melalui catatan harian.
Ia mencatat berbagai pengalaman yang ia temui dalam kehidupan sehari-hari dengan gaya yang kritis dan tajam.
Gie, Mahasiswa yang Tidak Berhenti Membaca
Gie kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jurusan Sejarah, pada 1962 hingga 1969.
Di kampus, aktivitas intelektualnya semakin berkembang.
Ia dikenal sebagai mahasiswa yang gemar membaca dan berdiskusi. Buku menjadi bagian penting dalam kesehariannya. Di luar aktivitas membaca, Gie juga menyukai film dan kegiatan mendaki gunung.
Gie turut mendirikan organisasi mahasiswa pencinta alam di Universitas Indonesia.
Ia juga aktif menulis untuk sejumlah media. Tulisan-tulisannya muncul di Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya.
Bagi Gie, menulis menjadi salah satu cara untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus membaca kondisi sosial dan politik di sekitarnya.
Gie dan Gerakan Mahasiswa 1966
Memasuki masa perguruan tinggi, perhatian Gie terhadap kondisi politik Indonesia semakin kuat.
Ia tidak memilih bergabung dengan organisasi mahasiswa yang memiliki kedekatan dengan partai politik. Gie justru memilih Gerakan Mahasiswa Sosialis atau GMSos.
Pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, berbagai kebijakan pemerintah memunculkan kegelisahan di kalangan mahasiswa. Gie termasuk salah satu aktivis yang menyuarakan kritik terhadap kondisi tersebut.
Pada 1966, mahasiswa turun ke jalan membawa Tri Tuntutan Rakyat atau Tritura.
Tiga tuntutan tersebut meliputi pembubaran PKI, pembersihan Kabinet Dwikora, serta penurunan harga kebutuhan pokok.
Gie kemudian dikenal sebagai salah satu penggerak intelektual dalam gerakan mahasiswa saat itu. Ia juga berperan dalam proses terbentuknya aliansi antara mahasiswa dan militer.
Semeru dan Hari Terakhir Gie
Pada Desember 1969, Gie kembali ke gunung.
Ia mendaki Gunung Semeru bersama rombongan Mapala UI. Dalam perjalanan tersebut, Gie bersama Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Herman Lantan, dan sejumlah rekan lainnya menuju puncak Mahameru.
Namun, perjalanan itu berakhir tragis.
Pada 16 Desember 1969, Gie dan Idhan menghirup gas beracun di kawasan Mahameru. Keduanya meninggal dunia.
Usianya saat itu baru 26 tahun.
Keesokan harinya, 17 Desember, Gie seharusnya genap berusia 27 tahun.
Gunung yang selama ini menjadi tempatnya mencari ketenangan justru menjadi tempat terakhir dalam perjalanan hidupnya.
Pesan Terakhir yang Membawa Abunya Kembali ke Gunung
Keluarga dan rekan-rekan kemudian memakamkan Gie di Menteng Pulo pada 24 Desember 1969.
Dua hari kemudian, mereka memindahkan jenazahnya ke Pekuburan Kober, Tanah Abang.
Pada 1975, Ali Sadikin yang saat itu menjabat Gubernur DKI Jakarta membongkar Pekuburan Kober. Kebijakan tersebut membuat keluarga harus menghadapi rencana pemindahan kembali jenazah Gie.
Keluarga Soe Hok Gie menolak pemindahan tersebut.
Rekan-rekannya kemudian mengingat pesan Gie semasa hidup. Ia pernah menyampaikan keinginannya agar keluarga mengkremasi jasadnya dan menyebarkan abunya di gunung jika ia meninggal.
Keluarga akhirnya memenuhi pesan tersebut.
Mereka mengkremasi jenazah Gie dan menyebarkan abunya di Lembah Mandalawangi, Gunung Pangrango.
Gie dan Gunung yang Tidak Pernah Sekadar Gunung
Bagi Gie, gunung bukan sekadar tempat untuk mendaki.
Di tengah kegelisahan terhadap situasi politik, alam menjadi ruang untuk mengambil jarak, berpikir, dan mencari ketenangan.
Namun, pada Desember 1969, perjalanan itu berhenti di Semeru.
Gie pergi sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, bersama seorang sahabat yang mendampinginya dalam perjalanan terakhir.
Namanya kemudian tetap hidup melalui buku, catatan harian, tulisan jurnalistik, dan kisah perjalanan yang diwariskan kepada generasi setelahnya.
Soe Hok Gie meninggalkan satu potret tentang anak muda yang memilih membaca, menulis, berdiskusi, bergerak, lalu kembali ke gunung. @jeje








