Ada kebiasaan yang terasa terlalu biasa untuk dicurigai. Kopi dan Teh panas baru terasa nikmat ketika masih mengepul. Teh terasa kurang lengkap jika kita tidak perlu meniupnya beberapa kali sebelum meneguk.
Tabooo.id – Dalam banyak meja makan, Kopi dan teh dengan suhu panas justru menjadi bagian dari pengalaman. Namun, penelitian terbaru membawa satu pertanyaan yang mengganggu kenyamanan itu seberapa panas? sebenarnya apa harus terlalu panas?.
Angka 65°C Mengubah Cara Kita Melihat Secangkir Minuman
Studi yang terbit di International Journal of Cancer pada 08/09/2026 menganalisis hampir 1 juta orang dewasa di Inggris. Peneliti mengikuti 977.282 peserta selama lebih dari satu dekade.
Hasilnya menarik perhatian karena peneliti menemukan hubungan antara suhu minuman dan risiko esophageal squamous cell carcinoma (SCC), salah satu jenis kanker esofagus. Peserta yang memilih minuman sangat panas memiliki risiko SCC sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan peserta yang memilih minuman hangat.
Peneliti juga menemukan bahwa orang yang mengonsumsi sedikitnya enam minuman panas per hari memiliki risiko SCC sekitar 71 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang minum kurang dari enam.
Namun, ada satu catatan penting, Penelitian ini bersifat observasional. Peserta melaporkan sendiri suhu minuman yang mereka sukai. Karena itu, hasil penelitian menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa minuman panas secara langsung menyebabkan kanker pada seseorang.
Lalu, di mana letak angka 65°C? Badan Internasional untuk Penelitian Kanker atau IARC sejak 2016 memasukkan konsumsi minuman sangat panas, sekitar di atas 65°C, sebagai kemungkinan penyebab kanker pada manusia. Peneliti mengaitkan risikonya dengan kerusakan berulang pada lapisan esofagus akibat paparan panas.
Dengan kata lain, persoalannya mungkin bukan kopi atau teh. Tubuh kita bisa saja lebih bermasalah dengan suhunya.
Kebiasaan Kecil yang Terlihat Tidak Penting
Di sinilah persoalan menjadi lebih besar daripada secangkir kopi dan teh. Kita sering menilai risiko berdasarkan sesuatu yang terlihat.
Rokok menghasilkan asap, Alkohol membawa peringatan, Makanan tertentu memiliki label kandungan. Sementara suhu minuman hampir tidak pernah masuk dalam percakapan sehari-hari tentang kesehatan. Padahal, tubuh tetap menerima paparan tersebut.
Keren Papier, peneliti utama dari Oxford Population Health, mengatakan penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menentukan suhu minuman yang secara tepat berkaitan dengan peningkatan risiko tersebut.
Pernyataan itu penting. Sebab, angka tiga kali lipat mudah membuat pembaca panik jika mereka tidak memahami konteksnya.
Fiona Osgun dari Cancer Research UK juga mengingatkan bahwa risiko keseluruhan kanker esofagus tetap rendah. Ia menempatkan berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol sebagai langkah yang jauh lebih penting untuk menekan risiko kanker jenis ini. Artinya, penelitian ini bukan alasan untuk memusuhi kopi.
Risiko Relatif Bisa Menipu Persepsi
Ada jebakan lain dalam membaca penelitian kesehatan angka relatif sering terdengar lebih mengerikan daripada risiko absolut.
“Risiko tiga kali lipat” memang terdengar besar. Tetapi angka tersebut tidak otomatis berarti seseorang yang minum kopi panas akan terkena kanker.
Konteks populasi tetap penting, Studi Oxford menemukan 2.348 kasus kanker esofagus selama masa pengamatan. Dari jumlah itu, 1.045 kasus merupakan SCC dan 1.303 kasus merupakan adenokarsinoma. Hubungan suhu paling jelas muncul pada SCC, bukan adenokarsinoma.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tubuh tidak merespons semua jenis kanker esofagus dengan cara yang sama.
Di titik ini, literasi kesehatan menjadi penting. Masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi tentang apa yang berisiko, tetapi juga perlu memahami seberapa besar risikonya dan bagaimana membaca angka tersebut.
Yang Berubah Bukan Kopi dan Teh, Tapi Cara Kita Menikmatinya
Kebiasaan minum kopi dan teh tidak harus hilang. Yang mungkin perlu berubah justru ritual kecil sebelum meneguknya.
Tunggu beberapa menit. Biarkan uap berkurang. Jangan buru-buru mengejar sensasi panas hanya karena minuman baru selesai diseduh. Langkahnya sederhana. Bahkan terlalu sederhana.
Tetapi justru di situlah pesan penelitian ini terasa relevan. Tidak semua ancaman kesehatan hadir dalam bentuk dramatis. Sebagian muncul sebagai kebiasaan yang kita ulang setiap hari tanpa pernah mempertanyakannya. Tubuh tidak selalu memberi peringatan ketika sebuah kebiasaan mulai menjadi masalah.
Kopi tetap kopi dan Teh tetap teh. Yang perlu kita pikirkan mungkin hanya satu hal jangan sampai mengejar panasnya minuman membuat kita lupa menghitung risikonya.
Nikmatnya mungkin hanya beberapa menit. Kebiasaan yang kita ulang setiap hari bisa punya cerita jauh lebih panjang. @teguh








