Senin, September 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kita Mengejar Kopi dan Teh Panas, Tubuh yang Membayar Harganya?

by teguh
September 21, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Ada kebiasaan yang terasa terlalu biasa untuk dicurigai. Kopi dan Teh panas baru terasa nikmat ketika masih mengepul. Teh terasa kurang lengkap jika kita tidak perlu meniupnya beberapa kali sebelum meneguk.

Tabooo.id – Dalam banyak meja makan, Kopi dan teh dengan suhu panas justru menjadi bagian dari pengalaman. Namun, penelitian terbaru membawa satu pertanyaan yang mengganggu kenyamanan itu seberapa panas? sebenarnya apa harus terlalu panas?.

Angka 65°C Mengubah Cara Kita Melihat Secangkir Minuman

Studi yang terbit di International Journal of Cancer pada 08/09/2026 menganalisis hampir 1 juta orang dewasa di Inggris. Peneliti mengikuti 977.282 peserta selama lebih dari satu dekade.

Hasilnya menarik perhatian karena peneliti menemukan hubungan antara suhu minuman dan risiko esophageal squamous cell carcinoma (SCC), salah satu jenis kanker esofagus. Peserta yang memilih minuman sangat panas memiliki risiko SCC sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan peserta yang memilih minuman hangat.

Peneliti juga menemukan bahwa orang yang mengonsumsi sedikitnya enam minuman panas per hari memiliki risiko SCC sekitar 71 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang minum kurang dari enam.

Namun, ada satu catatan penting, Penelitian ini bersifat observasional. Peserta melaporkan sendiri suhu minuman yang mereka sukai. Karena itu, hasil penelitian menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa minuman panas secara langsung menyebabkan kanker pada seseorang.

Ini Belum Selesai

Beras Fortifikasi: Bagaimana Label Bisa Ubah Harga

Rapor Pemerintah: Siapa yang Menulis, Siapa yang Menilai?

Lalu, di mana letak angka 65°C? Badan Internasional untuk Penelitian Kanker atau IARC sejak 2016 memasukkan konsumsi minuman sangat panas, sekitar di atas 65°C, sebagai kemungkinan penyebab kanker pada manusia. Peneliti mengaitkan risikonya dengan kerusakan berulang pada lapisan esofagus akibat paparan panas.

Dengan kata lain, persoalannya mungkin bukan kopi atau teh. Tubuh kita bisa saja lebih bermasalah dengan suhunya.

Kebiasaan Kecil yang Terlihat Tidak Penting

Di sinilah persoalan menjadi lebih besar daripada secangkir kopi dan teh. Kita sering menilai risiko berdasarkan sesuatu yang terlihat.

Rokok menghasilkan asap, Alkohol membawa peringatan, Makanan tertentu memiliki label kandungan. Sementara suhu minuman hampir tidak pernah masuk dalam percakapan sehari-hari tentang kesehatan. Padahal, tubuh tetap menerima paparan tersebut.

Keren Papier, peneliti utama dari Oxford Population Health, mengatakan penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menentukan suhu minuman yang secara tepat berkaitan dengan peningkatan risiko tersebut.

Pernyataan itu penting. Sebab, angka tiga kali lipat mudah membuat pembaca panik jika mereka tidak memahami konteksnya.

Fiona Osgun dari Cancer Research UK juga mengingatkan bahwa risiko keseluruhan kanker esofagus tetap rendah. Ia menempatkan berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol sebagai langkah yang jauh lebih penting untuk menekan risiko kanker jenis ini. Artinya, penelitian ini bukan alasan untuk memusuhi kopi.

Risiko Relatif Bisa Menipu Persepsi

Ada jebakan lain dalam membaca penelitian kesehatan angka relatif sering terdengar lebih mengerikan daripada risiko absolut.

“Risiko tiga kali lipat” memang terdengar besar. Tetapi angka tersebut tidak otomatis berarti seseorang yang minum kopi panas akan terkena kanker.

Konteks populasi tetap penting, Studi Oxford menemukan 2.348 kasus kanker esofagus selama masa pengamatan. Dari jumlah itu, 1.045 kasus merupakan SCC dan 1.303 kasus merupakan adenokarsinoma. Hubungan suhu paling jelas muncul pada SCC, bukan adenokarsinoma.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tubuh tidak merespons semua jenis kanker esofagus dengan cara yang sama.

Di titik ini, literasi kesehatan menjadi penting. Masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi tentang apa yang berisiko, tetapi juga perlu memahami seberapa besar risikonya dan bagaimana membaca angka tersebut.

Yang Berubah Bukan Kopi dan Teh, Tapi Cara Kita Menikmatinya

Kebiasaan minum kopi dan teh tidak harus hilang. Yang mungkin perlu berubah justru ritual kecil sebelum meneguknya.

Tunggu beberapa menit. Biarkan uap berkurang. Jangan buru-buru mengejar sensasi panas hanya karena minuman baru selesai diseduh. Langkahnya sederhana. Bahkan terlalu sederhana.

Tetapi justru di situlah pesan penelitian ini terasa relevan. Tidak semua ancaman kesehatan hadir dalam bentuk dramatis. Sebagian muncul sebagai kebiasaan yang kita ulang setiap hari tanpa pernah mempertanyakannya. Tubuh tidak selalu memberi peringatan ketika sebuah kebiasaan mulai menjadi masalah.

Kopi tetap kopi dan Teh tetap teh. Yang perlu kita pikirkan mungkin hanya satu hal jangan sampai mengejar panasnya minuman membuat kita lupa menghitung risikonya.

Nikmatnya mungkin hanya beberapa menit. Kebiasaan yang kita ulang setiap hari bisa punya cerita jauh lebih panjang. @teguh

Tags: Gaya HidupHealth AwarenessHealthy LifestyleKanker EsofagusKanker KerongkonganKesehatanKopiLifestyle HealthSSCTeh

Kamu Melewatkan Ini

Kopi dan Teh Terlalu Panas: Studi 977 Ribu Orang Ungkap Risiko Kanker Esofagus

Kopi dan Teh Terlalu Panas: Studi 977 Ribu Orang Ungkap Risiko Kanker Esofagus

by teguh
September 20, 2026

Ada alasan kenapa banyak orang menikmati kopi dan teh selagi mengepul. Sensasi panas sering terasa seperti bagian dari kenikmatan pertama:...

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

by teguh
September 10, 2026

Polemik “goblok” hanya permukaan. Di bawahnya ada benturan antara kebebasan, kenyamanan publik, otoritas, dan negara. Kata “goblok” tiba-tiba masuk ke...

Lelah Kita, Bisnis Mereka: Saat Healing Jadi Komoditas

Lelah Kita, Bisnis Mereka: Saat Healing Jadi Komoditas

by Waras
Agustus 13, 2026

Ketika lelah berubah menjadi pasar, ketenangan tak lagi sekadar dicari. Ia dikemas, diberi harga, lalu dijual kembali kepada manusia yang...

Next Post
Prabowo Klaim Banyak Capaian, Survei Publik Justru Menunjukkan Tren Menurun

Prabowo Klaim Banyak Capaian, Survei Publik Justru Menunjukkan Tren Menurun

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id