Pahlawan Street Centre Madiun menyimpan sejarah panjang. Dulu bernama Residentslaan, kawasan ini menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi.
Tabooo.id: Madiun – Pahlawan Street Centre Madiun bukan sekadar kawasan ramai di Kota Madiun. Di balik wajah modernnya, kawasan ini menyimpan sejarah panjang sejak era kolonial Belanda.
Dulu, warga mengenal jalan ini dengan nama Residentslaan. Jalan tersebut menjadi salah satu jalur penting Kota Madiun. Kawasan ini juga tumbuh bersama pusat pemerintahan, perdagangan, dan berbagai fasilitas publik.
Sejarah Residentslaan tercatat dalam buku Nederlandsch-Indische Wegverkeersbepalingen En Het International Automobiel Verdrag Van Parijs Van 24 April 1926 yang terbit pada 1933.
Buku itu memuat keputusan pemerintah kolonial pada 25 Agustus 1933 Nomor 24 ayat (2) tentang lalu lintas jalan. Keputusan tersebut memasukkan Madiun ke dalam jalur utama yang menghubungkan sejumlah kota di Jawa.
Residentslaan Masuk Jalur Utama
Pada masa Hindia Belanda, Madiun masuk jalur lalu lintas utama bagian selatan Pulau Jawa.
Jalur tersebut menghubungkan Tanjung Priok, Jakarta, Bogor, Bandung, Cilacap, Kertosono, Jombang, Surabaya, hingga Tanjung Perak.
Di Madiun, jalur itu melewati sejumlah ruas jalan yang kini memiliki nama berbeda.
Rutenya bermula dari Madioenbrug atau kawasan Jembatan Manguharjo. Jalur kemudian berlanjut ke Magetanstraat, Aloon-aloon Zuid, Nangkingstraat, Residentslaan, Kediristraat, hingga Brug Piring.
Residentslaan menjadi salah satu bagian penting dalam jalur tersebut.
Kini, warga mengenal Residentslaan sebagai Jalan Pahlawan. Kawasan ini juga menjadi bagian dari Pahlawan Street Centre.
Nama jalan boleh berubah. Namun, perannya dalam perkembangan kota tetap meninggalkan jejak.
Jalan yang Mengikuti Kekuasaan
Residentslaan tumbuh dekat dengan pusat pemerintahan kolonial di Madiun.
Nama Residentslaan merujuk pada rumah residen Belanda yang berada di kawasan tersebut.
Rumah itu memiliki teras depan yang luas dengan pilar bergaya Indische Empire. Ruang pertemuannya juga menampilkan potret raja dan ratu Belanda.
Kawasan sekitar Residentslaan kemudian tumbuh dengan berbagai bangunan penting.
Ketua History Van Madiun, Septian Dwita Kharisma, menjelaskan keberadaan berbagai bangunan dengan fungsi pemerintahan, ekonomi, sosial, hingga ruang publik.
“Bangunan-bangunan yang dibangun di sepanjang Residentslaan antara lain blokhuis, Pasar Spoor, Residenthuis, Societeit Constanta, Assistant Residentwoning, Postkantoor, Tennisterrein, Stadstuin, hingga Raadhuis.” ungkapnya.
Deretan bangunan itu memperlihatkan posisi strategis Residentslaan.
Ada kantor pemerintahan, ada pasar, ada fasilitas olahraga dan Ada ruang publik. Kawasan ini juga memiliki berbagai fasilitas sosial.
Dari Pusat Pemerintahan ke Pusat Kota
Sejumlah bangunan di sepanjang Residentslaan masih meninggalkan jejak hingga sekarang. Banyak bangunan tersebut kini menjalankan fungsi berbeda.
Residenthuis kini menjadi rumah dinas Kepala Bakorwil I Madiun.
Societeit Constanta kini berkaitan dengan kompleks Kodim Dsj 081 Madiun. Sementara itu, Assistant Residentwoning berada di kawasan Korem Dsj 081.
Bangunan Postkantoor juga masih meninggalkan jejak sejarah di kawasan tersebut.
Tennisterrein kemudian menjadi Lapangan Tenis Pelti. Stadstuin kini menjadi kawasan Taman Makam Pahlawan.
Raadhuis atau balai kota juga menjadi bagian penting dari sejarah kawasan tersebut.
Bangunan lain ikut mengisi kawasan ini. Salah satunya Hotel Van Berensteijn atau Van Dijk yang kini dikenal sebagai Hotel Merdeka.
Ada pula Hotel La Residence. Gemeente Schouwburg atau gedung teater kota kini berada di kawasan Lawu Plaza.
Bangunan Theosofie Loge juga pernah menjadi tempat RRI.
Rangkaian bangunan tersebut membuat Residentslaan berkembang sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat aktivitas ekonomi dan sosial.
Dari kawasan inilah wajah pusat Kota Madiun ikut terbentuk.
Ketika Residentslaan Tenggelam
Namun, perjalanan jalan penting itu tidak selalu mulus.
Pada 1932, Residentslaan menghadapi banjir besar.
Luapan Bengawan Madiun membuat air menggenangi jalan hingga sekitar satu sampai satu setengah meter.
Banjir juga menggenangi Pabrik Rejoagung. Akibatnya, arus lalu lintas Madiun-Surabaya sempat berhenti.
Pemerintah kemudian mengambil sejumlah langkah.
Mereka menata saluran air dan menormalisasi kawasan Sumber Umis yang kini bernama Sumber Wangi.
Pemerintah juga memasang pipa, memperbaiki kebersihan kawasan, serta memperbaiki jalan.
Mereka kemudian membuat gorong-gorong di bawah Residentslaan untuk membantu aliran air dari kawasan Kampung Patoman.
Masalah itu menunjukkan satu hal.
Perkembangan kota tidak cukup hanya mengandalkan jalan. Kota juga membutuhkan sistem drainase, kebersihan, dan tata ruang yang memadai.
Ketika Jalan Mulai Terlalu Ramai
Beberapa tahun kemudian, Residentslaan menghadapi persoalan lain.
Pada 1939, kawasan ini mengalami kemacetan.
Cikar, mobil, sepeda, dan pejalan kaki memenuhi ruang jalan.
Persoalan semakin rumit karena sejumlah pejalan kaki memilih jalur kendaraan daripada trotoar.
Polisi kemudian mengatur lalu lintas.
Mereka menerapkan sistem satu arah. Mereka juga mengatur penggunaan trotoar dan mengendalikan lalu lintas kendaraan cikar.
Namun, proyek pemasangan rambu lalu lintas belum selesai.
Akibatnya, kemacetan tetap mengganggu aktivitas warga.
Hampir satu abad berlalu, persoalan jalan itu terasa familiar.
Kendaraan berubah. Kota berkembang. Namun, kebutuhan terhadap ruang jalan yang tertata tetap sama.
Jalan Berubah, Cerita Tetap Tinggal
Residentslaan kini menjadi Jalan Pahlawan dan bagian dari Pahlawan Street Centre.
Wajah kawasan itu berubah.
Bangunan berganti fungsi. Kendaraan semakin beragam. Aktivitas warga juga semakin padat.
Namun, sejarahnya tetap melekat pada ruang yang sama.
Dulu, jalan ini menjadi bagian dari jalur utama kolonial. Kawasan di sekitarnya kemudian tumbuh sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi.
Banjir pernah mengganggu aktivitas. Kemacetan juga pernah memaksa pemerintah mengatur lalu lintas.
Hari ini, generasi baru melewati jalan yang sama dengan cara berbeda.
Jalan bisa berganti nama. Bangunan bisa berganti fungsi. Tetapi sejarah sebuah kota tidak ikut pindah.
Pahlawan Street Centre bukan hanya ruang untuk melintas.
Kawasan ini menjadi salah satu potongan sejarah yang memperlihatkan perjalanan Madiun. Kota ini tumbuh, menghadapi masalah, lalu terus berubah.
Setiap kali kita melewati Jalan Pahlawan, kita sebenarnya sedang melewati cerita hampir satu abad tentang Kota Madiun.@eko







