Sebanyak 413 orang di SMKN 2 Yogyakarta mengalami mual, pusing dan diare usai menyantap MBG. Sampel makanan kini diuji untuk mencari penyebabnya.
Tabooo.id – Program Makan Bergizi Gratis seharusnya berhenti di satu hal perut kenyang dan tubuh lebih sehat. Namun, di SMKN 2 Yogyakarta, makanan yang dibagikan justru meninggalkan cerita berbeda.
Sebanyak 413 siswa, guru, dan karyawan mengalami mual, pusing, sakit perut hingga diare setelah mengonsumsi MBG pada Rabu, 16 September 2026. Penyebabnya belum terbukti secara laboratorium. Namun, investigasi awal menyoroti olahan ayam gongso yang diduga tidak matang sempurna.
Yang membuat kasus ini tidak bisa dianggap sekadar gangguan pencernaan adalah skalanya.
1.952 Porsi Dibagikan, Keluhan Muncul Malam Hari
Kepala Disdikpora DIY Suci Rohmadi menjelaskan, SMKN 2 Yogyakarta menerima 1.952 porsi MBG dari SPPG Caturtunggal, Depok, Sleman 03.
Makanan datang dalam dua sesi. Sesi pertama sekitar pukul 07.00 WIB. Sementara sesi kedua datang sebelum pukul 09.00 WIB.
Sekolah kemudian mendistribusikannya kepada siswa, guru, dan karyawan. Proses itu selesai sekitar pukul 09.00 WIB.
Sebelum pukul 10.00 WIB, seluruh penerima sudah mengonsumsi makanan tersebut.
Awalnya tidak ada alarm.
Kegiatan sekolah berjalan normal. Siswa pulang. Tidak ada keluhan yang tercatat saat itu.
Namun, malam harinya situasi berubah.
Sejumlah siswa, guru, dan karyawan mulai merasakan mual, pusing, sakit perut, hingga diare. Pada Kamis pagi, 17 September, keluhan semakin banyak.
Sekolah akhirnya menyebarkan angket.
Hasilnya mencatat 413 orang mengalami keluhan kesehatan.
Angka itu membuat persoalannya berubah. Ini bukan lagi cerita tentang satu orang yang sakit setelah makan.
Ini sudah menjadi persoalan yang menyentuh ratusan orang dalam satu lingkungan sekolah.
Ayam Gongso Masuk Radar
Sekitar pukul 08.30 WIB pada Kamis, sekolah berkoordinasi dengan SPPG.
Paket MBG yang belum dibagikan hari itu kemudian ditahan.
SPPG kembali ke dapur untuk melakukan investigasi internal. Sekitar pukul 11.00 WIB, pihak SPPG dan mitra dapur kembali ke sekolah.
Dari investigasi awal muncul dugaan bahwa ayam gongso tidak matang sempurna.
Tetapi kata pentingnya adalah dugaan.
Penyebab pasti belum dapat disimpulkan. Sampel makanan juga masih menjalani pemeriksaan laboratorium.
Polsek Jetis ikut melakukan koordinasi dan investigasi. Sementara fasilitas kesehatan juga menelusuri laporan siswa yang mengalami sakit perut.
Sekolah akhirnya menghentikan sementara penerimaan MBG pada Jumat, 18 September, sambil menunggu hasil investigasi.
Masalahnya Bukan Sekadar Ayam
Di sinilah kasus ini menjadi lebih besar daripada satu menu makan siang.
Memasak untuk puluhan orang tentu berbeda dengan memasak untuk ribuan penerima. Dalam skala besar, satu kesalahan kecil bisa ikut bergerak bersama ribuan porsi makanan.
Dan ketika makanan masuk ke tubuh anak sekolah, ruang untuk kesalahan seharusnya semakin sempit.
Apalagi kasus serupa juga muncul di sejumlah wilayah DIY dalam periode yang berdekatan.
Pada awal September, puluhan siswa dan guru di Bantul juga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG. Hasil uji laboratorium kemudian menemukan Bacillus sp pada galantin dalam kasus empat sekolah di Bantul.
Kasus lain juga dilaporkan di Kulon Progo. Di sana, puluhan siswa mengalami gejala setelah mengonsumsi menu MBG.
Artinya, publik tidak hanya membutuhkan jawaban tentang apa yang terjadi di SMKN 2 Yogyakarta.
Publik juga membutuhkan jawaban tentang bagaimana sistem keamanan pangan MBG bekerja dari dapur sampai meja makan.
Ketika “Gratis” Bukan Berarti Tanpa Risiko
Program MBG membawa satu janji sederhana: menyediakan makanan bergizi bagi penerima manfaat.
Namun, program berskala besar juga membawa konsekuensi besar.
Pada 16 September, BGN bahkan mengumumkan penangguhan operasional 1.276 SPPG yang belum memenuhi persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Dari jumlah itu, 821 SPPG masih dalam proses pendaftaran dan 447 SPPG telah mendaftar tetapi belum memenuhi syarat kelayakan.
Data tersebut tidak membuktikan bahwa SPPG Caturtunggal menjadi penyebab kasus di SMKN 2 Yogyakarta.
Tetapi data itu menunjukkan satu hal keamanan dan standar dapur menjadi bagian penting dalam ekspansi program MBG.
Karena makanan bukan sekadar paket.
Di balik satu kotak makan, ada bahan baku, dapur, pekerja, proses memasak, waktu distribusi, penyimpanan, hingga makanan masuk ke mulut penerima.
Satu mata rantai bermasalah bisa membuat seluruh rantai ikut dipertanyakan.
Ini Bukan Sekadar Kasus Diare
Empat ratus tiga belas orang bukan angka kecil.
Di balik angka itu ada siswa yang harus meninggalkan kelas. Ada guru yang terganggu aktivitasnya. Ada keluarga yang harus bertanya apakah anak mereka baik-baik saja.
Namun, ada satu hal yang juga harus dijaga jangan menyimpulkan penyebab sebelum hasil pemeriksaan keluar.
Sebab dugaan ayam tidak matang sempurna belum sama dengan bukti bahwa ayam tersebut menyebabkan seluruh keluhan.
Justru karena itulah pemeriksaan laboratorium penting.
Kasus ini pada akhirnya bukan sekadar soal ayam gongso.
Ini soal apakah sistem yang memberi makan dalam skala besar juga memiliki sistem pengawasan yang sama besarnya.
Dan bagi penerima MBG, pertanyaannya sederhana:
Makanan gratis memang membantu. Tetapi siapa yang memastikan setiap kotak benar-benar aman sebelum sampai ke meja makan? @dimas







