Aikido Hikaru Dojo Solo menjaga cahaya seni bela diri sejak 1997, melewati perubahan zaman, menempa disiplin, hormat, dan filosofi aikido.
Tabooo.id – Sebuah dojo tidak hanya mengajarkan teknik bela diri. Di dalamnya, seseorang belajar mengendalikan tubuh, menghormati orang lain, dan menghadapi tekanan tanpa selalu memilih benturan.
Perjalanan Aikido Hikaru Dojo Solo memperlihatkan proses tersebut.
Nama Hikaru muncul pada 2013. Namun, sejarahnya bermula jauh lebih awal, tepatnya pada 1997.
Saat itu, pendiri Hikaru mendirikan PTPN Aikido Solo di Radio PTPN Solo. Dari tempat tersebut, latihan aikido berkembang dan jumlah murid terus bertambah.
Seiring waktu, para murid menyebar ke beberapa dojo dan kota. Sebagian bahkan mendirikan dojo aikido sendiri.
Perjalanan itu membuat aikido bergerak melampaui satu ruang latihan.
Ilmu berpindah dari satu praktisi kepada praktisi lain. Pengalaman latihan juga ikut berjalan bersama para murid.
Namun, perjalanan tersebut menghadapi perubahan besar pada 2011.
Radio PTPN berganti pemilik. Kondisi itu membuat PTPN Aikido Solo tidak lagi dapat menggunakan gedung tersebut untuk latihan.
Tempat latihan hilang.
Rutinitas yang sudah berjalan bertahun-tahun ikut menghadapi ketidakpastian.
Namun, pendiri dojo tidak berhenti mencari jalan.
Dari Radio PTPN ke Manahan
Peluang baru muncul dua tahun kemudian.
Pada 2013, pendiri PTPN Aikido Solo bertemu Rista dari manajemen RPM Fitness Center. Dalam pertemuan itu, Rista menawarkan lokasi RPM Fitness Center di Manahan sebagai tempat latihan aikido.
Tawaran tersebut membuka babak baru.
Setelah mencapai kesepakatan, latihan kembali berjalan. Sensei Dwi kemudian membantu pendiri dojo sebagai asisten pelatih.
Pada fase yang sama, pendiri mengganti nama PTPN Aikido Solo menjadi Hikaru Aikido Dojo.
Perubahan nama itu tidak menghapus sejarah sebelumnya.
Hikaru tetap membawa pengalaman dari masa PTPN. Murid-murid lama juga tetap menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Dengan demikian, Hikaru tumbuh dari fondasi yang sudah terbentuk sejak 1997.
Ia bukan dojo yang muncul secara tiba-tiba.
Ia melanjutkan perjalanan yang sudah lebih dulu berjalan.
Mengapa Memilih Nama Hikaru?
Pemilihan nama Hikaru memiliki makna yang kuat.
Hikaru berarti menyinari atau memberikan cahaya.
Pendiri memilih nama itu dengan harapan Hikaru dapat memberikan cahaya kepada dojo-dojo aikido di sekitarnya.
Perjalanan para murid ikut memperkuat makna tersebut.
Sejumlah murid dari masa PTPN berkembang dan kemudian mendirikan dojo aikido sendiri. Mereka membawa ilmu yang pernah mereka pelajari ke tempat baru.
Proses itu menciptakan sebuah rantai pembelajaran.
Sensei mengajarkan ilmu.
Murid mempelajarinya.
Mereka kemudian berkembang dan sebagian meneruskan ilmu tersebut kepada orang lain.
Karena itu, sebuah dojo tidak hanya meninggalkan teknik kepada murid.
Ia juga dapat meninggalkan kemampuan untuk mengajarkan kembali.
Bagi Hikaru, proses tersebut menjadi bagian dari arti sebuah cahaya.
Cahaya tidak harus tinggal di satu tempat.
Ia dapat berpindah melalui orang-orang yang membawanya.
Ketika Aikido Menjadi Cara Bersikap
Hikaru memiliki tujuan untuk memperkenalkan aikido kepada masyarakat Solo.
Namun, pengenalan itu tidak hanya berfokus pada teknik.
Latihan juga mengajarkan nilai.
Anggota belajar saling menghormati. Mereka juga mengenal jiwa ksatria atau bushido.
Selain itu, latihan menekankan pentingnya menjaga agar lawan maupun teman berlatih tidak mengalami cedera.
Nilai tersebut kemudian diharapkan masuk ke kehidupan sehari-hari.
Salah satu prinsip aikido terlihat dari cara menghadapi serangan.
Ketika seseorang menghadapi serangan dalam bentuk apa pun, ia tidak harus selalu melawannya secara frontal. Ia dapat mengalirkan serangan tersebut agar dirinya tetap selamat.
Prinsip ini memberi gambaran tentang cara aikido menghadapi konflik.
Kekuatan tidak selalu membutuhkan balasan dengan kekuatan.
Seseorang dapat memilih mengendalikan responsnya. Ia juga dapat membaca arah tekanan sebelum menentukan tindakan.
Bagi Hikaru, latihan fisik menjadi pintu menuju pembentukan sikap.
Praktisi melatih tubuh di atas matras.
Pada saat yang sama, mereka belajar mengendalikan diri.
Nilai tersebut kemudian mendapat ujian sebenarnya ketika praktisi kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Bertahan Saat Matras Sepi
Perjalanan Hikaru tidak selalu berjalan ramai.
Jumlah murid naik dan turun. Ada masa ketika latihan penuh. Ada pula waktu ketika hanya sedikit orang yang datang.
Pandemi Covid-19 kemudian membawa tantangan yang lebih berat.
Aktivitas latihan sempat berhenti.
Ketika latihan kembali berjalan, jumlah murid belum langsung stabil.
Dalam kondisi seperti itu, pendiri Hikaru tetap datang ke tempat latihan.
Alan Sarwono tinggal di Klaten dan harus menempuh perjalanan menuju Solo.
Jarak tersebut tidak menghentikan langkahnya.
Bahkan ketika jumlah murid sedikit, ia tetap hadir untuk menjalankan latihan.
Di sinilah konsistensi seorang sensei mendapat makna.
Dojo tidak hanya membutuhkan murid.
Dojo juga membutuhkan orang yang menjaga latihan tetap berjalan ketika keadaan tidak ideal.
Waktu kemudian membawa perubahan.
Jumlah murid kembali bertambah.
Hikaru juga membuka kelas anak-anak setiap Sabtu.
Langkah tersebut memberi ruang bagi generasi baru untuk mengenal aikido.
Ketika Murid Lama Kembali
Di antara berbagai pengalaman yang muncul selama perjalanan Hikaru, ada satu momen yang terasa istimewa.
Murid-murid dari masa PTPN mulai kembali berlatih bersama.
Mereka pernah belajar aikido pada fase awal perjalanan.
Setelah itu, waktu membawa mereka ke berbagai arah.
Sebagian mendirikan dojo sendiri. Sebagian menjalani perjalanan masing-masing.
Kini, mereka kembali bertemu di atas matras.
Tempat latihan memang sudah berbeda.
Nama dojo juga sudah berubah.
Namun, pengalaman latihan tetap menjadi pengikat.
Pertemuan itu memperlihatkan satu hal penting.
Sebuah dojo tidak hanya meninggalkan kenangan melalui bangunan.
Orang-orang yang pernah berlatih di dalamnya juga membawa sejarah tersebut.
Ketika mereka kembali, bagian dari masa lalu ikut hadir di ruang latihan yang baru.
Kekeluargaan Tumbuh dari Latihan
Hikaru membangun suasana latihan dengan pendekatan kekeluargaan.
Anggota menggunakan grup WhatsApp untuk berkomunikasi. Di dojo, mereka membahas teknik dan mempraktikkannya bersama.
Proses belajar berjalan melalui interaksi.
Sensei memberikan arahan.
Anggota mencoba teknik.
Kemudian, mereka mengulang gerakan dan membahasnya bersama.
Latihan aikido membutuhkan kepercayaan.
Seorang praktisi harus memperhatikan pasangan latihannya. Ia juga perlu menjaga batas gerakan agar latihan tetap aman.
Karena itu, rasa hormat memiliki peran penting.
Praktisi tidak hanya belajar bagaimana melakukan teknik.
Mereka juga belajar bagaimana memperlakukan orang yang berada di hadapannya.
Dari kebiasaan tersebut, suasana kekeluargaan tumbuh.
Orang datang untuk belajar aikido.
Namun, proses latihan membuat mereka saling mengenal dan membangun hubungan.
Hikaru Membuka Pintu bagi Aliran Lain
Hikaru juga tidak membatasi diri pada lingkungan aikido.
Dojo menerima tamu dari berbagai kalangan yang ingin mengenal aikido. Praktisi dari dojo lain juga datang untuk berlatih bersama.
Hubungan tersebut kemudian berkembang ke praktisi bela diri dari aliran lain.
Pendiri Hikaru mendukung pertukaran pandangan antargaya bela diri. Ia juga mendukung kegiatan cross-over yang mempertemukan berbagai aliran.
Sikap itu menunjukkan keterbukaan dalam memandang dunia bela diri.
Setiap aliran mempunyai teknik dan karakter masing-masing.
Namun, perbedaan tersebut tidak harus menciptakan jarak.
Para praktisi dapat bertemu dan bertukar pengalaman. Mereka juga dapat mengenal cara latihan yang berbeda.
Dari pertemuan itu, rasa saling menghormati dapat tumbuh.
Bagi Hikaru, keterbukaan seperti ini juga membantu memperkenalkan aikido kepada masyarakat Solo.
Sebuah Dojo yang Tumbuh Melewati Perubahan
Perjalanan Hikaru memiliki beberapa titik penting.
Pada 1997, PTPN Aikido Solo memulai latihan di Radio PTPN Solo.
Kemudian pada 2011, perubahan kepemilikan membuat mereka harus meninggalkan gedung tersebut.
Pada 2013, latihan berlanjut di RPM Fitness Center Manahan. Nama Hikaru Aikido Dojo kemudian menjadi identitas baru.
Pandemi sempat menghentikan latihan.
Jumlah murid kemudian naik dan turun.
Hikaru kembali berkembang dan membuka kelas anak-anak.
Murid lama juga mulai kembali berlatih bersama.
Sementara itu, dojo tetap membuka ruang bagi praktisi dari dojo lain dan bela diri berbeda.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sebuah dojo tidak selalu berjalan dalam garis lurus.
Perubahan tempat dapat terjadi.
Jumlah murid dapat berubah.
Kondisi eksternal juga dapat memengaruhi latihan.
Namun, sebuah dojo dapat terus berjalan ketika orang-orang di dalamnya menjaga nilai yang menjadi dasar latihan.
Cahaya yang Tidak Berhenti di Satu Tempat
Di balik perjalanan Aikido Hikaru Dojo terdapat satu benang merah.
Ilmu tidak berhenti pada orang yang pertama kali menerimanya.
Murid-murid dari masa PTPN membawa pengalaman mereka ke tempat lain. Sebagian bahkan mendirikan dojo sendiri.
Murid lama kembali untuk berlatih.
Generasi anak-anak mulai mengenal aikido.
Praktisi dari dojo lain datang.
Praktisi bela diri lain juga mendapat ruang untuk bertukar pandangan.
Semua itu membuat perjalanan Hikaru terus bergerak.
Nama Hikaru sendiri menggambarkan harapan tersebut.
Cahaya tidak harus menetap di satu ruangan.
Ia dapat berpindah dari sensei kepada murid.
Kemudian, murid membawa cahaya itu kepada orang lain.
Proses tersebut membuat sejarah sebuah dojo memiliki umur yang lebih panjang daripada tempat latihannya.
Radio PTPN memang menjadi bagian dari masa lalu.
RPM Fitness Center Manahan kemudian menjadi ruang bagi babak berikutnya.
Tetapi yang paling penting bukan sekadar perpindahan tempat.
Yang paling penting adalah nilai yang ikut berpindah.
Saling menghormati.
Jiwa ksatria.
Menjaga keselamatan pasangan latihan.
Mengendalikan diri ketika menghadapi serangan.
Dan membawa prinsip aikido ke kehidupan sehari-hari.
Itulah perjalanan Aikido Hikaru Dojo Solo.
Sebuah dojo yang lahir dari perjalanan panjang, pernah kehilangan tempat latihan, menghadapi masa sepi, lalu terus menjaga latihan agar nilai aikido tidak berhenti di atas matras.
Sebab, pada akhirnya, cahaya tidak diukur dari seberapa terang ia menyala di satu tempat.
Cahaya diukur dari seberapa jauh ia mampu diteruskan.
Dan bagi Hikaru, perjalanan itu masih terus berjalan. @dimas







