Karhutla menerjang Jawa Timur dan Kalimantan Utara. BNPB mencatat sekitar 38 hektare lahan terbakar di Ponorogo, Pasuruan, dan Bulungan.
Tabooo.id – Kebakaran hutan dan lahan kembali muncul di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam laporan BNPB hingga Minggu, 13 September 2026, api menjalar di Jawa Timur dan Kalimantan Utara.
Ponorogo, Pasuruan, dan Bulungan menghadapi kebakaran dengan karakter berbeda. Namun, ketiganya menunjukkan satu masalah yang sama: musim rawan belum benar-benar berakhir.
Ponorogo: Lima Hektare Terbakar di Gunung Gede
Api muncul di kawasan Gunung Gede, Desa Koripan, Kecamatan Bungkal, Ponorogo, pada Kamis, 10 September 2026 sekitar pukul 12.00 WIB.
Vegetasi berupa daun jati dan alang-alang menjadi bahan bakar kebakaran. Petugas memperkirakan api membakar sekitar lima hektare lahan.
Tidak ada laporan korban jiwa maupun warga terdampak. BPBD Jawa Timur bersama BPBD Ponorogo langsung melakukan koordinasi dan asesmen di lokasi.
Petugas kemudian berhasil memadamkan api. Pada Sabtu, 12 September, kondisi lokasi sudah kondusif.
Tim juga tidak menemukan titik panas maupun kepulan asap. Sementara itu, petugas masih menyelidiki penyebab kebakaran.
Kondisi tersebut penting karena lahan kering dapat kembali terbakar ketika sumber panas muncul. Pemadaman satu titik belum otomatis menghilangkan risiko di kawasan sekitarnya.
Pasuruan: Api Diduga Berawal dari Pembakaran Sampah
Kebakaran berikutnya terjadi di Jalan Patiunus, Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugul Kidul, Pasuruan.
Peristiwa itu muncul pada Jumat, 11 September, sekitar pukul 09.20 WIB. Api membakar kawasan yang ditumbuhi alang-alang.
Petugas bergerak cepat dan menangani kebakaran pada hari yang sama. Mereka melakukan pemadaman hingga sekitar pukul 15.00 WIB.
BNPB menyebut pembakaran sampah sebagai dugaan sumber api. Api kemudian merambat ke area alang-alang.
Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 2,84 hektare. Tidak ada laporan korban meninggal maupun korban luka.
Kasus Pasuruan memperlihatkan sisi lain persoalan karhutla. Api besar tidak selalu bermula dari peristiwa besar.
Satu aktivitas sederhana dapat berubah menjadi kebakaran ketika kondisi lahan mendukung penyebaran api.
Bulungan: 30 Hektare Masuk Area Kebakaran
Situasi berbeda muncul di Desa Gunung Sari, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Kebakaran terjadi pada Jumat, 11 September. Tim gabungan kemudian bergerak untuk menekan penyebaran api dan mengamankan area sekitar.
Petugas memperkirakan kebakaran berdampak pada sekitar 30 hektare lahan. Tim masih melakukan asesmen untuk memastikan luasan tersebut.
Penanganan membutuhkan peralatan lebih besar. Tim mengerahkan satu truk tangki berkapasitas 5.000 liter dan dua tangki berkapasitas 4.000 liter.
KPH Bulungan juga menurunkan satu unit slip-on. Manggala Agni mengerahkan mesin pemadam, sementara tim lain membawa mini engine dan 30 gulungan selang.
Pada Sabtu, 12 September, petugas masih memantau kepulan asap. Mereka juga melakukan pembasahan untuk mencegah api kembali muncul.
Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, luas area yang terdampak membuat pemantauan tetap penting.
Tiga Lokasi, Satu Pesan
Ponorogo mencatat sekitar lima hektare lahan terbakar. Pasuruan sekitar 2,84 hektare, sedangkan Bulungan mencapai sekitar 30 hektare dalam perkiraan awal.
Angka tersebut tidak bisa kita baca hanya sebagai luas lahan yang kehilangan vegetasi. Di balik setiap hektare, terdapat ekosistem, udara, aktivitas warga, dan potensi kerugian yang ikut terancam.
Lebih jauh, pola waktunya juga menarik. Tiga kejadian muncul dalam rentang hanya beberapa hari pada periode yang sama.
Penyebab setiap kebakaran belum tentu sama. BNPB masih menyelidiki penyebab di Ponorogo dan Bulungan, sementara Pasuruan masih menggunakan dugaan pembakaran sampah sebagai sumber api.
Karena itu, publik perlu membedakan fakta, dugaan, dan kesimpulan. Jangan sampai satu kasus langsung menjadi alasan untuk menuduh seluruh kejadian memiliki penyebab serupa.
Status Siaga Jangan Berhenti di Atas Kertas
Jawa Timur sendiri masih menjalankan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2026.
Gubernur Jawa Timur menetapkan status tersebut melalui Keputusan Nomor 100.3.3.1/327/013/2026. Masa berlaku keputusan berlangsung sejak 26 Mei hingga 6 Oktober 2026.
Bulungan juga berada dalam status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Tahun 2026. Status itu berlaku sejak 20 Agustus hingga 31 Desember 2026.
Artinya, pemerintah sudah memiliki kerangka kewaspadaan. Tantangannya sekarang terletak pada kemampuan menerjemahkan status tersebut menjadi tindakan pencegahan di lapangan.
Petugas memang harus siap memadamkan api. Namun, masyarakat juga membutuhkan edukasi, pengawasan, dan respons cepat sebelum api meluas.
Api Hanya Gejala
Ini bukan sekadar tiga kebakaran. Ini sinyal bahwa risiko karhutla masih hidup.
Api hanya menjadi bagian paling terlihat dari persoalan. Di belakangnya terdapat lahan kering, vegetasi mudah terbakar, aktivitas manusia, serta kebutuhan pengawasan yang terus berjalan.
Kasus Pasuruan bahkan menunjukkan bagaimana aktivitas sehari-hari dapat memicu persoalan ketika api tidak terkendali. Sementara Ponorogo dan Bulungan mengingatkan bahwa penyebab kebakaran tidak boleh kita simpulkan sebelum penyelidikan selesai.
Di titik inilah pencegahan menjadi lebih penting daripada sekadar kecepatan pemadaman.
Sebab, pemadam kebakaran selalu datang setelah api muncul. Pencegahan bekerja jauh sebelumnya.
Ini Dampaknya Buat Kamu
Karhutla bukan hanya urusan petugas pemadam atau pemerintah daerah. Dampaknya bisa menjalar ke kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga perjalanan warga.
Semakin luas kebakaran, semakin besar pula kebutuhan sumber daya untuk mengendalikannya. Asap juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat ketika kebakaran berkembang dan kondisi angin membawa partikelnya ke wilayah permukiman.
Karena itu, perilaku sederhana ikut menentukan. Jangan membakar sampah sembarangan, jangan meninggalkan sumber api di lahan terbuka, dan segera laporkan titik api kepada petugas.
Langkah kecil tersebut memang tidak terdengar heroik. Namun, pencegahan selalu lebih murah daripada mengejar api yang sudah menyebar.
Api Bisa Padam, Risiko Belum Tentu
Ponorogo sudah kondusif. Pasuruan berhasil menangani kebakaran pada hari yang sama. Bulungan masih membutuhkan pemantauan dan pembasahan untuk mencegah kemunculan api kembali.
Kabar itu memberi satu pelajaran penting. Memadamkan api menyelesaikan kejadian, tetapi belum tentu menyelesaikan risikonya.
Musim rawan masih berlangsung. Status siaga juga masih berjalan di sejumlah wilayah.
Jadi, pertanyaannya bukan hanya siapa yang memadamkan api?
Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang memastikan api berikutnya tidak pernah sempat menyala? @dimas








