Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tragedi Irene Sokoy: Potret Gelap Layanan Kesehatan Papua

by dimas
November 22, 2025
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Regional – Gubernur Papua Matius Derek Fakhiri berdiri di ruang sederhana milik keluarga Irene Sokoy. Udara malam terasa berat ketika ia menyampaikan permintaan maaf kepada mereka permintaan maaf yang lahir dari kemarahan sekaligus rasa bersalah.

“Saya mohon maaf atas kebodohan jajaran pemerintah dari atas sampai bawah,” ujarnya lirih. Kalimat itu tidak muncul begitu saja ia tahu sistem kesehatan Papua sedang runtuh di depan matanya.

Kunjungannya pada Jumat malam itu berubah menjadi momen pengakuan publik rumah sakit tidak berfungsi, dokter minim, dan administrasi justru menghalangi pertolongan. Fakhiri seakan melihat langsung bagaimana kebijakan yang tampak rapi di atas kertas berubah menjadi jebakan bagi warga yang membutuhkan bantuan cepat.

Dari Satu Pintu ke Pintu Lain yang Sama-Sama Tertutup

Siang itu, kontraksi Irene mulai kuat. Keluarganya segera membawa ia dengan speedboat menuju RSUD Yowari. Mereka berharap Irene segera mendapat tindakan medis. Namun harapan itu runtuh ketika perawat mengatakan dokter kandungan sedang tidak berada di tempat. Satu-satunya spesialis Obgyn sedang berada di luar kota. Wajah keluarga langsung menegang waktu terus berjalan, sedangkan bantuan tidak muncul.

Berkas rujukan yang seharusnya cepat keluar justru tertahan. Sementara Irene menahan nyeri di ruang yang seharusnya menyelamatkannya, petugas sibuk merapikan administrasi. Ketika malam tiba, keluarga memutuskan membawa Irene ke RS Dian Harapan.

Ini Belum Selesai

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

Mereka melaju dengan ambulans, namun di tengah perjalanan rumah sakit memberi kabar ruang kebidanan penuh, dokter spesialis tidak siap. Keluarga tidak punya waktu untuk bingung mereka tetap melanjutkan perjalanan, berharap ada celah pertolongan.

Setibanya di RSUD Abepura, info baru muncul ruang operasi sedang direnovasi. Irene hanya bisa menunggu di mobil, menahan rasa sakit yang makin intens. Mereka kembali bergerak ke RS Bhayangkara. Tetapi harapan kembali kandas ruang kelas III penuh. Rumah sakit menawarkan ruang VIP dengan syarat uang muka Rp 4 juta. Keluarga kebingungan mereka tidak membawa uang sebanyak itu.

Ambulans masih terus berjalan dari satu gedung ke gedung lain, tetapi setiap gedung memberi alasan yang berbeda. Namun semua alasan itu memunculkan kenyataan yang sama Irene dibiarkan menunggu tanpa tindakan nyata. Ketika ambulans hendak menuju RSUD Jayapura, tubuhnya mulai kejang. Mereka terpaksa putar balik.

Dalam perjalanan kembali ke RS Bhayangkara, Irene dan bayinya meninggal.

Alasan Silih Berganti, Hasil Tetap Sama

Setelah kasus ini ramai dibicarakan publik, empat rumah sakit mencoba memberi klarifikasi. RSUD Yowari menjelaskan bahwa mereka memiliki satu dokter Obgyn saja. RS Dian Harapan menegaskan bahwa ruang NICU dan kebidanan sudah penuh. RSUD Abepura menyebut renovasi ruang operasi sebagai kendala utama. RS Bhayangkara menyatakan tidak menolak pasien, tetapi kapasitas ruang kelas III habis.

Semua institusi berpegang pada aturan masing-masing. Klaim itu terdengar masuk akal dari sudut pandang administrasi. Namun tragedi Irene memperlihatkan sisi lain aturan berjalan, tapi nyawa melayang. Tidak satu pun rumah sakit mengambil inisiatif menyelamatkan pasien dengan tindakan darurat.

Setiap rumah sakit sibuk menunjukkan alasan, tetapi tidak ada yang menyediakan solusi.

Rakyat Papua Menanggung Akibat, Sistem Tetap Dingin

Di tengah hiruk-pikuk klarifikasi itu, masyarakat Papua kembali menjadi pihak yang harus menerima kenyataan pahit. Fasilitas kesehatan mereka tampak megah dari luar, namun isi di dalamnya penuh keterbatasan. Alat tidak lengkap, tenaga medis minim, dan birokrasi kaku menghambat langkah-langkah darurat.

Sementara itu, struktur birokrasi tetap aman di balik regulasi. Kata “penuh”, “cuti”, “renovasi” seluruh alasan itu menjadi tameng. Sistem berhasil melindungi dirinya sendiri, tetapi tidak berhasil menjaga warganya.

Gubernur Fakhiri berencana mengevaluasi seluruh rumah sakit, mencopot pejabat yang lalai, dan meminta Kementerian Kesehatan turun tangan. Tetapi masyarakat Papua sudah melewati terlalu banyak evaluasi yang berakhir tanpa perubahan berarti.

Janji tidak lagi cukup mereka butuh layanan yang benar-benar hidup.

Ketika Administrasi Menjadi Penguasa dan Nyawa Jadi Detail Sampingan

Dalam tragedi Irene, satu hal menjadi jelas: administrasi lebih berkuasa daripada kemanusiaan. Prosedur rujukan memakan waktu, layanan BPJS menjadi hambatan, kelas perawatan membatasi ruang gerak keluarga. Semua hal itu mengulur waktu, padahal setiap menit menentukan hidup atau mati.

Fakhiri berkata dengan tegas, “Layani dulu pasien, baru urus yang lain.” Prinsip itu seharusnya menjadi pondasi. Sayangnya, di lapangan, prinsip tersebut terkubur oleh tumpukan formulir dan regulasi yang tidak fleksibel.

Papua membutuhkan rumah sakit yang memprioritaskan tindakan cepat, bukan yang bersembunyi di belakang kelengkapan dokumen. Mereka membutuhkan dokter yang siap menangani urgensi, bukan jadwal yang mengabaikan kondisi darurat. Mereka membutuhkan sistem yang mengutamakan manusia, bukan mekanisme yang kaku.

Akhir yang Tidak Seharusnya Terjadi

Ada satu momen yang merangkum seluruh tragedi ini ambulans yang berputar balik. Pergerakan sederhana itu menjadi simbol perjalanan Irene sepanjang malam berputar tanpa arah, tanpa pegangan, tanpa kepastian. Dari gedung ke gedung, ia mencari pertolongan yang seharusnya mudah didapat.

Namun sistem memilih bekerja seperti mesin yang tidak peduli terhadap waktu. Ketika Irene menutup mata untuk terakhir kalinya, Papua kembali kehilangan warganya bukan karena kurangnya teknologi, tetapi karena tidak adanya keberpihakan.

Yang merenggut nyawa Irene dan bayinya bukan semata komplikasi persalinan. Sistem kesehatan yang macet, birokrasi yang lambat, dan ketidakberanian mengambil keputusanlah yang mengakhirinya.

Dan itulah ironi paling tragis dari layanan kesehatan yang seharusnya melindungi, bukan membiarkan. @dimas

Kamu Melewatkan Ini

Pati Menagih, Bangkalan Membela: Dua Suara Daerah Menuju Jakarta

Pati Menagih, Bangkalan Membela: Dua Suara Daerah Menuju Jakarta

by dimas
Agustus 23, 2026

Pati menagih pengesahan RUU Perampasan Aset, sementara Bangkalan membela program Prabowo. Dua suara daerah bergerak menuju Jakarta dengan tujuan berbeda....

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

by teguh
Agustus 23, 2026

Di balik 1.012 pusaka yang menurut pengelola Museum keris telah teregistrasi, ada pekerjaan sunyi untuk merawat benda, menjaga cerita, dan...

Lewat Karnaval, SD Tarakanita Tumbuhkan Kreativitas Anak

Lewat Karnaval, SD Tarakanita Tumbuhkan Kreativitas Anak

by eko
Agustus 23, 2026

Karnaval SD Tarakanita Solo Baru memberi ruang bagi anak mengenal budaya, membangun kreativitas, dan belajar kebersamaan di luar kelas. Tabooo.id...

Next Post
Hoaks Kematian Rano Karno: Drama Duka yang Dibuat-Buat

Hoaks Kematian Rano Karno: Drama Duka yang Dibuat-Buat

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id