Ile Lewotolok erupsi dan abu vulkanik menghujani 11 desa di Lembata. Abu berdampak pada pertanian, air bersih, serta kesehatan warga.
Tabooo.id: Lembata – Abu vulkanik kembali turun di sejumlah wilayah Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Bukan sekali dua kali, debu dari erupsi Gunung Ile Lewotolok kini disebut muncul hampir setiap hari.
Sebanyak 11 desa terdampak. Wilayah itu meliputi Napasabok, Bunga Muda, Lamawara, Amakaka, Tanjung Batu, Waowala, Beutaran, Tagawiti, Dulitukan, Palilolon, dan Kolipadan.
Camat Ile Ape Laurens Manuk mengatakan abu menyebar cukup masif. Angin bertiup dari timur tenggara menuju barat laut.
“Setiap hari selalu ada debu letusan, bahkan belakangan ini semakin banyak,” ujar Laurens dilansir dari Kompas.com, Selasa (8/9/2026).
Debu itu tidak hanya mengubah warna atap atau jalan desa. Dampaknya mulai masuk ke ruang hidup warga.
Ladang Jadi Korban Pertama
Sektor pertanian menjadi salah satu bagian yang paling terasa terdampak. Tanaman sayuran warga rusak setelah terpapar abu vulkanik.
Tanaman mangga juga menghadapi ancaman. Abu dapat mengganggu proses penyerbukan bunga sehingga produksi buah dikhawatirkan tidak optimal.
Bagi warga Ile Ape, persoalannya bukan sekadar tanaman yang terlihat kotor.
Pertanian merupakan bagian dari kehidupan dan penghidupan masyarakat. Ketika tanaman terganggu, ancamannya bergerak dari kebun menuju dapur.
Masalahnya kemudian merembet ke kebutuhan paling dasar air.
Sumur galian yang selama ini menjadi sumber air warga ikut tercemar abu vulkanik. Akibatnya, kebutuhan air bersih menjadi semakin mendesak.
Ketika Abu Masuk ke Tubuh
Warga juga mulai mengeluhkan dampak kesehatan.
Laurens menyebut sejumlah warga mengalami mata perih, kulit gatal, hingga gangguan penglihatan setelah terpapar abu.
Namun, kekhawatiran terbesar muncul dalam satu hingga dua hari terakhir.
Menurut Laurens, terdapat beberapa peristiwa kematian warga yang diduga berkaitan dengan gangguan pernapasan. Ia mengatakan ada warga yang mengalami sesak napas.
“Kami sempat berdiskusi di kantor karena ada satu dua peristiwa kematian belakangan ini itu teridentifikasi akibat dari sesak napas,” kata Laurens.
Meski begitu, ia tidak menyimpulkan abu vulkanik sebagai penyebab langsung kematian tersebut.
Menurut Laurens, warga yang meninggal mungkin memiliki penyakit bawaan. Kondisi itu, kata dia, diduga semakin berat setelah terpapar debu letusan.
Penyebab pasti kematian tetap membutuhkan pemeriksaan medis.
Poin ini penting. Dalam situasi bencana, kekhawatiran publik mudah berubah menjadi kesimpulan. Karena itu, dugaan harus tetap dipisahkan dari fakta medis yang sudah terkonfirmasi.
Warga Membutuhkan Masker dan Air
Di tengah abu yang terus datang, kebutuhan warga kini sangat sederhana.
Masker menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurangi paparan debu. Warga juga membutuhkan penutup kepala agar abu tidak terus menempel pada tubuh.
Selain itu, pasokan air bersih menjadi persoalan yang tidak kalah genting.
Pemerintah kecamatan telah berkoordinasi dengan BPBD untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak.
Laurens berharap distribusi bantuan dapat berlangsung dalam satu hingga dua hari.
Ini Bukan Sekadar Hujan Abu
Gunung meletus memang peristiwa alam. Namun, dampaknya tidak pernah berhenti sebagai urusan geologi.
Abu jatuh ke tanaman. Tanaman rusak. Sumur tercemar. Warga membutuhkan masker. Keluhan kesehatan muncul. Pada saat yang sama, aktivitas ekonomi masyarakat ikut tertekan.
Rantai dampaknya panjang.
Karena itu, hujan abu di 11 desa Ile Ape bukan sekadar cerita tentang gunung yang sedang aktif. Ini tentang bagaimana sebuah erupsi perlahan mengubah cara warga makan, minum, bekerja, dan menjaga kesehatan.
Bencana tidak selalu datang dalam bentuk ledakan besar. Kadang, ia turun perlahan seperti debu.
Hari demi hari.
Menempel di daun. Masuk ke rumah. Mengotori air. Mengganggu pernapasan.
Dan ketika bantuan belum tiba, warga harus bertahan dengan apa yang mereka punya.
Bagi masyarakat Ile Ape, pertanyaan terpenting sekarang bukan hanya kapan Gunung Ile Lewotolok kembali erupsi.
Pertanyaannya lebih dekat dan lebih mendesak berapa lama warga harus hidup dengan abu sebelum udara, air, dan ladang mereka kembali aman? @dimas








