Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

B.M. Diah, Wartawan Penjaga Naskah Proklamasi

by eko
September 8, 2026
in Figures
A A
Home Figures
Share on Facebook
Share on Twitter
B.M. Diah menjaga naskah Proklamasi yang hampir terbuang dan ikut menyebarkan kabar kemerdekaan Indonesia pada 1945.

Tabooo.id: B.M. Diah bukan hanya wartawan yang ikut menyebarkan kabar kemerdekaan. Ia juga menjaga naskah Proklamasi yang hampir masuk keranjang sampah.

B.M. Diah punya satu keputusan kecil yang kemudian punya arti besar.

Ia melihat sebuah kertas yang hampir masuk keranjang sampah.

Diah mengambilnya.

Kertas itu membawa jejak dari lahirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Ini Belum Selesai

Profil Suahasil Nazara: Dari Dosen UI ke Kursi Menteri Keuangan

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Memilih Jalan sebagai Wartawan

B.M. Diah lahir di Kotaraja, Banda Aceh, pada 7 April 1917.

Nama lengkapnya Burhanuddin Mohammad Diah.

Ia memilih dunia jurnalistik sebagai jalan hidup.

Pilihan itu membawanya dekat dengan arus informasi pada masa perjuangan kemerdekaan.

Pada 17 Agustus 1945, Indonesia memasuki babak baru.

Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan. Setelah itu, kabar tersebut harus segera menyebar.

Mohammad Hatta meminta sejumlah anak muda dari kalangan pers untuk membantu menyampaikan berita kemerdekaan.

B.M. Diah ikut menjalankan tugas tersebut.

Bagi Diah, berita bukan sekadar tulisan.

Berita harus sampai kepada masyarakat.

Ketika Diah Melihat Naskah Itu

Peran Diah tidak berhenti pada penyebaran berita.

Ia juga menemukan sesuatu yang hampir hilang.

Setelah Soekarno menulis rancangan Proklamasi, para tokoh menyepakati teks tersebut.

Sayuti Melik kemudian mengetik naskah final.

Setelah proses itu, naskah tulisan tangan Soekarno masuk ke keranjang sampah.

Diah melihatnya.

Ia mengambil kertas tersebut.

Lalu, ia menyimpannya.

Keputusan itu tidak membutuhkan panggung.

Tidak ada sorotan.

Tidak ada perayaan.

Hanya ada seseorang yang memilih menyimpan sebuah kertas.

Namun, pilihan sederhana itu kelak memberi nilai besar pada perjalanan sejarah Indonesia.

Diah Menjaganya Selama Puluhan Tahun

Diah tidak langsung menyerahkan naskah tersebut.

Ia menyimpannya selama puluhan tahun.

Sejak 1945, naskah itu tetap berada dalam penjagaannya.

Dalam waktu yang panjang itu, Indonesia mengalami banyak perubahan.

Generasi berganti.

Pemerintahan berganti.

Zaman pun berubah.

Diah tetap menyimpan naskah tersebut.

Pada 19 Mei 1992, ia menyerahkannya kepada Presiden Soeharto.

Setelah itu, negara menyerahkan dokumen tersebut kepada Arsip Nasional Republik Indonesia.

Kini, naskah tulisan tangan Proklamasi menjadi bagian penting dari arsip sejarah Indonesia.

Wartawan yang Menjaga Ingatan

Kisah Diah menunjukkan sisi lain dunia jurnalistik.

Wartawan tidak hanya mencari dan menulis berita.

Wartawan juga bisa menjaga jejak sebuah peristiwa.

Diah melakukan keduanya.

Ia ikut menyebarkan kabar kemerdekaan.

Ia juga menjaga naskah yang berkaitan dengan proses lahirnya Proklamasi.

Di titik itu, peran Diah menjadi lebih menarik.

Ia tidak berdiri sebagai tokoh utama saat Soekarno membacakan Proklamasi.

Namun, ia berada dekat dengan arus sejarah.

Ia melihat.

Ia mengambil keputusan.

Ia menyimpan.

Tiga tindakan sederhana itu kemudian meninggalkan jejak panjang.

Nilai Besar dari Sebuah Keputusan Kecil

Kita sering mengukur seorang tokoh dari panggung yang ia miliki.

Nama besar.

Jabatan.

Pidato.

Atau peristiwa besar yang ia pimpin.

Kisah B.M. Diah menawarkan ukuran yang berbeda.

Kadang, karakter seseorang terlihat dari keputusan kecil.

Diah melihat sebuah kertas.

Orang lain mungkin menganggapnya tidak lagi berguna.

Diah berpikir berbeda.

Ia memilih menyimpannya.

Pilihan itu membuat sebuah jejak sejarah tetap ada.

B.M. Diah dan Warisan yang Tersisa

B.M. Diah meninggalkan cerita yang lebih besar dari profesinya sebagai wartawan.

Ia menunjukkan bahwa menjaga sejarah tidak selalu membutuhkan tindakan besar.

Kadang, kita hanya perlu peduli pada sesuatu yang orang lain abaikan.

Sebuah kertas.

Sebuah catatan.

Sebuah benda kecil yang menyimpan cerita besar.

Itulah sisi menarik dari sosok B.M. Diah.

Ia tidak hanya mengejar berita.

Ia ikut menjaga bukti dari sebuah zaman.

Dan pada akhirnya, sejarah mengingatnya bukan hanya karena apa yang ia tulis.

Sejarah juga mengingat apa yang ia pilih untuk simpan.

Sebab kadang, satu keputusan kecil bisa membuat sebuah bangsa tetap punya jejak masa lalunya.

Tags: B.M. DiahNaskah ProklamasiSejarah KemerdekaanSejarah Pers

Kamu Melewatkan Ini

17-8-45: Formasi Paskibraka dan Makna di Baliknya

17-8-45: Formasi Paskibraka dan Makna di Baliknya

by dimas
Agustus 16, 2026

17-8-45 Formasi Paskibraka dan Makna di Baliknya mengungkap sejarah, simbol, dan pesan di balik formasi Paskibraka dalam upacara kemerdekaan. Tabooo.id...

Soekarno Mandor Romusha? Sejarah Ternyata Jauh Lebih Rumit

Soekarno Mandor Romusha? Sejarah Ternyata Jauh Lebih Rumit

by dimas
Mei 29, 2026

Benarkah Soekarno mandor romusha? Di balik tuduhan kolaborator Jepang, tersimpan dilema politik, strategi kemerdekaan, dan sejarah yang jauh lebih rumit....

Next Post
Kasus Munir dan 17 Peristiwa HAM: Mengapa Impunitas Terus Berulang?

Kasus Munir dan 17 Peristiwa HAM: Mengapa Impunitas Terus Berulang?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id