Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Video Pendek vs Buku: Krisis Membaca di Era Algoritma

by dimas
September 8, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Video pendek dan algoritma mengubah cara kita memberi perhatian. Benarkah kebiasaan scroll membuat kita makin sulit membaca dan memahami bacaan panjang?

Tabooo.id – Ada masa ketika menunggu menjadi bagian dari kehidupan.

Orang menunggu kereta sambil membaca buku. Mereka duduk di halte dengan novel di tangan. Sebagian membawa bacaan hanya untuk mengisi waktu kosong.

Sekarang, waktu kosong hampir tidak pernah benar-benar kosong.

Ponsel selalu ada. Satu sentuhan membuka video. Beberapa detik kemudian, konten lain muncul. Sebelum pikiran selesai mencerna satu informasi, algoritma sudah menawarkan informasi berikutnya.

Kita menyebutnya hiburan.

Ini Belum Selesai

Sound Horeg Diatur Negara, Setelah Tiga Orang Meninggal

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

Namun, ada pertanyaan yang lebih mengganggu apa yang terjadi pada kemampuan kita untuk bertahan membaca sesuatu yang panjang?

Dulu Kita Mencari Bacaan, Sekarang Bacaan Mencari Kita

Buku meminta satu hal yang semakin mahal: perhatian.

Ketika membaca novel, kita mengikuti cerita dari halaman ke halaman. Saat membaca laporan panjang, kita menyimpan informasi, memahami konteks, lalu menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain.

Tidak ada tombol untuk mengganti cerita setiap lima detik.

Sebaliknya, dunia digital bekerja dengan logika berbeda.

TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menawarkan konten pendek yang terus bergerak. Pengguna tidak perlu mencari tontonan berikutnya karena sistem rekomendasi terus menyediakannya.

Di sinilah ekonomi perhatian bekerja.

Platform digital berlomba mendapatkan waktu dan perhatian manusia. Semakin lama pengguna bertahan, semakin besar peluang platform menampilkan konten dan iklan.

Dengan demikian, perhatian berubah menjadi komoditas.

Kita mungkin merasa sedang memilih video. Pada saat yang sama, algoritma mempelajari pilihan tersebut untuk menentukan konten berikutnya.

Masalahnya Bukan Video Pendek

Video pendek sebenarnya bukan musuh.

Format tersebut dapat membantu orang menemukan informasi dengan cepat. Selain itu, konten edukasi bisa menjelaskan gagasan rumit melalui bahasa yang lebih sederhana.

Persoalan muncul ketika seluruh pengalaman informasi mengikuti logika yang sama.

Cepat.

Singkat.

Padat.

Lalu berganti.

Pola itu berbeda dengan membaca mendalam.

Membaca panjang meminta kita tinggal lebih lama bersama satu gagasan. Karena itu, kita perlu menahan keinginan untuk berpindah sebelum sebuah argumen selesai.

Di situlah gesekannya muncul.

Ketika terbiasa menerima informasi dalam potongan pendek, buku dapat terasa lambat. Artikel panjang terasa terlalu serius. Bahkan satu paragraf yang membutuhkan konsentrasi bisa terasa seperti pekerjaan.

Bukan karena bukunya berubah.

Cara kita memberi perhatianlah yang berubah.

Algoritma Tidak Membenci Buku

Ada kesalahpahaman menarik dalam perdebatan ini.

Kita sering membayangkan algoritma sebagai musuh yang sengaja ingin menjauhkan manusia dari buku. Padahal, algoritma tidak memiliki kebencian terhadap buku.

Sistem bekerja mengikuti tujuan yang dibangun manusia. Ia berusaha mempertahankan perhatian pengguna, memprediksi minat, lalu menyajikan konten yang kemungkinan besar membuat pengguna terus menonton.

Karena itu, persoalannya bukan TikTok versus buku.

Persoalannya adalah perhatian manusia versus sistem yang terus memperebutkannya.

Setiap notifikasi meminta sedikit perhatian. Sementara itu, setiap video menawarkan beberapa detik hiburan. Kemudian, rekomendasi berikutnya memberi alasan baru untuk tidak berhenti.

Jumlahnya memang terlihat kecil.

Namun, akumulasinya dapat mengubah kebiasaan.

Ketika Otak Terbiasa Melompat

Bayangkan seseorang membuka ponsel sebelum tidur.

Ia berniat menonton satu video. Lima belas menit kemudian, ia masih menggulir layar.

Tidak ada kejadian besar. Hanya perpindahan perhatian dari satu konten menuju konten berikutnya.

Bandingkan kebiasaan itu dengan membaca buku.

Tidak ada musik yang otomatis berganti, tidak ada wajah baru setiap beberapa detik dan tidak ada sistem yang berkata, “Ini mungkin lebih menarik.”

Sebaliknya, pembaca harus bertahan.

Ia harus menciptakan ritmenya sendiri.

Kemampuan tersebut penting, bukan hanya untuk membaca novel. Banyak pekerjaan dan keputusan hidup juga membutuhkan konsentrasi panjang.

Misalnya, memahami kontrak, membaca laporan keuangan, mempelajari penelitian, menilai kebijakan publik, atau memahami berita membutuhkan waktu.

Informasi penting jarang hadir dalam format 30 detik.

Dari Literasi Membaca ke Literasi Perhatian

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar.

Literasi tidak cukup berarti kemampuan membaca huruf. Kita juga membutuhkan kemampuan memahami informasi, menilai sumber, membaca konteks, dan mengambil keputusan.

Kini, ekosistem digital menambahkan satu kebutuhan baru literasi perhatian.

Artinya, kita perlu tahu kapan harus berhenti menggulir. Kita juga perlu mampu memilih informasi yang layak dibaca lebih lama.

Kemampuan itu terdengar sederhana.

Namun, dalam ekonomi perhatian, kemampuan untuk berkata “cukup” justru menjadi bentuk kendali diri.

Teknologi dapat membantu manusia, tetapi manusia tetap perlu mempertahankan hak untuk berhenti, bertanya, dan berpikir.

Karena itu, membaca buku hari ini bukan sekadar aktivitas intelektual.

Membaca juga menjadi latihan untuk mempertahankan perhatian.

Apa Dampaknya bagi Kita?

Dampaknya tidak selalu terlihat.

Kita mungkin tetap membaca setiap hari. Bedanya, bacaan semakin pendek dan semakin cepat berganti.

Akibatnya, kita bisa mengetahui banyak hal, tetapi hanya sedikit yang benar-benar kita pahami.

Kita mengenal banyak judul, tetapi belum tentu mengingat argumennya. Di sisi lain, kita melihat banyak opini, tetapi belum tentu memahami konteksnya.

Di sinilah banjir informasi menghasilkan paradoks.

Semakin banyak yang kita lihat, semakin sedikit yang kita renungkan.

Jadi, persoalannya bukan semata-mata jumlah waktu yang kita habiskan di TikTok.

Yang lebih penting adalah kemampuan memberikan perhatian penuh kepada sesuatu yang tidak langsung menghibur.

Sebuah buku tidak memberi hadiah setiap lima detik.

Ia hanya menawarkan halaman berikutnya.

Kitalah yang harus memilih untuk tetap tinggal.

Buku Tidak Kalah. Kita yang Harus Memilih

Mungkin pertanyaan yang tepat bukan, “Apakah TikTok membuat kita bodoh?”

Pertanyaan itu terlalu sederhana.

Sebaliknya, pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang mengendalikan perhatian kita?

Kita bisa menggunakan TikTok tanpa meninggalkan buku. Kita juga bisa menikmati video pendek tanpa kehilangan kemampuan membaca panjang.

Syaratnya satu: manusia tetap memegang kendali.

Saat ingin hiburan, kita boleh menggulir. Namun, ketika membutuhkan pemahaman, berhentilah dan membaca.

Sebab dunia tidak hanya membutuhkan manusia yang cepat mengetahui sesuatu.

Dunia juga membutuhkan manusia yang mampu duduk diam, membaca sampai selesai, memahami konteks, lalu berpikir sebelum percaya.

Ini bukan perang antara TikTok dan buku.

Pada akhirnya, ini adalah perang yang lebih sunyi antara perhatian manusia dan sistem yang ingin memilikinya.

Di zaman ketika semua orang berlomba merebut perhatian kita, membaca satu buku sampai halaman terakhir mungkin menjadi bentuk kecil dari kemerdekaan. @dimas

Tags: Ekonomi PerhatianEra AlgoritmaKrisis MembacaLiterasi DigitalVideo Pendek

Kamu Melewatkan Ini

Hari Literasi Internasional: Bisa Membaca, Tapi Benarkah Paham?

Hari Literasi Internasional: Bisa Membaca, Tapi Benarkah Paham?

by dimas
September 8, 2026

Hari Literasi Internasional mengingatkan bahwa kemampuan membaca belum cukup. Literasi juga berarti memahami informasi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan. Tabooo.id...

AI Makin Pintar, Apakah Murid Makin Jarang Berpikir?

AI Makin Pintar, Apakah Murid Makin Jarang Berpikir?

by dimas
Agustus 20, 2026

AI makin pintar dan membantu proses belajar, tetapi ketergantungan pada jawaban instan bisa memangkas nalar kritis murid. Tabooo.id - Kecerdasan...

Ad-Duha dan Miras: Ketika yang Sakral Jadi Tontonan

Ad-Duha dan Miras: Ketika yang Sakral Jadi Tontonan

by dimas
Agustus 13, 2026

Ad-Duha dan Miras bertemu dalam sebuah challenge di The Sounds Project. Ketika ayat suci berubah menjadi tontonan, di mana batas...

Next Post
22 Tahun Kasus Munir: Pembunuh Dihukum, Siapa Dalangnya?

22 Tahun Kasus Munir: Pembunuh Dihukum, Siapa Dalangnya?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id