Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

by teguh
September 3, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Sisil meninggalkan dunia penerbangan untuk menempa keris. Pilihan itu membawa pertanyaan lebih besar siapa yang akan menjaga pengetahuan leluhur ketika generasi terus berganti?

Tabooo.id – Suara gesekan logam memecah keheningan sebuah bengkel sederhana di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Di depan rumah, Hashilatun Nasifah sedang menempa keris dia menggerakkan kikir tradisional di atas sebilah keris yang sedang ia garap.

Perempuan 25 tahun itu akrab disapa Sisil. Tangannya bergerak perlahan mengikuti bentuk bilah. Setiap gesekan membutuhkan ketelitian, tenaga, dan kesabaran.

Bagi orang yang melihat dari luar, aktivitas tersebut mungkin hanya tampak sebagai proses membuat benda pusaka.

Di mata Sisil, maknanya jauh lebih panjang. Ada pengetahuan keluarga yang ikut bergerak bersama tangannya.

Ini Belum Selesai

Hari Kesembilan, Tim SAR Persempit Pencarian Jurnalis Hilang

Dari Teguran ke Tiga Pukulan: Kronologi Kematian Serda Ahmad

Terdapat pula filosofi, harapan, doa, dan penghidupan di dalamnya. Lebih jauh lagi, ada pertanyaan tentang masa depan sebuah tradisi.

Yang Diwariskan Bukan Sekadar Sebilah Keris

Aeng Tongtong tidak menemukan keris sebagai identitas secara tiba-tiba.

Tradisi tersebut tumbuh melalui keluarga dan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pada 2022, desa ini mencatat sejarah melalui penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia atau MURI.

Sebanyak 446 empu keris tercatat di Aeng Tongtong. Dari jumlah tersebut, 440 merupakan laki-laki dan enam lainnya perempuan.

Angka itu menunjukkan kuatnya tradisi perkerisan di desa tersebut. Namun, jumlah empu tidak otomatis menjamin masa depan pengetahuan yang mereka kuasai.

Sebuah tradisi untuk menempa keris membutuhkan orang yang bersedia belajar. Teknik juga memerlukan tangan baru.

Karena itu, regenerasi menjadi persoalan penting dalam perjalanan keris Aeng Tongtong. Pilihan Sisil kemudian menjadi bagian dari cerita tersebut.

Dari Bandara Kembali ke Bara Menempa Keris

Jalur hidup Sisil sebenarnya sempat bergerak jauh dari dunia keris. Ia menempuh pendidikan di sekolah penerbangan di Sidoarjo.

Setelah lulus, pekerjaan membawanya ke Bandara Juanda. Di sana, ia bekerja pada bidang ticketing dan cargo.

Dunia penerbangan tentu memiliki ritme berbeda dari bengkel keluarga. Tidak ada suara palu yang menghantam logam.

Bara api juga bukan bagian dari rutinitas hariannya. Akan tetapi, akar keluarga akhirnya membawa Sisil kembali ke rumah.

“Sebagai keturunan seorang empu, tentunya sejak kecil saya sudah tidak asing lagi dengan keris. Karena dunia keris merupakan aktivitas turun-temurun dalam keluarga.”

Nilai yang ditanamkan keluarganya kemudian berkembang menjadi ketertarikan.

“Dan kuatnya nilai-nilai yang ada dalam keris terus ditanamkan pada saya akhirnya muncul ketertarikan saya, bagaimana saya bisa melanjutkan aktivitas pembuatan keris.”

Sejak 2022, ayahnya, Abdus Siddik, membimbing Sisil secara lebih serius. Proses belajar itu tidak berhenti pada kemampuan menggunakan alat.

Berbagai pengetahuan harus ia kuasai dari awal sampai akhir. Mulai dari memahami logam, proses penempaan, pembentukan bilah, finishing, pewarangan, hingga pamor.

Pemahaman tentang dhapur juga menjadi bagian penting. Istilah tersebut merujuk pada bentuk atau desain keris.

Sementara itu, pamor berkaitan dengan pola yang muncul dari pengolahan dan pencampuran logam.

Setiap bagian memiliki teknik dan pengetahuan tersendiri.Maka, pembuatan keris tidak bisa diselesaikan dengan terburu-buru.

Dalam kondisi tertentu, prosesnya bahkan dapat berlangsung selama berbulan-bulan.

Perempuan di Tengah Bara

Cerita Sisil menjadi lebih menarik ketika kita melihat posisi perempuan dalam dunia perkerisan.

Selama bertahun-tahun, masyarakat kerap mengaitkan pekerjaan menempa dengan laki-laki.

Kajian mengenai perajin keris perempuan di Sumenep juga menunjukkan bahwa perempuan hadir di tengah konstruksi budaya yang cenderung patriarkal.

Kehadiran mereka dalam menempa keris memperlihatkan bahwa ruang tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tertutup. Sisil sendiri tidak menjadikan gender sebagai persoalan utama.

“Bagi saya ini adalah soal pilihan ya, jadi pilihan bagaimana kita bisa terus melestarikan dan mengemban amanah leluhur untuk bisa melestarikan keris.”

Baginya, kemampuan lahir dari proses belajar. Pilihan untuk masuk ke dunia keris pun tidak harus menunggu perubahan besar dalam tradisi.

Seseorang cukup memiliki kemauan untuk memahami, berlatih, lalu menjalani prosesnya.

Budayawan Sumenep M. Hairil Anwar melihat keberadaan empu perempuan sebagai sesuatu yang menarik.

“Terlebih ketika empu tersebut perempuan, akan menjadi semakin menarik karena menunjukkan bahwa dalam dunia perkerisan tidak ada model patriarki.”

Pernyataan itu memperlihatkan adanya ruang bagi perempuan untuk ikut menjaga tradisi.

Di Aeng Tongtong, Wawan Noviyanto juga melihat hubungan antara empu laki-laki dan perempuan berjalan dinamis.

“Dinamika empu laki-laki dan perempuan itu berjalan sangat dinamis kalau di desa ini. Justru keberadaan mereka itu saling mengisi.”

Artinya, regenerasi tidak selalu berbicara tentang siapa yang paling kuat. Yang lebih penting adalah siapa yang bersedia meneruskan pengetahuan.

Ketika Tradisi Menjadi Pilihan Hidup

Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan meminta anak muda mencintai tradisi. Mereka juga membutuhkan alasan untuk menjadikannya bagian dari kehidupan.

Sisil melihat salah satu alasannya melalui sisi ekonomi. Baginya, membuat dan menempa keris bukan sekadar aktivitas budaya.

Pekerjaan tersebut juga bisa menjadi sumber penghasilan. Salah satu keris buatannya pernah terjual Rp20 juta.

Produk keris sendiri memiliki beberapa tingkatan. Ada kelas souvenir untuk kebutuhan tertentu. Kemudian terdapat kelas menengah dengan kualitas dan proses yang lebih tinggi.

Pada tingkat atas, terdapat keris ageman yang dapat memiliki harga hingga ratusan juta rupiah. Kualitas bahan dan keterampilan pembuat ikut menentukan nilainya.

Selain itu, sebagian masyarakat juga memberikan nilai simbolik dan spiritual pada keris tertentu. Bagi Sisil, makna tersebut tidak terpisahkan dari proses pembuatannya.

Ia memahami bahwa keris membawa filosofi, harapan, dan doa. Salah satu filosofi yang ia kenal adalah junjung drajat.

“Secara filosofi junjung drajat itu kan pamor yang terkandung sebuah doa atau harapan di dalam pamor itu bagaimana kita menaikkan derajat kita sebagai manusia di hadapan manusia atau di hadapan Tuhan.”

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa keris memiliki dua sisi yang berjalan bersamaan. Nilai ekonomi membuat tradisi memiliki ruang untuk bertahan.

Pada saat yang sama, filosofi menjaga agar keris tidak kehilangan konteks budayanya.

Menempa Keris Tidak Semudah Menjual Ceritanya

Ada romantisme ketika seseorang melihat perempuan muda membuat keris. Namun, pekerjaan itu menyimpan tuntutan fisik yang tidak ringan.

Proses penempaan membutuhkan tenaga besar. Pekerjaan manual juga menuntut konsistensi dalam waktu panjang.

Sisil memahami bahwa kemampuan fisiknya memiliki keterbatasan dibandingkan sebagian empu laki-laki.

Meski begitu, kondisi tersebut tidak membuatnya berjalan sendirian. Para perajin di Aeng Tongtong saling membantu dalam proses kerja.

Pengetahuan pun bergerak melalui praktik bersama. Kesulitan seorang perajin dapat terbantu oleh tangan perajin lainnya.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa sebuah tradisi membutuhkan ekosistem. Bukan hanya satu tokoh. Bukan pula sekadar satu keluarga.

Melainkan lingkungan yang memungkinkan pengetahuan terus berpindah.

Kalau Pewarisnya Pergi, Apa yang Tersisa?

Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak hanya berlaku bagi Aeng Tongtong. Banyak tradisi menghadapi persoalan serupa ketika generasi muda memilih jalur kehidupan berbeda.

Benda peninggalan leluhur memang bisa disimpan. Museum dapat menjaga artefak. Dokumentasi juga mampu merekam bentuk dan sejarahnya.

Akan tetapi, siapa yang masih menguasai cara membuatnya? Di sinilah persoalan regenerasi menjadi lebih serius.

Pemerintah Kabupaten Sumenep pernah menyoroti masalah tersebut.

Pada 02/07/2025, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyebut regenerasi empu sebagai langkah strategis untuk menjaga warisan leluhur.

“Manakala tidak ada generasi penerusnya, tentu saja warisan ini hanya menjadi cerita.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, pesan di baliknya cukup keras. Sebuah tradisi dapat memiliki museum, festival, penghargaan, bahkan pengakuan internasional.

Tetapi semua itu tidak cukup jika manusia yang memahami prosesnya semakin sedikit.

UNESCO memasukkan Indonesian Kris ke Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2008. Sebelumnya, organisasi tersebut telah mengakui keris sebagai Masterpiece pada 2005.

Pengakuan tersebut memperlihatkan nilai penting keris bagi kebudayaan Indonesia. Meski demikian, status warisan dunia tidak otomatis menjamin regenerasi.

UNESCO juga mencatat berkurangnya jumlah empu aktif serta semakin sulitnya menemukan orang yang dapat menerima dan meneruskan keterampilan tersebut.

Di sinilah paradoks itu muncul ketika Keris memperoleh pengakuan dunia. Sementara itu, pengetahuan pembuatannya tetap membutuhkan manusia nyata.

Yang Terancam Bukan Kerisnya

Bayangkan suatu hari sebuah museum masih menyimpan keris. Bentuk bilahnya tetap utuh, Pamor masih terlihat jelas, Dhapur masih tercatat dalam katalog dan foto para empu pun masih tersimpan.

Namun, tidak ada lagi orang yang benar-benar mampu menempa bilah dengan pengetahuan yang sama.

Lantas, apa yang sebenarnya tersisa? Bendanya masih ada, Tradisinya belum tentu. Inilah bagian yang sering luput ketika masyarakat berbicara tentang pelestarian budaya.

Kita terlalu mudah mengukur keberhasilan melalui benda yang berhasil disimpan. Padahal, budaya hidup melalui manusia.

Karena itu, pelestarian keris tidak cukup dengan menjaga pusaka. Generasi baru perlu belajar membuatnya.

Mereka juga perlu memahami filosofi di balik setiap proses. Lebih penting lagi, tradisi tersebut harus memiliki relevansi dengan kehidupan hari ini.

Sisil memperlihatkan kemungkinan itu. Ia pernah bekerja di lingkungan penerbangan. Kini, tangannya kembali bekerja di antara logam dan bara.

Pilihan tersebut tidak otomatis berarti kembali ke masa lalu. Sebaliknya, keputusan itu membawa tradisi lama ke dalam kehidupan generasi baru.

Warisan Tidak Berhenti pada Darah

Keris memang diwariskan melalui keluarga. Namun, hubungan darah saja tidak menjamin seseorang mau meneruskannya.

Keputusan untuk belajar tetap menjadi pilihan setiap generasi. Sisil memilih mengambil pilihan tersebut.

Ayahnya, Abdus Siddik, mengaku bangga melihat keputusan anak perempuannya.

“Sebagai seorang ayah, saya merasa bangga dan juga gembira melihat anak perempuan saya bisa tertarik atau punya kesadaran diri untuk melanjutkan aktivitas pembuatan keris yang sudah menjadi warisan turun-temurun di keluarga kami.”

Ada hubungan sederhana dalam pernyataan itu. Orang tua memberikan pengetahuan, Anak menerima kesempatan.

Setelah itu, generasi berikutnya menentukan apakah pengetahuan tersebut akan terus berjalan.

Maka, warisan bukan hanya perkara darah karena warisan juga membutuhkan kesediaan untuk belajar.

“Cinta Dulu, Baru Terjun”

Sisil punya pesan bagi orang yang ingin masuk ke dunia keris. “Kita harus memahami dulu, dan cinta dulu sama keris, baru kita terjun ke dunia keris.”

Sekilas, pesan itu terdengar romantis. Jika diperhatikan lebih jauh, isinya justru sangat praktis.

Pekerjaan yang membutuhkan waktu berbulan-bulan tidak akan bertahan hanya karena mengikuti tren.

Seseorang membutuhkan keterikatan terhadap proses. Ia juga perlu memahami alasan di balik pekerjaan tersebut.

Generasi muda pun membutuhkan ruang untuk menemukan relevansinya dengan kehidupan mereka.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah keris masih relevan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana tradisi lama menemukan alasan baru untuk terus hidup.

Sisil sedang mencoba menjawab pertanyaan itu melalui tangannya sendiri. Bukan lewat pidato dan bukan melalui slogan. Melainkan melalui logam, bara, kikir, dan proses panjang yang tidak instan.

Ketika Warisan Menjadi Pilihan Hidup

Di balik sebilah keris, ada manusia yang bekerja. Terdapat keluarga yang memperoleh penghidupan dari keterampilan tersebut.

Ada pula pengetahuan yang berpindah dari satu generasi menuju generasi berikutnya. Identitas sebuah desa ikut bertumpu pada proses tersebut.

Karena itu, ketika seorang empu berhenti membuat keris, persoalannya bukan hanya kehilangan satu perajin. Satu jalur pengetahuan juga berpotensi ikut terputus.

Sebaliknya, ketika seorang anak memilih belajar dari orang tuanya, tradisi mendapatkan satu kesempatan baru. Aeng Tongtong masih memiliki kesempatan tersebut.

Enam empu perempuan mungkin terlihat kecil dibandingkan 440 empu laki-laki. Tetapi angka itu menunjukkan bahwa ruang regenerasi masih terbuka dan Sisil menjadi salah satu orang yang berdiri di ruang tersebut.

Pada Akhirnya, Siapa yang Mewarisi?

Keris tidak hanya ditempa tapi Ia dipelajari, Ia dipahami dan kemudian, ia diwariskan. Persoalannya bukan lagi apakah masyarakat masih memiliki keris.

Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang masih mau belajar ketika membuatnya jauh lebih sulit daripada sekadar membelinya.

Aeng Tongtong sudah memiliki sejarah panjang. Desa tersebut juga telah memperoleh pengakuan tapi kini tantangannya jauh lebih manusiawi.

Mereka harus memastikan pengetahuan tidak berhenti pada generasi yang sedang memegang palu hari ini dan Sisil telah memilih jalannya.

Ia meninggalkan sebagian perjalanan hidupnya untuk kembali menempa warisan keluarga karena Pilihan itu mungkin terlihat kecil.

Namun, dari sebuah bengkel sederhana, pesan besar sedang ditempa karena warisan budaya tidak hidup hanya karena bendanya kita simpan.

Ia bertahan karena masih ada manusia yang mau mempelajari dan meneruskannya. Selama masih ada tangan yang mau belajar, bara itu belum padam. @teguh

Tags: Aeng TongtongBudayaGenerasi MudaHashilatun NasifahJawa TimurKerisMaduraperempuanSumenepTradisiwarisan budaya

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Menerjang Jatim dan Kaltara, 38 Hektare Lahan Terbakar

Karhutla Menerjang Jatim dan Kaltara, 38 Hektare Lahan Terbakar

by dimas
September 14, 2026

Karhutla menerjang Jawa Timur dan Kalimantan Utara. BNPB mencatat sekitar 38 hektare lahan terbakar di Ponorogo, Pasuruan, dan Bulungan. Tabooo.id...

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

by teguh
September 10, 2026

Polemik “goblok” hanya permukaan. Di bawahnya ada benturan antara kebebasan, kenyamanan publik, otoritas, dan negara. Kata “goblok” tiba-tiba masuk ke...

Menu MBG dan Ujian Keamanan Pangan: Dari Dapur ke Ambulans

Menu MBG dan Ujian Keamanan Pangan: Dari Dapur ke Ambulans

by teguh
September 2, 2026

Siang di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, awalnya berjalan normal. Sebanyak 1.010 porsi Menu MBG tiba untuk...

Next Post
Jejak John Field: Tujuh Setoran Rp525 Juta ke Bea Cukai

Jejak John Field: Tujuh Setoran Rp525 Juta ke Bea Cukai

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id