Persiapan terus berjalan. Pasukan mulai bersiap. Protokol mengatur setiap detail. Pemerintah baru ingin memastikan upacara kemerdekaan berlangsung tanpa cela. Namun, satu benda paling penting justru tidak ada. Bendera Pusaka asli hilang, Kain merah putih itu bukan benda biasa. Fatmawati menjahitnya pada 1945 untuk republik yang baru lahir.
Tabooo.id – Suatu kejadian Menjelang upacara 17 Agustus di Istana Merdeka, Jakarta, Bendera Pusaka asli hilang. Pada 17/08/1945, bendera tersebut berkibar setelah Soekarno membacakan Proklamasi di Pegangsaan Timur 56. Pertanyaannya sederhana yaitu, Di mana Bendera Pusaka asli berada?.
60 Jam Menuju Upacara, Bendera Tak Kunjung Ditemukan
Menteri/Panglima Angkatan Darat Maraden Panggabean mencatat kejadian itu dalam memoarnya, Berjuang dan Mengabdi.
Panggabean meminta staf memeriksa lingkungan Istana. Mereka membuka laci, memeriksa lemari, lalu menelusuri sejumlah ruang penyimpanan.
Hasil pencarian tetap nihil, Situasi itu segera menjadi serius. Soeharto akan memimpin upacara kemerdekaan untuk pertama kalinya setelah peralihan kekuasaan dari Soekarno.
Awalnya, kabar tersebut berusaha ditutupi. Namun, informasi itu akhirnya bocor ke awak media dan membuat publik heboh.
Indonesia juga sedang melewati fase politik yang penuh ketegangan. Karena itu, persoalan tersebut tidak berhenti pada hilangnya sebuah benda karena yang ikut dipertaruhkan adalah simbol negara.
Jawabannya Justru Ada pada Soekarno
Pencarian kemudian mengarah kepada presiden pertama Indonesia. Soekarno sudah meninggalkan Istana Merdeka setelah kekuasaannya beralih kepada Soeharto.
Menurut harian Warta Berita (11/08/1967), Soekarno telah mengosongkan Istana Merdeka setelah peralihan kekuasaan.
“Istana Merdeka, yang selama ini menjadi tempat tinggal Soekarno waktu menjabat Presiden RI hingga beberapa waktu akhir ini bersama keluarganya, dewasa ini sudah dikosongkan,” tulis Warta Berita.
Panggabean lalu menemui Soekarno untuk menanyakan keberadaan Bendera Pusaka. Jawabannya membuka babak baru.
Soekarno ternyata menyimpan bendera tersebut. Namun, ia belum mau langsung menyerahkannya.
Kekhawatiran Soekarno berpusat pada keselamatan benda bersejarah itu. Ia mempertanyakan kemampuan TNI Angkatan Darat untuk menjaganya.
“Selama ini saya sendiri yang menyimpannya. Apa TNI AD sanggup menyelamatkannya?”
Maraden Panggabean mencatat pernyataan tersebut dalam Berjuang dan Mengabdi. Historia kemudian mengutipnya dalam laporan mengenai kisah Bendera Pusaka.
Kalimat itu memperlihatkan persoalan yang jauh lebih besar. Soekarno tidak melihat kain tersebut sebagai benda biasa. Baginya, benda itu merupakan bagian dari sejarah republik.
Pada saat yang sama, hubungan politik antara dirinya dan kekuasaan baru belum sepenuhnya pulih. Di titik inilah Bendera Pusaka berubah menjadi simbol kepercayaan.
Republik Hampir Mengibarkan Bendera Pengganti
Pemerintah kemudian menyiapkan rencana cadangan. Jika Soekarno tidak menyerahkan Bendera Pusaka, panitia akan menggunakan Merah Putih biasa.
Secara teknis, keputusan itu bisa menyelamatkan upacara. Namun, secara simbolik, situasinya terasa janggal. Republik hampir merayakan kemerdekaan dengan bendera pengganti.
Sementara itu, bendera yang berkibar pada hari kelahirannya masih berada di tangan presiden pertama.
Setelah melalui pertemuan dan negosiasi, Soekarno akhirnya menyetujui penyerahan tersebut.
Ia lebih dulu membawa rombongan menuju lokasi penyimpanan yang ia kehendaki di kawasan Monumen Nasional.
Pada 16/08/1967, sehari sebelum upacara, pemerintah akhirnya memperoleh kembali Bendera Pusaka. Krisis selesai tetapi sejarah belum berhenti.
“Bendera pusaka yang dalam hari-hari belakangan ini telah menimbulkan heboh, Selasa sore jam 16.00 telah diserahkan oleh bekas Presiden Soekarno ke pemerintah dan dengan demikian dapat dikibarkan pada hari kemerdekaan nanti,” tulis Warta Berita edisi 16/08/1967.
Benderanya Tidak Hilang. Indonesia Sedang Berubah
Kisah ini menarik karena Bendera Pusaka melewati pergantian zaman bersama manusia yang mengelilinginya.
Fatmawati menjahitnya untuk republik yang baru berdiri. Ketika kekuasaannya mulai berakhir, Soekarno masih menjaga benda tersebut.
Soeharto kemudian membutuhkan Bendera Pusaka untuk upacara pemerintahannya. Setelah itu, negara mengambil keputusan baru demi menjaga kondisi fisiknya.
Sumber Direktorat Pelindungan Kebudayaan mencatat bahwa Bendera Pusaka terakhir berkibar di depan Istana Merdeka pada 17/08/1968.
Jadi, 1967 bukan pengibaran terakhir. Justru tahun itu menjadi salah satu bab paling dramatis dalam perjalanan Bendera Pusaka.
Setahun kemudian, pemerintah menghentikan penggunaan bendera asli untuk upacara. Kondisi kain yang semakin rapuh menjadi alasan utama.
Pada 1969, pemerintah kemudian menggunakan duplikat untuk pengibaran. Kainnya menua. Tradisinya berubah. Ingatannya tetap hidup.
Dari Kain Menjadi Ingatan
Hari ini, Bendera Pusaka memiliki kedudukan sebagai Cagar Budaya Nasional. Negara menyimpannya bukan karena kain tersebut masih diperlukan setiap tahun.
Justru sebaliknya, Negara menyimpannya karena sejarah tidak bisa dibuat ulang. Duplikat bisa dibuat, Upacara bisa diulang, Merah Putih bisa terus berkibar setiap Agustus.
Namun, kita tidak bisa mengulang 17/08/1945. Di situlah nilai Bendera Pusaka berada. Jahitan Fatmawati menyimpan jejak kelahiran republik.
Penjagaan Soekarno memperlihatkan hubungan antara simbol dan kekuasaan. Tradisi Husein Mutahar kemudian membawa makna pengibaran kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, negara memilih menyimpan benda aslinya.
Yang Hilang Bukan Sekadar Bendera
Agustus 1967 memperlihatkan sesuatu yang jarang terlihat dari sebuah upacara kenegaraan. Di depan publik, pemerintah menyiapkan perayaan kemerdekaan.
Di balik layar, negara menghadapi persoalan tentang siapa yang memegang simbol republik.
Bendera itu akhirnya kembali namun, kisah tersebut meninggalkan pertanyaan yang lebih besar:
Ketika kekuasaan berganti, siapa yang memastikan ingatan bangsa tetap aman? Dan Merah Putih masih berkibar setiap tahun.
Bendera asli yang lahir pada 1945 kini tersimpan dan mendapat perlindungan negara. Ia tidak lagi terbang di langit Jakarta namun, sejarah yang menempel pada setiap serat kainnya tetap berbicara.
Kita bisa membuat bendera duplikat. Yang tidak bisa dibuat ulang adalah sejarah di balik jahitannya. @teguh








