Ad-Duha dan Miras bertemu dalam sebuah challenge di The Sounds Project. Ketika ayat suci berubah menjadi tontonan, di mana batas kepantasan?
Tabooo.id – Malam 9 Agustus 2026 belum benar-benar selesai ketika lampu Ecovention & Ecopark Ancol masih menyala dan musik terus mengisi udara. Ribuan orang menikmati hari terakhir The Sounds Project, festival musik yang berlangsung selama tiga hari, 7-9 Agustus 2026.
Namun, di tengah keramaian itu, sebuah adegan kecil mengambil arah berbeda.
Di salah satu booth sponsor Newport, seseorang mengajukan tantangan kepada pengunjung. Siapa pun yang mampu membaca atau menghafalkan Surah Ad-Duha akan mendapatkan hadiah berupa sebotol minuman beralkohol.
Tantangan tersebut kemudian diterima.
Beberapa ayat terdengar di tengah suasana festival, sementara sebuah kamera ponsel merekam momen tersebut. Saat itu, mungkin tidak ada yang membayangkan bahwa rekaman beberapa menit itu akan meninggalkan booth dan memasuki ruang publik yang jauh lebih luas.
Video tersebut kemudian beredar di media sosial. Dari satu akun, rekaman bergerak ke akun lain, lalu memunculkan komentar, kecaman, perdebatan, dan pertanyaan tentang siapa yang seharusnya bertanggung jawab.
Pihak The Sounds Project menyatakan aktivitas di booth Newport berlangsung di luar arahan, persetujuan, dan kendali mereka. Newport kemudian menyampaikan permintaan maaf dan menyebut aktivitas tersebut bukan bagian dari program promosi resmi.
Polisi ikut menyelidiki persoalan tersebut dengan meminta keterangan dari pihak penyelenggara, pemilik merek, sejumlah pengunjung, serta pihak yang melakukan tantangan.
Tetapi persoalan ini sebenarnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa yang salah.
Ada pertanyaan yang jauh lebih mengusik bagaimana sebuah ayat suci bisa berubah menjadi materi challenge demi sebuah hadiah?
Ketika Ayat Suci Masuk ke Dalam Permainan
Surah Ad-Duha bukan sekadar rangkaian ayat yang seseorang baca untuk memenangkan hadiah. Surah ini berbicara kepada manusia yang sedang rapuh, mengingatkan bahwa Tuhan tidak meninggalkan manusia, serta membawa pesan tentang anak yatim, petunjuk setelah kebingungan, dan kecukupan setelah kekurangan.
Pesan itu kemudian ditutup dengan tuntunan yang sangat manusiawi jangan berlaku sewenang-wenang kepada anak yatim dan jangan menghardik orang yang meminta.
Karena itu, keganjilan peristiwa di Ancol bukan hanya terletak pada pertemuan antara ayat Al-Qur’an dan alkohol. Yang lebih mengganggu adalah konteks yang mengitarinya.
Ayat tersebut masuk ke dalam sebuah challenge, challenge itu memiliki hadiah, kerumunan menjadi penonton, dan kamera mengubah semuanya menjadi rekaman yang dapat berpindah jauh melampaui tempat kejadian.
Sesuatu yang selama berabad-abad dibaca dalam ruang hening tiba-tiba masuk ke dalam mekanisme hiburan. Pada titik itulah kesakralan bertemu dengan logika tontonan.
Dan tontonan, terutama di zaman digital, membutuhkan satu hal yang semakin mahal nilainya perhatian.
Kamera yang Mengubah Umur Sebuah Peristiwa
Tanpa kamera, kejadian tersebut mungkin berhenti di booth Newport. Pengunjung bisa pulang, festival berakhir, lampu dipadamkan, dan keesokan harinya kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Namun, kamera memberikan umur baru kepada sebuah peristiwa.
Rekaman tidak lagi tinggal di Ancol. Ia berpindah ke layar ponsel, lalu bergerak dari satu akun ke akun lainnya hingga orang yang tidak hadir di lokasi ikut memberikan penilaian terhadap kejadian yang hanya mereka lihat melalui potongan video.
Di sinilah internet mengubah cara sebuah peristiwa hidup.
Sebuah kejadian tidak selalu berakhir ketika kejadian itu selesai. Selama orang masih membicarakannya, membagikannya, memperdebatkannya, atau bahkan memakinya, peristiwa tersebut tetap memiliki kehidupan kedua.
Kamera akhirnya bukan sekadar alat dokumentasi. Ia menjadi pintu menuju ekonomi perhatian.
Kita hidup dalam zaman ketika hampir setiap pengalaman dapat berubah menjadi konten. Makanan difoto sebelum dimakan, perjalanan direkam sebelum benar-benar dinikmati, pertengkaran masuk kamera sebelum persoalan selesai, bahkan kesedihan kadang terasa belum lengkap sebelum seseorang mengunggahnya.
Perubahan tersebut tampak sederhana, tetapi dampaknya jauh lebih besar.
Manusia tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang saya alami?” Dalam banyak situasi, muncul pertanyaan lain yang diam-diam lebih dominan: “Bagaimana pengalaman ini akan terlihat bagi orang lain?”
Ketika hampir semua pengalaman harus terlihat, sesuatu yang sakral pun memiliki risiko untuk terseret ke dalam logika tontonan.
Ketika Perhatian Menjadi Mata Uang
Mircea Eliade membedakan pengalaman manusia terhadap ruang sakral dan ruang profan. Gagasan tersebut membantu menjelaskan mengapa manusia sejak lama memiliki kemampuan untuk membedakan tempat, benda, dan tindakan berdasarkan maknanya.
Kita menurunkan suara di pemakaman karena memahami bahwa tempat itu menuntut sikap tertentu. Ketika seseorang sedang berduka, kita biasanya menahan candaan karena tahu bahwa tidak semua suasana membutuhkan hiburan. Saat seseorang mengalami musibah, kita pun memahami bahwa kamera tidak selalu pantas diarahkan kepadanya.
Batas semacam itu tidak selalu lahir dari aturan tertulis.
Sering kali, rasa sudah cukup menjadi pagar.
Namun, ruang digital membawa logika yang berbeda. Platform membutuhkan perhatian, merek mengejar interaksi, pembuat konten mencari materi, sementara pengguna mencari hiburan yang mampu membuat mereka berhenti menggulir layar.
Di belakang semuanya, algoritma mengubah perilaku manusia menjadi angka berapa orang menonton, berapa lama mereka bertahan, berapa kali sebuah video dibagikan, dan berapa banyak komentar yang muncul.
Algoritma tidak memahami kesucian.
Ia tidak tahu mengapa seseorang membaca Ad-Duha ketika kehilangan orang terdekat. Ia juga tidak memahami mengapa ayat tertentu dapat membuat seseorang menangis setelah melewati masa hidup yang berat.
Mesin hanya membaca perilaku.
Akibatnya, doa dan kemarahan dapat berakhir dalam kategori yang sama engagement.
Penelitian William Brady dan koleganya menunjukkan bahwa bahasa yang mengandung unsur moral dan emosi dapat meningkatkan penyebaran pesan di media sosial. Dengan kata lain, emosi bukan hanya sesuatu yang kita rasakan, tetapi juga dapat menjadi bahan bakar distribusi informasi.
Karena itu, kemarahan mudah menyebar, keterkejutan cepat mendapatkan perhatian, dan kontroversi sering memperoleh umur yang lebih panjang daripada pesan yang sebenarnya ingin disampaikan.
Ketika Promosi Menyamar sebagai Pengalaman
Kasus di Ancol juga memperlihatkan perubahan wajah pemasaran modern. Merek tidak selalu perlu menjual produk melalui iklan yang terlihat seperti iklan; mereka dapat menciptakan pengalaman, permainan, challenge, atau momen yang kemudian direkam dan disebarkan oleh pengunjung.
Setelah itu, publik ikut mengerjakan pekerjaan distribusi.
Dalam pola tersebut, batas antara promosi dan hiburan semakin tipis. WHO sendiri telah memperingatkan perkembangan pemasaran alkohol melalui ruang digital, budaya populer, olahraga, musik, dan sponsorship.
Artinya, pertemuan antara alkohol dan budaya populer bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Yang berubah adalah cara kerjanya.
Dulu perusahaan membeli ruang iklan agar publik melihat produk.
Sekarang, pengalaman pengunjung dapat menjadi bagian dari iklan itu sendiri.
Dulu publik hanya menerima promosi.
Kini publik juga bisa membantu memproduksinya.
Karena itu, kreativitas membutuhkan batas. Tanpa kepekaan, kreativitas dapat berubah menjadi eksploitasi, sementara sesuatu yang dianggap lucu oleh pembuatnya belum tentu terasa lucu bagi orang lain.
Begitu pula, label “sekadar challenge” tidak otomatis menghapus persoalan ketika challenge tersebut menyentuh simbol yang bagi banyak orang memiliki nilai sakral.
Ini Bukan Sekadar Insiden. Ini Pola.
Kita bisa melihat kejadian tersebut sebagai kesalahan beberapa orang, lalu menunggu polisi menentukan siapa yang harus bertanggung jawab. Cara itu memang mudah, tetapi terlalu cepat menutup persoalan.
Ini bukan sekadar insiden. Ini sebuah pola.
Industri membutuhkan perhatian. Festival membutuhkan pengalaman. Merek mengejar ingatan publik. Pengunjung mencari kesenangan. Pembuat konten membutuhkan momen, sedangkan platform membutuhkan interaksi.
Semua kepentingan tersebut akhirnya bertemu pada satu titik perhatian manusia.
Ketika perhatian berubah menjadi komoditas, batas lama mulai diuji. Sesuatu yang dahulu dianggap tidak pantas perlahan mendapat pembenaran baru melalui kalimat-kalimat yang terdengar sederhana.
“Kenapa tidak?”
“Bukankah ini cuma bercanda?”
“Bukankah ini hanya challenge?”
“Kan tidak ada maksud menghina?”
Masalahnya, niat tidak selalu menghapus dampak.
Sesuatu juga tidak otomatis menjadi pantas hanya karena pelakunya menganggapnya sebagai lelucon. Lebih jauh lagi, tidak semua batas harus menunggu polisi untuk menentukannya karena sebagian batas memang seharusnya dijaga oleh kepekaan manusia.
Apa Dampaknya Buat Kamu?
Mungkin kamu tidak datang ke The Sounds Project dan mungkin pula tidak mengenal siapa pun dalam video tersebut. Meski begitu, kamu tetap hidup di dalam sistem yang sama.
Setiap kali membuka media sosial, kamu masuk ke pasar perhatian. Di sana, kamu bukan hanya penonton, tetapi juga memiliki kemampuan menjadi distributor hanya dengan satu klik.
Satu unggahan ulang dapat memperpanjang umur sebuah kontroversi. Satu potongan video dapat kehilangan konteks ketika berpindah dari satu akun ke akun lain, sementara satu komentar marah bisa membuat algoritma membaca sebuah konten sebagai sesuatu yang semakin menarik.
Karena itu, tanggung jawab tidak hanya berada pada penyelenggara atau merek.
Pengguna juga memiliki peran.
Tidak semua kontroversi perlu kita besarkan dan tidak semua video harus kita sebarkan. Kadang, tindakan paling dewasa di internet justru sangat sederhana tidak ikut membuatnya semakin besar.
Yang Hilang Bukan Hanya Batas Agama
Polisi mungkin akan menentukan siapa yang harus bertanggung jawab. Pihak terkait akan memberikan keterangan, sementara publik menunggu hasil penyelidikan.
Semua itu penting.
Namun, ada sesuatu yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui hukum.
Sesuatu tersebut tidak memiliki pasal dan tidak bisa disita sebagai barang bukti.
Namanya rasa.
Rasa bahwa ada simbol yang perlu dihormati, ada momen yang sebaiknya tidak dijadikan gimmick, dan ada tindakan yang seharusnya kita hindari meski tidak ada aturan tertulis yang melarangnya.
Peradaban tidak hanya berdiri di atas hukum. Ia juga bertahan karena manusia mampu membatasi dirinya sendiri ketika tidak ada yang memaksa.
Karena itu, kita membutuhkan keberanian untuk mengatakan:
“Bisa dilakukan bukan berarti pantas dilakukan.”
Mungkin itulah pelajaran paling penting dari keributan di Ancol.
Kita tidak cukup hanya bertanya siapa yang salah. Sebaliknya, kita juga perlu bertanya mengapa batas tersebut bisa hilang ketika semua pihak berlomba mendapatkan perhatian.
Surah itu bernama Ad-Duha.
Ia berbicara tentang cahaya setelah gelap dan mengingatkan manusia bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka. Pesannya tidak membutuhkan sorakan, kamera, ataupun algoritma.
Namun, pada malam itu, pesan tersebut masuk ke ruang yang bekerja dengan aturan berbeda.
Sebuah challenge mempertemukan ayat dengan hadiah. Kamera kemudian mengubahnya menjadi tontonan, sementara media sosial memberinya kehidupan baru.
Beberapa hari lagi, kontroversi tersebut mungkin tenggelam oleh video lain. Algoritma akan menemukan kemarahan baru dan publik akan berpindah ke skandal berikutnya.
Meski begitu, pertanyaan ini seharusnya tidak ikut hilang:
Ketika semua hal bisa menjadi konten, siapa yang masih menjaga batas antara sesuatu yang menghibur dan sesuatu yang harus dihormati?
Sebab algoritma hanya mengenal perhatian.
Manusia seharusnya masih mengenal batas. @dimas








