Angka kredit seharusnya mengukur kinerja dosen, bukan mengarahkan penelitian. Namun, sejak PO-PAK 2014 mengubah sistem penilaian, banyak akademisi menyesuaikan riset mereka demi memenuhi target publikasi dan kenaikan jabatan.
Tabooo.id – Di ruang-ruang kampus, penelitian seharusnya lahir dari rasa ingin tahu. Pertanyaan memicu eksperimen, eksperimen melahirkan temuan, lalu pengetahuan berkembang melalui perdebatan ilmiah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ritme itu berubah. Banyak dosen kini tidak hanya memikirkan apa yang ingin mereka teliti, tetapi juga menghitung di mana hasil penelitian akan terbit dan berapa angka kredit yang bisa mereka kumpulkan.
Perubahan itu tidak muncul secara kebetulan. Pemerintah merancang kebijakan baru, sistem insentif menguatkannya, lalu kampus membangun budaya akademik yang berbeda. Perlahan, sistem tersebut mengubah cara dosen memandang penelitian.
Masalahnya, ketika sistem lebih menghargai jumlah publikasi daripada kualitas gagasan, penelitian mulai menjauh dari tujuan utamanya.
Ketika PO-PAK Mengubah Permainan
Pemerintah menerbitkan Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit (PO-PAK) 2014 sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas akademik. Aturan itu mengubah mekanisme penilaian karier dosen melalui sistem angka kredit. Salah satu perubahan paling penting ialah pemberian bobot yang relatif tinggi kepada prosiding konferensi internasional yang terindeks basis data internasional.
Kebijakan tersebut membuka jalur yang lebih cepat bagi dosen untuk memenuhi syarat kenaikan jabatan akademik. Sistem kemudian mengirimkan pesan yang sederhana: semakin banyak publikasi, semakin besar peluang memperoleh jabatan akademik yang lebih tinggi.
Di atas kertas, langkah itu tampak masuk akal. Pemerintah ingin mendorong publikasi internasional agar riset Indonesia mampu bersaing dengan negara lain. Karena itu, pemerintah menjadikan jumlah publikasi sebagai salah satu indikator utama keberhasilan.
Hasilnya terlihat jelas.
Namun, kenaikan angka tersebut memunculkan pertanyaan baru. Apakah kualitas riset ikut meningkat secepat pertumbuhan jumlah publikasi?
Insentif Mengubah Perilaku
Ilmu ekonomi mengenal satu prinsip sederhana: manusia mengikuti insentif yang tersedia.
Dosen pun merespons insentif dengan cara yang sama.
Ketika sistem memberi penghargaan besar terhadap jumlah publikasi, banyak dosen menyesuaikan strategi penelitian mereka. Mereka bukan kehilangan idealisme. Sebaliknya, mereka berusaha memenuhi syarat yang menentukan karier, tunjangan profesi, hingga peluang menjadi guru besar.
Akibatnya, banyak peneliti tidak lagi memulai riset dengan pertanyaan, “Masalah apa yang paling penting untuk diselesaikan?” Mereka justru bertanya, “Publikasi mana yang paling cepat menerima artikel ini?”
Perubahan cara berpikir itu menjadi titik balik yang penting.
Penelitian tidak lagi hanya menjadi proses menemukan pengetahuan baru. Penelitian juga berubah menjadi cara memenuhi target administrasi.
Lahirnya Budaya Publish
Perubahan insentif melahirkan budaya akademik yang semakin akrab dengan istilah publish or perish.
Publikasi tidak lagi menjadi hasil akhir penelitian. Publikasi berubah menjadi syarat untuk bertahan dalam dunia akademik.
Fenomena tersebut mendorong banyak perguruan tinggi menyelenggarakan konferensi internasional. Hampir setiap bulan, kampus membuka panggilan makalah dengan tema yang sangat luas. Dalam satu konferensi, panitia bahkan dapat menjadwalkan ratusan presentasi secara paralel di banyak ruang virtual.
Di satu sisi, kondisi itu memperluas peluang kolaborasi antarkampus dan antarnegara.
Namun, di sisi lain, kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru. Banyak pihak mulai mempertanyakan kualitas proses seleksi dan kedalaman diskusi ilmiah. Ketika ratusan makalah dipresentasikan dalam waktu yang hampir bersamaan, peserta sulit memberikan kritik yang mendalam terhadap setiap penelitian.
Akibatnya, sebagian konferensi berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang bertukar gagasan. Forum ilmiah perlahan berubah menjadi jalur administratif menuju publikasi.
Dari Pengetahuan Menjadi Administrasi
Perubahan terbesar sebenarnya bukan terletak pada bertambahnya jumlah publikasi.
Perubahan terbesar muncul ketika kampus mulai mendefinisikan ulang makna keberhasilan.
Dulu, banyak akademisi mengukur keberhasilan melalui kontribusi penelitian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan atau penyelesaian persoalan masyarakat. Kini, banyak institusi lebih mudah mengukur keberhasilan melalui jumlah artikel, indeksasi, sitasi, dan skor kinerja.
Indikator kuantitatif memang memudahkan evaluasi.
Namun, ketika angka berubah menjadi tujuan utama, substansi perlahan bergeser ke posisi kedua.
Situasi itu mendorong dosen memilih penelitian yang cepat selesai dan mudah dipublikasikan. Sebaliknya, penelitian jangka panjang yang membutuhkan waktu bertahun-tahun menjadi kurang menarik karena tidak segera menghasilkan angka kredit.
Perlahan, budaya akademik lebih menghargai produktivitas daripada kedalaman.
Konsekuensi yang Baru Terlihat di Masa Depan
Dampak perubahan tersebut mungkin belum sepenuhnya terlihat hari ini.
Namun, dalam jangka panjang, perubahan itu dapat memengaruhi kualitas ilmu pengetahuan Indonesia.
Budaya mengejar kuantitas berpotensi menghasilkan ribuan publikasi tanpa diikuti peningkatan sitasi, inovasi, maupun pengaruh ilmiah di tingkat global. Perguruan tinggi memang tampak semakin produktif, tetapi produktivitas itu belum tentu melahirkan penemuan yang benar-benar mengubah cara masyarakat memahami dunia.
Selain itu, mahasiswa sebagai calon peneliti ikut menyerap budaya tersebut. Mereka belajar bahwa publikasi merupakan target administrasi, bukan bagian dari proses berpikir ilmiah yang kritis.
Jika pola itu terus berlangsung, universitas akan lebih sibuk memproduksi dokumen daripada membangun pengetahuan.
Sistem Perlu Mengubah Arah
Pemerintah telah merevisi aturan melalui PO-PAK 2019 dan Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2026. Revisi tersebut mencoba menyeimbangkan kembali penilaian terhadap kualitas publikasi.
Namun, mengubah aturan jauh lebih mudah daripada mengubah budaya.
Budaya akademik yang tumbuh selama bertahun-tahun tidak akan berubah hanya karena indikator baru muncul. Kampus juga perlu membangun sistem evaluasi yang menghargai kualitas metodologi, dampak penelitian, kolaborasi, dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah dosen harus menghasilkan banyak publikasi. Publikasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan akademik.
Pertanyaan yang lebih mendasar ialah: apakah sistem mendorong dosen menjadi ilmuwan yang menghasilkan pengetahuan baru, atau justru mendorong mereka menjadi administrator yang mahir mengejar indikator?
Sejarah menunjukkan satu pelajaran penting. Manusia memang menciptakan sistem. Namun setelah itu, sistemlah yang perlahan membentuk cara manusia berpikir, bekerja, dan menentukan apa yang mereka anggap sebagai keberhasilan. @anisa






