Selasa, Juli 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Publikasi Ilmiah Naik Tajam, Mengapa Mutu Riset Dipersoalkan?

by dimas
Juli 27, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter
Publikasi ilmiah Indonesia melonjak tajam dalam satu dekade terakhir. Namun, lonjakan itu memicu pertanyaan besar: apakah kualitas riset ikut meningkat, atau justru tersandera sistem angka kredit?

Tabooo.id: Reality – Selama bertahun-tahun Indonesia mengeluhkan kualitas riset yang tertinggal. Namun, dalam satu dekade terakhir, negeri ini justru mencatat ledakan makalah konferensi internasional yang sulit ditemukan di negara lain. Jumlah publikasi melesat tajam. Di saat yang sama, muncul pertanyaan yang semakin sulit diabaikan: apakah Indonesia sedang membangun ilmu pengetahuan atau sekadar mengejar angka?

Data Scopus dan SciVal, dua basis data publikasi ilmiah internasional milik Elsevier, menunjukkan perubahan yang sangat mencolok. Pada periode 2002–2013, Indonesia masih tertinggal jauh dari Australia yang secara konsisten menghasilkan sekitar 10.000 hingga 12.000 makalah konferensi setiap tahun.

Situasi itu berubah drastis setelah 2014.

Jumlah makalah konferensi Indonesia melonjak dari kurang dari 5.000 publikasi pada 2014 menjadi lebih dari 25.000 publikasi sepanjang 2019–2021. Meski sempat turun menjadi sekitar 14.000 makalah pada 2022, angkanya kembali naik hingga mendekati 23.000 publikasi pada 2024.

Negara-negara seperti Australia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam tidak mengalami lonjakan sebesar itu.

Ini Belum Selesai

“Jurnalis Bukan Londo Ireng”, Insan Pers Solo Gelar Aksi Bela Kebebasan Pers

Dari Medan Perang ke Ring Dunia, Begini Perjalanan Muay Thai Menjadi Identitas Thailand

Perbedaan tersebut menguatkan dugaan bahwa kebijakan dalam negeri ikut mendorong ledakan publikasi akademik.

Ketika Angka Kredit Mengubah Arah Akademik

Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Padjadjaran, Arief Anshory Yusuf, menilai perubahan itu bermula ketika pemerintah menerbitkan Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit (PO-PAK) pada 2014.

Aturan tersebut menyamakan nilai prosiding konferensi internasional yang terindeks basis data internasional dengan artikel jurnal internasional dalam penilaian angka kredit dosen.

Menurut Arief, kebijakan itu langsung mengubah perilaku akademik.

“Sejak 2014 terjadi lonjakan kumpulan makalah sampai sekarang. Padahal, di negara lain tidak seperti itu.” ujarnya.

Pada saat itu, satu artikel jurnal internasional dengan penulis tunggal bernilai sekitar 40 angka kredit atau hampir setengah syarat menuju jabatan guru besar. Ketika pemerintah memberikan bobot yang relatif tinggi kepada prosiding konferensi, dosen memperoleh jalur yang lebih cepat untuk mengumpulkan angka kredit.

“Kalau masuk jurnal susah, dosen dapat memilih cara yang lebih gampang.” tambahnya.

Arief menilai orientasi mengejar angka akhirnya menggeser semangat menghasilkan penelitian yang benar-benar berkualitas.

Meski pemerintah telah merevisi aturan itu melalui PO-PAK 2019 hingga Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2026, dampak kebijakan sebelumnya masih terlihat dalam pola publikasi nasional.

Industri Konferensi Tumbuh Pesat

Perubahan insentif tersebut mendorong pertumbuhan konferensi internasional di berbagai perguruan tinggi.

Salah satu contohnya ialah International Conference on Multidisciplinary Approaches for Sustainable Rural Development (ICMA-SURE) yang sejak 2018 rutin diselenggarakan LPPM Universitas Jenderal Soedirman.

Pada penyelenggaraan kedelapan tahun 2025, panitia menerima 489 makalah dari 1.867 peserta yang mewakili 16 institusi di Indonesia serta 13 negara.

Panitia membuka tema yang sangat luas, mulai dari ilmu hayati, kesehatan, infrastruktur, ekonomi, hingga pembangunan masyarakat.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek M. Fauzan Adziman menilai keluasan tema memang tidak otomatis menunjukkan persoalan.

Namun, menurutnya, kondisi tersebut layak menjadi sinyal untuk menilai kualitas proses seleksi sebuah konferensi.

“Konferensi ilmiah seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan, bukan sekadar wadah administratif untuk presentasi dan penerbitan.” ujarnya.

Ketika Tema Tidak Lagi Menjadi Batas

Persoalan lain muncul ketika makalah dan jurnal penerbit tidak lagi memiliki kesesuaian bidang.

Pada ICMA-SURE 2024, seorang Guru Besar Hukum Tata Negara berinisial RA menerbitkan makalah melalui jurnal yang berfokus pada isu lingkungan.

Saat wartawan meminta penjelasan, RA menilai ruang lingkup lingkungan masih cukup luas. Ia juga menyebut penyelenggara memiliki kewenangan menentukan jurnal tujuan publikasi.

Di sisi lain, Ketua LPPM Unsoed Prof. Elly Tugiyanti menjelaskan bahwa salah satu luaran konferensi memang berupa publikasi pada jurnal E3S yang berfokus pada lingkungan, energi, dan sains.

Meski demikian, Elly mengaku tidak mengikuti secara rinci proses seleksi publikasi karena tim khusus menangani seluruh tahapan tersebut.

Fenomena serupa muncul pada konferensi lain yang melibatkan seorang guru besar dari Universitas Negeri Jakarta.

Dalam satu konferensi daring pada 2025, panitia menjadwalkan presentasi sekitar 224 makalah secara bersamaan melalui 16 ruang Zoom.

Model seperti itu memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas diskusi ilmiah sekaligus kualitas peer review yang menjadi fondasi utama publikasi akademik.

Masalahnya Bukan Jumlah, Melainkan Tujuan

Indonesia berhasil meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah secara kuantitatif.

Namun, peningkatan jumlah tidak otomatis mencerminkan peningkatan kualitas.

Dalam tradisi akademik internasional, konferensi berfungsi sebagai ruang bertukar gagasan awal sebelum peneliti menyempurnakan hasilnya menjadi artikel jurnal melalui proses penelaahan ilmiah yang ketat.

Ketika prosiding menjadi jalur tercepat untuk mengumpulkan angka kredit, orientasi penelitian berisiko bergeser. Peneliti tidak lagi berfokus pada pencarian pengetahuan, tetapi pada pemenuhan target administrasi.

Dalam situasi seperti itu, konferensi kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang debat ilmiah dan berubah menjadi pasar publikasi.

Ini Bukan Sekadar Lonjakan Publikasi

Ledakan makalah konferensi bukan sekadar persoalan statistik.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah kebijakan mampu membentuk perilaku akademik dalam skala nasional.

Ketika sistem lebih menghargai jumlah daripada mutu, para peneliti akan menyesuaikan strategi mereka dengan insentif yang tersedia.

Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukan lagi mengapa Indonesia menghasilkan begitu banyak prosiding konferensi.

Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah ribuan publikasi itu benar-benar memperkuat ilmu pengetahuan Indonesia, atau hanya mempercepat perjalanan menuju kenaikan jabatan akademik? @dimas

Tags: Mutu RisetPerguruan TinggiPublikasi IlmiahRiset Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Saat Angka Kredit Mengalahkan Pengetahuan

Saat Angka Kredit Mengalahkan Pengetahuan

by Anisa
Juli 27, 2026

Angka kredit seharusnya mengukur kinerja dosen, bukan mengarahkan penelitian. Namun, sejak PO-PAK 2014 mengubah sistem penilaian, banyak akademisi menyesuaikan riset...

Kampus Masuk Dapur MBG: Pengabdian atau Awal Komersialisasi Pendidikan?

Kampus Masuk Dapur MBG: Pengabdian atau Awal Komersialisasi Pendidikan?

by dimas
Mei 18, 2026

Kampus mulai masuk ke operasional MBG. Pengabdian sosial atau tanda pendidikan tinggi makin dekat dengan kepentingan proyek negara? Tabooo.id -...

Next Post
Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id