Selasa, Juli 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dar Mortir, Perempuan di Balik Dapur Tempur Surabaya

by eko
Juli 24, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Mengenal Dar Mortir, perempuan pejuang di balik dapur umum Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Ia memasak ribuan bungkus nasi, mengelola logistik, mendirikan pos PMI, hingga mengorbankan emas demi para pejuang.

Tabooo.id – Sejarah sering memilih siapa yang layak dikenang. Bung Tomo menjadi simbol Pertempuran 10 November 1945, tetapi kemenangan Surabaya tidak hanya lahir dari suara yang menggelegar di medan perang. Di balik ribuan pejuang yang mengangkat senjata, ada seorang perempuan yang memastikan mereka tidak bertempur dengan perut kosong. Namanya Dar Mortir. Ia membuktikan bahwa sepiring nasi juga bisa menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan.

Ketika Sejarah Terlalu Sibuk Mengingat Bung Tomo

Setiap kali membahas Pertempuran 10 November 1945, publik hampir selalu mengingat Bung Tomo. Orasinya yang membakar semangat menggerakkan ribuan pemuda Surabaya untuk mempertahankan kota dari pasukan Belanda dan Inggris setelah Jepang menyerah.

Namun, sejarah tidak hanya lahir dari suara yang menggema di medan perang. Di balik pekikan “Merdeka!”, hadir sosok perempuan yang memastikan para pejuang tetap memiliki tenaga untuk bertahan.

Namanya Dariyah Soerodikoesoemo, tetapi masyarakat Surabaya lebih mengenalnya sebagai Dar Mortir.

Dapur Umum Menjadi Senjata yang Tak Kalah Penting

Pertempuran tidak hanya membutuhkan bambu runcing, senapan, atau granat. Perang juga membutuhkan makanan.

Ini Belum Selesai

Londo Ireng: Ketika Sejarah Menjadi Senjata Politik

Rumah Dinas Bakorwil: Sejarah Madiun yang Terlupakan

Dar Mortir memahami hal itu. Ia memimpin dapur umum yang setiap hari memasak dan mendistribusikan makanan untuk para pejuang. Baginya, kemenangan tidak akan tercapai jika para pemuda bertempur dengan perut kosong.

Prinsip hidupnya sederhana, tetapi sangat kuat.

“Orang dapat bekerja dengan tenang dan penuh semangat bila perut mereka kenyang.”

Pada masa itu, warga Surabaya menyebut konsumsi makanan dan minuman bagi para pejuang sebagai “jaminan” makan.

Seribu Bungkus Nasi Sebelum Matahari Terbit

Setiap hari, Dar Mortir bersama anggota dapur umum menyiapkan sekitar 500 hingga 1.000 bungkus nasi.

Mereka memulai pekerjaan sebelum fajar. Mereka memasak nasi, menggoreng ikan, membuat sayur, membungkus makanan dengan daun pisang, lalu menyusun seluruh bekal ke dalam keranjang sebelum mengirimkannya ke berbagai titik pertempuran.

Dar Mortir tidak hanya mengawasi proses memasak. Ia juga memastikan setiap bungkus nasi sampai kepada para pejuang dalam kondisi layak makan. Ia tidak ingin makanan basi membahayakan mereka.

Di tengah dentuman senjata dan situasi yang penuh ketidakpastian, dapur umum terus bekerja tanpa henti.

Mengurus Logistik Sekaligus Merawat Korban

Perjuangan Dar Mortir tidak berhenti di dapur.

Ia juga membangun dan mengoordinasikan sejumlah pos Palang Merah Indonesia (PMI) untuk merawat para pejuang yang terluka. Saat banyak orang memilih bertahan demi keselamatan diri, Dar justru memperluas tanggung jawabnya.

Ia memahami bahwa perang membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Para pejuang juga memerlukan makanan, obat-obatan, dan perawatan agar mereka bisa kembali berdiri.

Gelang dan Kalung Emas Berubah Menjadi Makanan

Akhir 1945, para pejuang mundur dari Surabaya menuju Jombang. Saat itu, sebagian besar penduduk meninggalkan kota sehingga persediaan makanan semakin sulit diperoleh.

Melihat para pejuang mulai kelaparan, Dar Mortir mengambil keputusan besar.

Ia mendatangi sebuah toko milik warga Tionghoa untuk membeli bahan makanan. Namun, ia tidak membawa uang.

Tanpa ragu, ia melepas gelang dan kalung emas seberat sekitar 100 gram lalu menukarkannya dengan bahan pangan.

Perhiasan itu menjadi nasi. Nasi itu kemudian memberi tenaga bagi para pejuang untuk melanjutkan perjuangan.

Julukan “Mortir” yang Lahir dari Keberanian

Banyak orang mengira julukan Dar Mortir berasal dari kedekatannya dengan medan perang.

Faktanya, julukan itu muncul karena kebiasaannya melempar sirih dari mulut ketika para pemuda menggoda atau meledeknya. Candaan itu kemudian berkembang menjadi panggilan yang melekat hingga akhir hayatnya.

Julukan tersebut menunjukkan kepribadiannya yang tegas, berani, dan dekat dengan para pejuang.

Kemerdekaan Juga Dimenangkan oleh Mereka yang Bekerja di Balik Layar

Nama Dar Mortir memang tidak sepopuler Bung Tomo. Namun, kisah hidupnya menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya berlangsung di garis depan.

Ada orang yang mengangkat senjata, ada yang menyampaikan pidato dan ada pula yang memastikan nasi tetap tersedia, merawat korban, dan menjaga semangat perjuangan tetap menyala.

Dar Mortir membuktikan bahwa seorang ibu juga bisa menjadi bagian penting dari sejarah bangsa. Ia tidak memimpin serangan, tetapi ia menjaga ribuan pejuang tetap berdiri.

Kadang-kadang, kemerdekaan juga lahir dari kepulan asap dapur.@eko

Tags: 10 November 1945Dar MortirDariyah SoerodikoesoemoPertempuran Surabaya

Kamu Melewatkan Ini

Dapur Umum: Garis Depan yang Jarang Masuk Sejarah

Dapur Umum: Garis Depan yang Jarang Masuk Sejarah

by eko
Juli 26, 2026

Kepahlawanan tidak hanya lahir di garis depan. Kisah Dar Mortir mengingatkan bahwa logistik, tenaga medis, dan dapur umum juga menjadi...

Next Post
Bahasa Presiden, Masihkah Menjadi Teladan?

Bahasa Presiden, Masihkah Menjadi Teladan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id