Film dokumenter Seni dalam Kain mengangkat perjuangan Joko menjaga Batik Athanissa sebagai warisan budaya Madiun di tengah perubahan zaman.
Tabooo.id – Sebuah papan bertuliskan Batik Athanissa berdiri di Jalan Sabdopalon No. 19, Kelurahan Winongo, Kota Madiun. Dari balik bangunan sederhana itu, suara canting yang menyentuh kain berpadu dengan aroma malam yang menghangat. Di ruang produksi tersebut, para perajin menggoreskan motif demi motif dengan penuh ketelitian. Mereka tidak hanya menghasilkan selembar kain batik, tetapi juga merawat warisan budaya yang terus menghadapi tantangan zaman.
Namun, perubahan bergerak jauh lebih cepat daripada proses membatik.
Batik printing kini memenuhi pasar dengan harga yang lebih terjangkau dan waktu produksi yang singkat. Di sisi lain, batik tulis tetap menuntut kesabaran, keterampilan, dan ketekunan. Perbedaan itulah yang setiap hari dihadapi Joko, pemilik sekaligus pengelola Batik Athanissa.
Perjalanan tersebut menjadi inti film dokumenter Seni dalam Kain, karya Kelompok 2 TABOOO Cinema Lab. Melalui pendekatan observasional, dokumenter ini mengajak penonton melihat bagaimana sebuah UMKM terus mempertahankan identitas budaya di tengah perubahan selera pasar dan persaingan industri yang semakin ketat.
Ketika Batik Menjadi Identitas
Bagi Joko, Batik Athanissa bukan sekadar tempat menjalankan usaha. Ia membangun ruang itu sebagai rumah bagi batik khas Madiun sekaligus ruang untuk menjaga nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, setiap tahapan produksi tetap mengutamakan proses tradisional. Joko bersama para perajin menggambar motif, mencanting, mewarnai kain, hingga menyelesaikan setiap lembar batik dengan tangan. Mereka memilih menjaga kualitas daripada mengejar kecepatan produksi.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa batik tulis tidak lahir dalam hitungan jam. Sebaliknya, setiap lembar kain menyimpan waktu, pengalaman, dan ketelitian yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
Perubahan Pasar Menguji Keteguhan
Meski batik telah menjadi bagian dari identitas Indonesia, tantangan baru terus bermunculan.
Perubahan selera konsumen mendorong banyak pelaku usaha mengikuti tren pasar. Selain itu, persaingan industri, persoalan produksi, dan pemasaran ikut menguji daya tahan UMKM batik.
Joko memilih menghadapi tantangan tersebut tanpa meninggalkan karakter Batik Athanissa. Ia terus mengembangkan usahanya sambil mempertahankan motif dan kualitas yang menjadi ciri khas produknya.
Baginya, batik tidak hanya menawarkan nilai ekonomi. Setiap motif juga menyimpan cerita, pengetahuan, dan identitas yang membedakan batik tulis dari produk produksi massal. Karena itulah, ia terus mempertahankan proses yang telah menjadi bagian dari perjalanan Batik Athanissa.
Kamera Mengikuti Kehidupan Sehari-hari
Kelompok dua yang terdiri atas Nila Krisnawati, Jack Manuel T, Diah Nur Syifa, Rajendra Yafik A, dan Lailatul Fitrianingrum memilih mendekati kisah Joko melalui kehidupan sehari-hari.
Mereka mengikuti aktivitas Joko sejak proses produksi dimulai. Kamera merekam detail canting yang menggores kain, proses pewarnaan, aktivitas para perajin, hingga suasana ruang produksi Batik Athanissa. Selain itu, kamera menangkap cerita Joko tentang perjalanan usahanya, tantangan yang ia hadapi, serta alasan yang membuatnya tetap bertahan.
Pendekatan tersebut membuat Seni dalam Kain terasa jujur dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Dokumenter ini tidak membangun konflik melalui dramatisasi. Sebaliknya, film ini membiarkan aktivitas sehari-hari berbicara tentang arti ketekunan, konsistensi, dan kecintaan terhadap pekerjaan.
Melalui dokumenter itu, kelima peserta menunjukkan bahwa kualitas batik lahir dari proses yang panjang, bukan dari kecepatan produksi.
UMKM yang Menjaga Warisan Budaya
Di tengah persaingan industri kreatif, banyak pelaku usaha berlomba meningkatkan efisiensi produksi. Namun, Batik Athanissa memilih jalan yang berbeda.
Joko terus mempertahankan karakter batik khas daerahnya meskipun pasar terus berubah. Ia percaya bahwa setiap lembar batik membawa identitas masyarakat yang tidak bisa dipisahkan dari budaya lokal.
Karena itu, Batik Athanissa tidak hanya menggerakkan roda ekonomi melalui kegiatan usaha. Kehadiran UMKM ini juga menjaga pengetahuan membatik, mempertahankan tradisi, dan memperkenalkan kembali nilai budaya kepada masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan yang ingin disampaikan dokumenter Seni dalam Kain. Film ini menegaskan bahwa UMKM tidak sekadar mencari keuntungan. UMKM juga memegang peran penting dalam menjaga identitas budaya daerah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Dokumenter yang Merawat Ingatan
Pada bagian penutup, dokumenter menampilkan berbagai karya Batik Athanissa beserta pencapaian yang telah diraih selama menjalankan usaha. Setelah itu, Joko menyampaikan harapannya agar masyarakat terus mengenal, mencintai, dan melestarikan batik khas Kota Madiun sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
Harapan tersebut menjadi penutup yang sederhana, tetapi sarat makna.
Melalui Seni dalam Kain, Nila Krisnawati, Jack Manuel T, Diah Nur Syifa, Rajendra Yafik A, dan Lailatul Fitrianingrum tidak hanya menghasilkan sebuah film dokumenter. Mereka juga merekam semangat seorang pelaku UMKM yang memilih menjaga budaya ketika perubahan terus bergerak semakin cepat.
Pada akhirnya, Seni dalam Kain mengingatkan bahwa batik bukan sekadar kain bermotif. Batik merupakan hasil dari ketekunan, keterampilan, dan ingatan kolektif yang terus hidup melalui tangan-tangan para perajin. Selama masih ada orang yang bersedia merawat proses itu, batik akan tetap menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia, sekaligus menjadi penghubung antara generasi hari ini dan generasi yang akan datang. @dimas







