Canting Kuning merekam perjuangan Lilik Widyawati mempertahankan batik tulis di tengah maraknya batik printing dan perubahan zaman.
Tabooo.id – Ujung canting bergerak perlahan di atas selembar kain putih. Malam panas mengalir mengikuti garis demi garis motif. Di sudut Rumah Produksi Batik WMH, suara para pengrajin berpadu dengan aroma lilin yang menguar. Di tempat itu, waktu seolah berjalan lebih pelan.
Namun, dunia di luar terus melaju.
Batik printing hadir dengan harga lebih murah dan proses produksi yang jauh lebih cepat. Akibatnya, banyak orang memilih jalan yang praktis. Sementara itu, batik tulis tetap menuntut kesabaran, ketelitian, dan waktu yang panjang.
Kontras itulah yang menjadi napas Canting Kuning, film dokumenter karya Kelompok satu TABOOO Cinema Lab. Melalui pendekatan observasional, lima mahasiswa menghadirkan kisah tentang perjuangan menjaga batik tulis di tengah derasnya arus industri batik printing. Mereka terdiri atas Yudha Satria Wicaksono, Bernat Novi Ardani, Farizky Al Fath, Diandra Putri Indraprastya, dan Abriana Senja Rashifa. Film ini tidak hanya merekam proses membatik, tetapi juga mengajak penonton memahami makna di balik setiap goresan canting.
Menjaga Warisan, Bukan Sekadar Menjual Kain
Kelompok satu memilih mengangkat sosok Lilik Widyawati, pendiri Batik WMH, sebagai tokoh utama. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Mereka melihat perjuangan Bu Lilik mencerminkan upaya banyak pelaku budaya yang terus bertahan meski harus menghadapi perubahan zaman.
Lilik mendirikan Batik WMH pada 2 Oktober 2018, tepat bertepatan dengan Hari Batik Nasional. Ia memberi nama WMH dari gabungan nama Widia, Mei, dan Hendra, sebagai simbol perjalanan keluarga membangun rumah batik tersebut.
Sejak awal, Lilik tidak sekadar membangun usaha. Ia juga menjaga nilai budaya yang terkandung dalam setiap lembar batik tulis.
Karena itu, seluruh proses tetap berlangsung secara tradisional. Para pengrajin menggambar motif, mencanting, mewarnai, melorod, hingga menyelesaikan setiap kain dengan tangan. Mereka tidak mengejar kecepatan produksi. Sebaliknya, mereka mempertahankan kualitas, ketelitian, dan nilai budaya yang melekat pada setiap karya.
Ketika Kecepatan Menggeser Nilai
Meski batik telah menjadi identitas bangsa, tantangan baru terus bermunculan.
Kini, batik printing semakin mudah ditemukan dengan harga yang lebih murah dan proses produksi yang jauh lebih cepat. Karena itu, sebagian masyarakat mulai memandang batik hanya sebagai pakaian bermotif, bukan sebagai karya budaya yang lahir dari proses panjang.
Di sisi lain, Lilik tetap memilih bertahan.
Ia terus mengembangkan batik tulis meski harus menghadapi persaingan yang semakin ketat. Ia memahami bahwa jalan tersebut tidak mudah. Namun, ia percaya nilai sebuah batik lahir dari proses, bukan semata hasil akhirnya.
Konflik inilah yang kemudian menjadi benang merah dokumenter Canting Kuning. Kelompok 1 tidak membangun cerita melalui narasi yang berlebihan. Sebaliknya, mereka membiarkan realitas berbicara melalui aktivitas para pengrajin, percakapan dengan Lilik, serta detail-detail kecil yang sering luput dari perhatian.
Kamera yang Memilih Mengikuti Kehidupan
Alih-alih mengejar adegan dramatis, Kelompok satu memilih mengikuti ritme kehidupan Batik WMH.
Kamera merekam ujung canting yang bergerak perlahan, tangan pengrajin yang sabar menyusun motif, hingga wajah Lilik saat menceritakan alasan mempertahankan batik tulis. Pendekatan tersebut membuat dokumenter terasa lebih jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui pilihan visual itu, para pembuat film ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berlangsung di panggung besar. Sebaliknya, perjuangan tersebut justru tumbuh di ruang-ruang sederhana, tempat orang-orang memilih bertahan pada nilai yang mereka yakini.
Bertahan di Tengah Arus Perubahan
Menjaga batik tulis tentu bukan pilihan yang mudah.
Proses produksinya membutuhkan waktu lebih lama. Biaya pembuatannya juga lebih besar. Selain itu, pasar sering membandingkan batik tulis dengan batik printing yang jauh lebih murah.
Meski demikian, Lilik tidak mengubah prinsipnya.
Ia terus mempertahankan proses tradisional. Ia percaya setiap motif menyimpan cerita, ketekunan, dan identitas budaya yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
Karena itulah, setiap lembar batik menjadi lebih dari sekadar kain. Batik menjadi jejak tangan, kesabaran, dan ingatan yang terus hidup.
Dokumenter yang Menjaga Ingatan
Di bagian akhir film, kamera menampilkan karya-karya Batik WMH yang telah selesai. Para pengunjung menikmati setiap motif yang terpajang di galeri. Sementara itu, Lilik menyampaikan harapannya agar generasi muda semakin mencintai, memakai, dan melestarikan batik tradisional sebagai warisan budaya Indonesia.
Bagi Kelompok satu TABOOO Cinema Lab, dokumenter ini tidak berhenti sebagai tugas produksi audiovisual. Canting Kuning menjadi upaya merekam pengetahuan, ketekunan, dan nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat Winongo agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.
Akhirnya, dokumenter ini mengingatkan satu hal. Budaya tidak hilang dalam satu malam. Budaya memudar ketika masyarakat berhenti merawatnya. Karena itu, perjuangan Lilik dan kerja kreatif Yudha Satria Wicaksono, Bernat Novi Ardani, Farizky Al Fath, Diandra Putri Indraprastya, serta Abriana Senja Rashifa sama-sama menunjukkan bahwa sebuah karya dokumenter dapat menjadi ruang untuk menjaga ingatan sekaligus merawat warisan budaya Indonesia. @dimas







