Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketahanan Pangan Dibangun dari Sawah, Kenapa Petaninya Masih Sulit Sejahtera?

by teguh
Juli 14, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Sekarang ketahanan pangan dibangun tapi petani menghadapi tekanan yang datang dari berbagai arah. Pupuk menjadi komponen biaya yang terus mengalami kenaikan. Benih juga membutuhkan modal lebih besar dibanding beberapa musim sebelumnya. Di saat yang sama, upah tenaga kerja ikut meningkat karena biaya hidup masyarakat terus bergerak naik.

Tabooo.id – Ketika pemerintah membangun ketahanan pangan disaat ini juga dibarengi kenaikan harga solar yang berimbas memperbesar ongkos pengolahan lahan sekaligus distribusi hasil panen. Belum termasuk biaya pestisida, irigasi, dan perawatan alat pertanian yang terus menggerus keuntungan.

Sejak awal musim tanam, petani sudah mengeluarkan modal dalam jumlah besar. Mereka harus membeli kebutuhan produksi jauh sebelum mengetahui apakah panen nanti berhasil atau justru gagal.

Tekanan itu semakin berat karena perubahan iklim mengubah pola bertani yang selama puluhan tahun menjadi pegangan. Musim hujan datang lebih lambat. Kemarau berlangsung lebih panjang. Banjir muncul ketika tanaman mulai memasuki masa pertumbuhan.

Akibatnya, risiko gagal panen terus meningkat. Namun keuntungan yang diterima petani tidak ikut bergerak secepat kenaikan biaya produksi.

Ironisnya, ruang publik lebih sering memperdebatkan harga beras di pasar daripada biaya yang harus ditanggung petani sejak hari pertama mereka mengolah sawah.

Ini Belum Selesai

Canting Kuning: Ketika Batik Tulis Berjuang Melawan Zaman

Supersemar: Ketika Selembar Surat Mengubah Arah Republik

Ketahanan Pangan Tidak Bisa Berdiri di Atas Margin yang Tipis

Pemerintah sering menggunakan jumlah produksi nasional, stabilitas harga beras, dan cadangan pangan sebagai ukuran keberhasilan sektor pertanian.

Semua indikator itu memang penting. Namun angka-angka tersebut belum cukup menggambarkan kondisi sebenarnya. Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada gudang yang penuh.

Ketahanan pangan juga membutuhkan petani yang masih percaya bahwa bertani mampu memberikan kehidupan yang layak.

Ketika keuntungan terus menyusut, sebagian petani mulai meninggalkan lahan pertanian. Sebagian lainnya memilih menjual sawah karena pekerjaan itu tidak lagi mampu menopang kebutuhan keluarga.

Situasi tersebut memunculkan persoalan baru. Jika generasi muda ikut meninggalkan sektor pertanian, siapa yang akan menanam padi sepuluh atau dua puluh tahun mendatang?

Pertanyaan itu mulai mengkhawatirkan banyak akademisi.

“Regenerasi petani menjadi tantangan besar Indonesia. Anak-anak muda tidak akan tertarik masuk sektor pertanian apabila pertanian tidak mampu memberikan kesejahteraan.”
— Arif Satria dalam berbagai forum pembangunan pertanian sepanjang 2024–2025.

Ucapan tersebut bukan sekadar prediksi dan Fenomena itu sudah mulai terlihat di banyak daerah ketika usia petani terus bertambah, sementara jumlah petani muda justru semakin sedikit.

Petani Tidak Sedang Meminta Belas Kasihan

Banyak orang mengira petani hanya membutuhkan bantuan pemerintah. Padahal, sebagian besar petani tidak meminta belas kasihan.

Mereka menginginkan harga yang mampu menutup biaya produksi sekaligus memberikan keuntungan yang wajar.

Keuntungan yang sehat memungkinkan mereka membeli pupuk untuk musim berikutnya. Pendapatan yang layak juga memberi ruang bagi keluarga petani menyekolahkan anak, memperbaiki alat pertanian, hingga bertahan ketika musim gagal panen datang.

Sebaliknya, keuntungan yang terus menipis membuat banyak petani mengambil keputusan sulit. Ada yang menjual lahan, Ada yang beralih profesi.

Tidak sedikit pula yang membiarkan sawah berubah menjadi kawasan permukiman atau bangunan komersial.

Perubahan itu memang berlangsung perlahan. Namun dampaknya bisa bertahan selama puluhan tahun.

Harga Gabah Hanya Satu Bagian dari Persoalan Besar

Ekonom pertanian Bustanul Arifin berulang kali mengingatkan bahwa kesejahteraan petani tidak hanya ditentukan oleh harga jual gabah. Pemerintah juga perlu memperbaiki keseluruhan ekosistem pertanian, mulai dari akses pupuk, pembiayaan, teknologi, irigasi, distribusi, hingga kepastian pasar.

Pandangan itu menunjukkan bahwa kenaikan HPP memang penting. Namun kebijakan harga tidak akan cukup apabila biaya produksi terus meningkat tanpa kendali.

Di sisi lain, rantai distribusi yang panjang juga mengurangi keuntungan yang seharusnya diterima petani.

Artinya, solusi jangka panjang tidak hanya bergantung pada angka Rp6.500 atau Rp7.000 per kilogram.

Indonesia membutuhkan sistem pertanian yang mampu memberikan kepastian ekonomi bagi orang-orang yang mengolah sawah.

Evaluasi Kebijakan Harus Menyentuh Kehidupan Nyata

Selain meminta evaluasi HPP, Mukhamad Misbakhun juga mendorong Kementerian PPN/Bappenas memperkuat evaluasi terhadap berbagai Instruksi Presiden yang berkaitan dengan pembangunan pangan dan penguatan ekonomi daerah. Menurutnya, pemerintah tidak boleh berhenti pada laporan administratif.

“Evaluasi itu harus konkret, Siapa pelaksananya, di mana sebaran programnya, berapa target dan realisasinya, apa dampaknya bagi masyarakat, dan apa rekomendasi perbaikannya,” ujar Misbakhun.

Pesan itu sesungguhnya sederhana.Dokumen perencanaan tidak boleh berhenti sebagai kumpulan angka. Setiap program harus menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat.

Kalau produksi meningkat tetapi kehidupan petani tetap berjalan di tempat, berarti kebijakan belum menyentuh akar persoalan.

Harga Beras Selalu Menjadi Berita, Kehidupan Petani Sering Terlupakan

Setiap kali harga beras naik, perhatian publik langsung tertuju pada inflasi. Pemerintah segera menggelar operasi pasar. Media ramai memberitakan kenaikan harga.

Masyarakat pun mulai menghitung ulang pengeluaran rumah tangga. Namun perhatian yang sama jarang muncul ketika petani menerima harga gabah yang tidak lagi sebanding dengan biaya produksi.

Padahal kedua persoalan tersebut saling berkaitan. Keuntungan yang terus menyusut membuat petani mengurangi investasi pada musim tanam berikutnya.

Produktivitas akhirnya menurun, Pasokan beras ikut terganggu dan Pada akhirnya, masyarakat kembali menghadapi kenaikan harga pangan.

Rantai itu terus berulang Karena itu, menjaga kesejahteraan petani bukan sekadar melindungi satu kelompok profesi. Langkah tersebut menjadi investasi jangka panjang bagi keamanan pangan nasional.

Ketahanan Pangan Harus Dimulai dari Ketahanan Hidup Petani

Ada ironi yang terus berulang dalam pembangunan pertanian Indonesia. Pemerintah terus mendorong petani meningkatkan produksi pangan. Pada saat yang sama, berbagai program meminta mereka menjaga sawah sebagai fondasi ketahanan pangan nasional. Bahkan, hampir setiap target swasembada selalu menempatkan petani sebagai aktor utama keberhasilan.

Ironisnya, perhatian terhadap kesejahteraan mereka justru sering datang belakangan. Inilah pola yang layak dipertanyakan dan Banyak pihak sibuk menghitung tonase beras.

Sebagian ekonom fokus membaca inflasi pangandan Pasar terus mengawasi pergerakan harga.

Sementara itu, petani setiap hari menghitung utang, biaya pupuk, cicilan alat pertanian, hingga kebutuhan sekolah anak. Ketahanan pangan memang membutuhkan produksi yang tinggi.

Namun produksi tidak akan bertahan tanpa petani yang merasa pekerjaannya memberi harapan. Sawah mampu menghasilkan gabah Tetapi hanya petani yang sejahtera yang sanggup menjaga sawah tetap hidup.

Karena itu, persoalan sesungguhnya bukan sekadar apakah pemerintah akan menaikkan HPP menjadi Rp6.700 atau Rp7.000 per kilogram.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah Apakah Indonesia sedang membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan, atau hanya memperpanjang daya tahan petani untuk terus memikul beban yang semakin berat?. @teguh

Tags: BappenasDPR RIEkonomi IndonesiaGabahHarga GabahHPP GabahKebijakan PublikKenaikan Harga SolarKesejahteraan PetaniKetahanan PanganKomisi XIMisbakhunPangan NasionalPertanian IndonesiaPetani IndonesiaSwasembada Pangan

Kamu Melewatkan Ini

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

by teguh
Juli 17, 2026

Indonesia akhirnya memulai pembangunan Lapangan Abadi Blok Masela setelah menunggu hampir tiga dekade. Kabar itu memang layak disambut. Namun satu...

Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa: D.N. Aidit Membongkar Kekuasaan di Balik Kemiskinan

Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa: D.N. Aidit Membongkar Kekuasaan di Balik Kemiskinan

by Tabooo
Juli 17, 2026

D.N. Aidit tidak melihat kemiskinan petani sebagai nasib. Melalui riset di Jawa Barat, ia membongkar hubungan tanah, utang, pasar, dan...

Kipas Anginnya Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

Kipas Angin Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

by teguh
Juli 17, 2026

Di era media sosial, satu tangkapan layar bisa memicu kegaduhan nasional sebelum pemerintah sempat membuka konferensi pers. Itulah yang terjadi...

Next Post
Anarkisme: Dari Ideologi ke Label Keamanan

Anarkisme: Dari Ideologi ke Label Keamanan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id