Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

HPP Gabah Rp6.500 Digugat DPR: Jangan Bangun Ketahanan Pangan di Atas Keringat Petani

by teguh
Juli 13, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter
Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada sawah yang tetap hijau atau gudang beras yang penuh. Ketahanan pangan juga bergantung pada kesejahteraan petani. Karena itu, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun meminta pemerintah membuka evaluasi terhadap Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) yang saat ini sebesar Rp6.500 per kilogram. Menurutnya, negara harus memastikan petani memperoleh keuntungan yang layak agar fondasi pangan nasional tetap kuat.

Tabooo.id: Misbakhun menyampaikan permintaan itu dalam keterangan tertulis pada Senin, 13/07/2026. Ia menilai pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan harga dengan kondisi riil di lapangan. Biaya produksi terus berubah, sementara harga gabah ikut bergerak mengikuti dinamika pasar. Tapi yang harus diingat juga adalah jangan sampai ketahanan pangan menjadi senjata untuk memeras keringat petani.

“Ketika biaya produksi naik dan harga gabah bergerak, maka HPP GKP di tingkat petani harus dibuka peluang untuk dievaluasi dan dinaikkan. Tujuannya agar intervensi pemerintah benar-benar menjaga nilai tukar petani dan memastikan petani memperoleh nilai ekonomi yang layak,” kata Misbakhun.

Pernyataan tersebut muncul saat Komisi XI DPR mendorong Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas memperkuat arah pembangunan sektor pangan. Misbakhun meminta pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga menjaga kesejahteraan petani sebagai pelaku utama pangan nasional.

Harga Beli Tidak Boleh Tertinggal dari Biaya Produksi

Misbakhun menilai pemerintah perlu melihat persoalan pangan secara lebih utuh. Selama ini, perhatian sering tertuju pada stabilitas harga beras bagi konsumen. Namun, petani justru menghadapi kenaikan biaya pupuk, benih, pestisida, bahan bakar, hingga ongkos tenaga kerja.

Jika biaya produksi terus meningkat, sementara harga pembelian pemerintah tetap bertahan, keuntungan petani akan terus tergerus. Kondisi itu berpotensi menurunkan semangat petani untuk terus menanam.

“Petani tidak boleh hanya menjadi bagian dari target produksi. Mereka adalah pelaku utama pangan nasional. Kalau petaninya tidak sejahtera, fondasi ketahanan pangan kita juga tidak akan kuat,” ujar Misbakhun.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan sektor pangan tidak cukup diukur dari jumlah produksi nasional. Negara juga harus memastikan petani menikmati hasil yang sepadan dengan kerja keras mereka.

Ini Belum Selesai

Tragedi Sibolangit: Empat Nyawa Melayang di Jalur Medan-Berastagi

Vivo T5 Lite Resmi Meluncur, Bawa Baterai 6.500 mAh dan Fast Charging 44W

Pakar: Ketahanan Pangan Berawal dari Petani yang Sejahtera

Pandangan Misbakhun sejalan dengan berbagai kajian akademik mengenai pembangunan pertanian.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University Prof. Hermanto Siregar pernah menegaskan bahwa ketahanan pangan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani.

“Ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan pangan. Petani harus memperoleh insentif ekonomi agar tetap memiliki motivasi untuk berproduksi,” ujar Hermanto dalam diskusi ketahanan pangan IPB pada 2024.

Ekonom pertanian IPB Prof. Dwi Andreas Santosa juga beberapa kali mengingatkan bahwa harga gabah memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian.

“Kalau bertani tidak lagi memberikan keuntungan, petani akan meninggalkan sawah. Dalam jangka panjang, produksi pangan nasional ikut terancam,” kata Dwi Andreas Santosa dalam diskusi pangan nasional 2024.

Pendapat para akademisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan harga tidak sekadar mengatur transaksi jual beli gabah. Kebijakan itu ikut menentukan masa depan produksi pangan Indonesia.

Bappenas Diminta Mengubah Cara Mengevaluasi Program

Selain membahas HPP gabah, Misbakhun juga meminta Bappenas memperbaiki sistem evaluasi berbagai Instruksi Presiden yang berkaitan dengan pembangunan nasional, termasuk sektor pangan.

Ia menilai evaluasi pemerintah selama ini masih terlalu berfokus pada laporan administratif. Padahal masyarakat membutuhkan ukuran keberhasilan yang benar-benar terlihat di lapangan.

“Evaluasi itu harus konkret. Siapa pelaksananya, di mana sebaran programnya, berapa target dan realisasinya, apa dampaknya bagi masyarakat, dan apa rekomendasi perbaikannya. Dengan begitu, Bappenas bisa memastikan perencanaan pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan rakyat di lapangan,” tegas Misbakhun.

Menurutnya, evaluasi harus mengukur dampak nyata. Pemerintah perlu melihat apakah setiap program benar-benar meningkatkan pendapatan petani, memperkuat ekonomi daerah, dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah Juga Menekankan Pentingnya Keuntungan Petani

Pandangan tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi berulang kali menegaskan bahwa petani harus memperoleh keuntungan agar ketahanan pangan dapat berjalan berkelanjutan.

“Petani harus untung. Negara tidak boleh membangun ketahanan pangan dengan membuat petani merugi,” kata Arief Prasetyo Adi dalam Rapat Koordinasi Nasional Pangan, 31 Januari 2024.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kesejahteraan petani mulai menjadi perhatian penting dalam kebijakan pangan nasional. Namun, pelaksanaannya tetap memerlukan evaluasi yang konsisten agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani.

Ketahanan Pangan Tidak Bisa Bertumpu pada Produksi Saja

Data produksi memang penting. Stok beras juga tetap harus terjaga. Namun, semua itu tidak akan bertahan lama jika petani terus menghadapi keuntungan yang semakin tipis.

Kebijakan harga yang adil akan menjaga minat petani untuk tetap menanam. Sebaliknya, harga yang tertinggal dari biaya produksi akan memperbesar risiko berkurangnya regenerasi petani dan menurunnya produktivitas pertanian.

Di banyak daerah, persoalan utama bukan lagi kemampuan petani menghasilkan padi. Persoalannya adalah apakah hasil panen masih mampu membiayai kehidupan keluarga mereka.

Ketika Kebijakan Bertemu Kenyataan

Permintaan DPR untuk mengevaluasi HPP gabah menunjukkan satu persoalan yang sering luput dalam diskusi pangan nasional. Negara kerap berbicara tentang swasembada, cadangan beras, hingga stabilitas harga. Namun, kesejahteraan petani masih sering menjadi variabel yang datang belakangan.

Padahal, ketahanan pangan bukan sekadar soal berapa juta ton beras berhasil dipanen setiap tahun. Ketahanan pangan juga berbicara tentang siapa yang tetap mau menanam ketika biaya terus naik, cuaca semakin sulit diprediksi, dan keuntungan semakin menipis.

Jika negara ingin membangun ketahanan pangan yang kokoh, kebijakan harga harus memberi kepastian kepada petani. Sebab, tidak ada sistem pangan yang mampu bertahan lama ketika pelaku utamanya terus menanggung beban paling besar.

Produksi dapat meningkat dalam satu musim. Namun, kepercayaan petani kepada negara membutuhkan keberpihakan yang nyata. Di situlah masa depan ketahanan pangan Indonesia sebenarnya dipertaruhkan. @teguh

Tags: BappenasDPR RIEkonomi IndonesiaGabahHarga GabahHPP GabahKebijakan PublikKesejahteraan PetaniKetahanan PanganKomisi XIMisbakhunPangan NasionalPertanian IndonesiaPetani IndonesiaSwasembada Pangan

Kamu Melewatkan Ini

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

by teguh
Juli 17, 2026

Indonesia akhirnya memulai pembangunan Lapangan Abadi Blok Masela setelah menunggu hampir tiga dekade. Kabar itu memang layak disambut. Namun satu...

Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa: D.N. Aidit Membongkar Kekuasaan di Balik Kemiskinan

Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa: D.N. Aidit Membongkar Kekuasaan di Balik Kemiskinan

by Tabooo
Juli 17, 2026

D.N. Aidit tidak melihat kemiskinan petani sebagai nasib. Melalui riset di Jawa Barat, ia membongkar hubungan tanah, utang, pasar, dan...

Kipas Anginnya Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

Kipas Angin Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

by teguh
Juli 17, 2026

Di era media sosial, satu tangkapan layar bisa memicu kegaduhan nasional sebelum pemerintah sempat membuka konferensi pers. Itulah yang terjadi...

Next Post
Hari Kepercayaan: Pengakuan yang Menunggu 81 Tahun

Hari Kepercayaan: Pengakuan yang Menunggu 81 Tahun

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id