Penolakan Sensus Ekonomi 2026 mencerminkan krisis kepercayaan publik. Negara mencari data, tetapi kehilangan kepercayaan rakyat.
Tabooo.id – Ketukan itu terdengar pelan. Seorang petugas datang membawa tablet, kartu identitas, dan daftar pertanyaan. Ia berharap percakapan singkat bisa menghasilkan data yang dibutuhkan negara.
Namun harapan itu sering kandas di depan pintu rumah.
Beberapa warga hanya mengintip dari balik tirai, lalu menghilang. Sebagian memilih tetap diam meski sadar ada tamu di depan rumah. Tidak sedikit pula yang langsung menolak bahkan sebelum petugas selesai memperkenalkan diri.
Petugas itu bukan menteri, bukan pejabat, dan bukan penyusun kebijakan ekonomi. Ia hanyalah warga biasa yang menjalankan tugas pendataan. Meski begitu, banyak orang melihat sosoknya sebagai representasi negara.
Bukan Sekadar Menolak Sensus
Penolakan terhadap Sensus Ekonomi 2026 menyimpan makna yang lebih besar daripada sekadar keengganan menjawab pertanyaan.
Sebagian masyarakat mempertanyakan manfaat pendataan. Pelaku usaha kecil mengaku khawatir negara memakai data tersebut untuk memperluas objek pajak. Warga lain merasa pertanyaan yang diajukan terlalu jauh masuk ke ruang pribadi.
Semua alasan itu mengarah pada satu persoalan yang sama, yakni melemahnya rasa percaya kepada negara.
Kepercayaan tidak hilang dalam satu hari. Pengalaman hidup membentuknya sedikit demi sedikit. Ketika harapan terus berbenturan dengan kenyataan, rasa percaya perlahan berubah menjadi kecurigaan.
Jarak yang Terus Melebar
Selama bertahun-tahun pemerintah meminta masyarakat mendukung setiap program pendataan. Negara juga menjelaskan bahwa data yang terkumpul akan menjadi dasar penyusunan kebijakan publik.
Di sisi lain, kehidupan sehari-hari menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Harga kebutuhan pokok terus bergerak naik. Kesempatan kerja terasa semakin sempit. Banyak keluarga harus mengatur ulang pengeluaran hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Dalam situasi seperti itu, petugas sensus kembali mengetuk pintu rumah.
Bagi sebagian warga, ketukan tersebut tidak lagi terdengar sebagai ajakan berpartisipasi. Mereka justru memaknainya sebagai tanda bahwa negara lebih rajin meminta informasi daripada menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.
Pandangan seperti itu akhirnya memperlebar jarak emosional antara negara dan masyarakat.
Keramahan yang Berganti Curiga
Masyarakat Indonesia selama ini dikenal ramah kepada tamu. Perbedaan pendapat biasanya muncul lewat sindiran, candaan, atau obrolan di warung kopi. Konflik terbuka jarang menjadi pilihan.
Kini suasananya berubah.
Pintu rumah tertutup rapat. Percakapan berhenti sebelum dimulai. Tatapan ramah berganti rasa curiga.
Perubahan sikap itu menunjukkan bahwa kesabaran publik mulai menipis. Petugas sensus akhirnya menerima kemarahan yang sesungguhnya mengarah kepada negara, bukan kepada dirinya.
Data Tidak Akan Lahir Tanpa Kepercayaan
Negara membutuhkan data ekonomi yang akurat agar kebijakan lebih tepat sasaran. Akan tetapi, masyarakat hanya akan memberikan informasi secara terbuka jika mereka merasa aman dan percaya.
Metode pendataan yang baik tidak cukup membangun kualitas data. Hubungan yang sehat antara pemerintah dan warga justru menjadi fondasi yang jauh lebih penting.
Karena itu, pemerintah tidak boleh menganggap penolakan terhadap sensus sebagai gangguan administratif semata. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai mempertanyakan hubungan mereka dengan negara.
Alarm yang Tidak Boleh Diabaikan
Sensus Ekonomi 2026 memang bertujuan memotret kondisi ekonomi nasional. Namun tanpa disadari, proses itu juga memperlihatkan kondisi lain yang jauh lebih penting, yaitu tingkat kepercayaan publik.
Semakin banyak pintu rumah yang enggan terbuka, semakin jelas pesan yang muncul.
Persoalannya bukan sekadar data yang sulit terkumpul.
Persoalan utamanya adalah semakin banyak warga yang merasa negara datang untuk meminta, tetapi terlalu jarang hadir untuk mendengar.
Ketika rasa percaya terus menurun, tantangan terbesar pemerintah bukan lagi menyelesaikan sensus.
Tantangan sesungguhnya adalah membuka kembali pintu kepercayaan yang perlahan tertutup di hati masyarakat. @dimas







