Selama bertahun-tahun, film Indonesia sering memakai bahasa daerah sebagai pelengkap dialog. Kehadirannya hanya muncul sesaat sebelum bahasa Indonesia kembali mengambil alih cerita. FOUFO memilih jalan yang berlawanan. Film yang akan tayang pada 9 Juli 2026 itu menjadikan bahasa Madura sebagai identitas utama sejak adegan pertama.
Tabooo.id – Pilihan tersebut bukan sekadar eksperimen artistik. Bayu Skak ingin menunjukkan bahwa bahasa lokal mampu membawa cerita besar sekaligus memperkenalkan budaya kepada penonton yang lebih luas.
Bayu Skak Berani Menjadikan Bahasa Madura Sebagai Identitas Film
Sutradara sekaligus kreator Bayu Skak menghadirkan sekitar 70 persen dialog berbahasa Madura sepanjang film.
“Untuk film FOUFO ini, yang patut digarisbawahi uniknya adalah menggunakan bahasa Madura 70 persen. Ketika saya berpikir menggunakan bahasa Madura 70 persen, saya mempropose ide untuk melakukan casting besar-besaran di Surabaya Utara,” ujar Bayu.
Keputusan itu langsung memengaruhi proses produksi. Bayu tidak ingin para aktor sekadar menghafal dialog. Ia ingin mereka hidup bersama bahasa yang memang mereka gunakan setiap hari.
Karena alasan itu, tim produksi menggelar casting besar-besaran di Surabaya Utara.
Sebanyak 2.500 orang mengikuti audisi tersebut.
Talenta Baru Hadir Membawa Madura yang Lebih Autentik
Proses casting melahirkan banyak wajah baru dari Madura. Mereka membawa logat, kebiasaan berbicara, hingga ekspresi yang tumbuh dari lingkungan mereka sendiri.
Bayu memilih para pendatang baru itu karena mereka mampu menghadirkan dialog yang terasa alami tanpa harus memaksakan aksen.
Langkah tersebut juga membuka kesempatan bagi talenta lokal untuk memasuki industri perfilman nasional.
Lewat mereka, FOUFO tidak hanya bercerita tentang Madura, tetapi juga menghadirkan Madura secara utuh di layar lebar.
FOUFO Menampilkan Wajah Madura yang Jarang Terlihat
Selama ini, banyak orang mengenal Madura melalui stereotip yang terus berulang dalam budaya populer.
FOUFO justru mengajak penonton melihat sisi lain.
Film ini memperlihatkan kehidupan masyarakat Madura melalui hubungan keluarga, nilai religius, rasa hormat kepada orang tua, serta loyalitas yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Bayu sengaja menghindari penggambaran yang sempit. Ia memilih menghadirkan karakter yang lebih dekat dengan realitas masyarakat Madura.
Budaya tidak sekadar menjadi latar cerita.
Budaya menjadi napas yang menghidupkan setiap adegan.
Kisah Universal Bertemu Alien dan Komedi
Meski mengusung identitas budaya yang kuat, FOUFO tetap mengangkat tema yang dekat dengan siapa pun.
Film ini mengikuti perjuangan seorang anak yang ingin membahagiakan ibunya. Bayu kemudian meramu cerita tersebut dengan komedi khasnya dan menghadirkan alien sebagai elemen fiksi ilmiah yang menggerakkan konflik.
Perpaduan itu melahirkan pengalaman menonton yang berbeda.
Penonton bisa tertawa karena tingkah para tokohnya. Namun, mereka juga dapat merasakan hangatnya hubungan keluarga yang menjadi inti cerita.
Ketika Budaya Lokal Menjadi Masa Depan Perfilman Indonesia
FOUFO memperlihatkan perubahan menarik dalam perfilman Indonesia. Semakin banyak sineas berani menjadikan identitas lokal sebagai kekuatan utama, bukan sekadar pelengkap visual.
Bahasa daerah kini tidak lagi membatasi penonton. Sebaliknya, bahasa itu justru memberi karakter yang membuat sebuah film tampil berbeda di tengah industri yang semakin kompetitif.
FOUFO melanjutkan gelombang tersebut.
Film ini membuktikan bahwa cerita yang lahir dari budaya lokal mampu menyentuh emosi siapa saja.
Perjuangan seorang anak untuk membahagiakan ibunya tidak mengenal batas bahasa maupun daerah.
Bahasa Madura memang mendominasi dialog sepanjang film. Namun, kasih sayang, harapan, dan tawa yang mengalir di dalamnya berbicara dalam bahasa yang dimengerti semua orang.@eko







