Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta menghidupkan kisah Raden Ronggo Prawirodirjo III dari Madiun, sosok yang berani melawan kolonialisme sebelum Perang Jawa.
Tabooo.id – Sejarah sering ditulis oleh mereka yang menang. Akibatnya, banyak tokoh yang pernah berdiri di garis depan justru menghilang dari ingatan publik. Nama-nama besar terus muncul dalam buku pelajaran. Sementara itu, tokoh lain hanya bertahan di arsip, naskah kuno, dan cerita lisan.
Di antara nama yang lama tenggelam itu, muncul kembali sosok Raden Ronggo Prawirodirjo III. Bukan melalui legenda, melainkan melalui riset sejarah yang mendalam.
Lewat buku Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Riwayat Raden Ronggo Prawirodirjo III dari Madiun, sekitar 1779-1810, sejarawan muda Akhlis Syamsal Qomar mengajak pembaca membuka kembali satu bab penting dalam sejarah Jawa. Bab itu selama bertahun-tahun hanya menempati ruang kecil dalam narasi sejarah nasional.

Bukan Sekadar Biografi Seorang Bupati
Kepustakaan Populer Gramedia menerbitkan buku setebal 340 halaman ini pada 2022. Akhlis tidak sekadar menulis riwayat hidup seorang bangsawan. Ia menyusun kembali dinamika politik, sosial, dan militer Jawa ketika kolonialisme mulai mengubah wajah Kesultanan Yogyakarta.
Dalam buku ini, Raden Ronggo tampil sebagai Bupati Madiun sekaligus Bupati Wedana Mancanegara Timur. Ia memimpin perlawanan terhadap kebijakan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1808-1810. Saat sebagian elite Jawa memilih berkompromi, Ronggo justru mengambil jalan perlawanan.
Pilihan itu menjadikan dirinya salah satu simbol keberanian pada masa perubahan besar di tanah Jawa.
Membaca Cara Kolonialisme Bekerja
Akhlis tidak berhenti pada kisah kepahlawanan. Ia mengajak pembaca memahami cara kolonialisme membangun kekuasaan.
Kolonialisme tidak hanya bergerak lewat senjata. Pemerintah kolonial juga memperkuat kendali melalui birokrasi, eksploitasi hutan jati, militerisasi pemerintahan, dan pembatasan kewenangan para bangsawan Jawa.
Melalui sudut pandang itu, buku ini menghadirkan sejarah sebagai proses panjang. Perlawanan Raden Ronggo bukan sekadar konflik antara seorang bupati dan pemerintah kolonial. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari krisis politik yang terus membesar di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.
Mata Rantai Menuju Perang Jawa
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada cara penulis membaca hubungan antarkejadian sejarah.
Akhlis menunjukkan bahwa Perang Jawa (1825-1830) tidak muncul secara tiba-tiba. Konflik besar itu lahir dari rangkaian krisis politik yang telah berkembang sejak awal abad ke-19. Perlawanan Raden Ronggo menjadi salah satu mata rantai penting menuju perang yang kemudian dipimpin Pangeran Diponegoro.
Dengan cara pandang tersebut, pembaca melihat sejarah sebagai proses yang saling berkaitan. Setiap peristiwa membentuk peristiwa berikutnya.
Dibangun di Atas Arsip dan Penelitian
Buku ini berangkat dari penelitian akademik yang kemudian dikembangkan bersama sejarawan Peter Carey.
Akhlis memanfaatkan beragam sumber primer. Ia menelusuri arsip kolonial di Arsip Nasional Republik Indonesia. Ia juga menggunakan surat-surat Raden Ronggo, babad, manuskrip keraton, serta silsilah keluarga Prawirodirjan.
Pendekatan tersebut membuat argumentasi buku ini berdiri kuat. Pembaca tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga menemukan dasar historis yang jelas di setiap pembahasannya.
Mengembalikan Madiun ke Peta Sejarah Jawa
Buku ini juga menawarkan perspektif baru tentang posisi Madiun.
Selama ini, narasi sejarah Jawa lebih sering berpusat pada Yogyakarta, Surakarta, atau Batavia. Padahal, wilayah Mancanegara Timur memegang peran strategis dalam struktur politik Kesultanan Yogyakarta.
Melalui sosok Raden Ronggo, Akhlis menunjukkan bahwa Madiun pernah menjadi salah satu pusat kekuatan politik Jawa. Wilayah ini ikut menentukan arah hubungan antara keraton dan pemerintah kolonial.
Makna “Banteng Terakhir”
Judul Banteng Terakhir berasal dari Babad Diponegoro.
Dalam simbolisme Jawa, banteng melambangkan kekuatan, keberanian, dan pelindung negara. Julukan tersebut menggambarkan Raden Ronggo sebagai sosok yang mempertahankan kehormatan Kesultanan Yogyakarta ketika intervensi kolonial semakin kuat.
Pangeran Diponegoro bahkan memandang perjuangan Raden Ronggo sebagai salah satu inspirasi bagi perlawanan besar yang meletus beberapa tahun kemudian.
Lebih dari Bacaan Sejarah
Selain merekonstruksi kronologi perlawanan pada 20 November hingga 17 Desember 1810, buku ini menyajikan berbagai lampiran penting. Pembaca dapat menemukan surat-surat Raden Ronggo, silsilah keluarga Prawirodirjan, data istri dan keturunannya, bibliografi yang luas, serta indeks tokoh dan tempat.
Kelengkapan itu menjadikan buku ini lebih dari sekadar bacaan sejarah populer. Buku ini juga layak menjadi referensi akademik bagi mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat yang ingin memahami sejarah Kesultanan Yogyakarta, Madiun, dan awal perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Taboooo Book Club
Karya Akhlis Syamsal Qomar mengingatkan bahwa sejarah selalu menyimpan ruang yang belum selesai diceritakan.
Persoalan terbesar sejarah Indonesia mungkin bukan kekurangan pahlawan. Persoalannya, terlalu banyak tokoh penting yang terlambat mendapatkan tempat dalam ingatan bersama.
Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta membuktikan bahwa membaca arsip berarti membaca ulang cara sebuah bangsa membangun ingatan. Buku ini juga menunjukkan bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan nama. Sejarah adalah arena perebutan makna, identitas, dan kekuasaan. Siapa yang dikenang, siapa yang dilupakan, serta siapa yang akhirnya kembali ditemukan sangat bergantung pada siapa yang menuliskan kisahnya. @dimas







