Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Malam 1 Suro, Karaton Surakarta Siapkan Kirab Pusaka

by dimas
Juni 4, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality Regional
Share on Facebook
Share on Twitter
Karaton Surakarta mematangkan persiapan Kirab Pusaka 1 Suro 2026. Sebanyak 5.000 peserta akan mengikuti tradisi sakral menyambut Tahun Baru Jawa.

Tabooo.id – Saat sebagian orang menghitung pergantian tahun lewat angka di kalender, Karaton Surakarta Hadiningrat justru mengajak masyarakat menengok kembali jati dirinya. Karena itu, pihak Karaton mulai mematangkan persiapan Kirab Pusaka 1 Suro untuk menyambut Tahun Baru Jawa 1960 Be.

Tradisi sakral itu akan mencapai puncaknya pada Selasa malam, 16 Juni 2026, tepat pukul 00.00 WIB. Panitia memperkirakan ribuan warga memadati kawasan Karaton untuk menyaksikan prosesi yang kini menjadi salah satu penanda budaya Jawa paling kuat di Kota Solo.

Persiapan kirab menjadi fokus utama rapat di Plataran Sasono Hadi, Kamis (4/6/2026). SISKS Pakoe Boewono XIV memberikan dhawuh untuk menggelar rapat tersebut.

Pengageng Parentah Karaton, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, memimpin rapat bersama Pengageng Sasana Wilapa, GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusumadewayani.

Sejumlah keluarga Karaton hadir dalam pertemuan itu. GKR Ageng, GKR Alit, dan GKR Sekar Kirono turut mengikuti pembahasan.

Ini Belum Selesai

Warung Mi dan Babi Sukoharjo Dibakar, 12 Saksi Diperiksa Polisi

TPNPB Klaim Tembak Sopir di Wamena-Nduga: Jalur Publik Jadi Zona Ancaman

Panitia juga melibatkan berbagai instansi Pemerintah Kota Surakarta. PMI, Dinas Perhubungan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Polresta Surakarta, serta Polsek Pasar Kliwon ikut menyusun kebutuhan teknis acara.

Puluhan Abdi Dalem yang mewakili ratusan peserta kirab juga mengikuti rapat tersebut. Kehadiran mereka menunjukkan keseriusan seluruh elemen pendukung dalam menyukseskan tradisi tahunan itu.

Menempuh Tujuh Kilometer Mengelilingi Kota

Panitia memperkirakan sekitar 5.000 peserta mengikuti Kirab Pusaka tahun ini. Mereka akan berjalan kaki menempuh rute sepanjang kurang lebih tujuh kilometer.

Rombongan memulai perjalanan dari kawasan Karaton Surakarta Hadiningrat. Selanjutnya, mereka melintasi Kamandungan, Jalan Supit Urang, Simpang Bank Indonesia, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, dan Jalan Slamet Riyadi.

Setelah menyelesaikan putaran kota, rombongan kembali memasuki kompleks Karaton untuk mengakhiri prosesi.

Bagi masyarakat Solo, kirab bukan sekadar arak-arakan budaya. Warga menjadikan tradisi tersebut sebagai bagian penting dari identitas kota sekaligus warisan yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Bulan Suro Menjadi Ruang Refleksi

KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo menegaskan bahwa Bulan Suro memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada pergantian tahun.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami kembali nilai-nilai budaya yang para leluhur tinggalkan sebagai warisan peradaban Jawa. Melalui berbagai simbol budaya, Karaton ingin mengajak masyarakat mengenali dirinya sendiri sekaligus memahami akar budayanya.

“Kami mengajak masyarakat memahami diri sendiri, mengenali budaya asli Jawa, serta menafsirkan makna-makna simbolis yang diwariskan Karaton Kasunanan Surakarta. Simbol seperti Kyai Slamet maupun pusaka-pusaka yang dikirabkan mengandung harapan, filosofi, dan nilai-nilai adiluhung yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan,” ujarnya.

Dipokusumo menjelaskan bahwa simbol-simbol budaya Jawa menyimpan harapan, filosofi, dan nilai-nilai adiluhung yang tetap relevan hingga kini.

Ia menilai Kirab Pusaka masih berfungsi sebagai sarana pendidikan budaya. Melalui tradisi itu, Karaton menghubungkan generasi muda dengan nilai-nilai yang membentuk peradaban Jawa selama berabad-abad.

Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak cukup hanya mengenal simbol. Mereka perlu memahami makna yang hidup di balik setiap simbol tersebut.

Tradisi Spiritual Mengiringi Malam Pergantian Tahun Jawa

Selain kirab pusaka, panitia juga menyiapkan berbagai kegiatan spiritual untuk menyambut pergantian Tahun Baru Jawa.

Masyarakat dapat mengikuti doa bersama, salat hajat, meditasi, hingga salat subuh sebagai bagian dari rangkaian refleksi Malam 1 Suro.

“Melalui doa bersama, kirab, salat hajat, meditasi, hingga salat subuh, kami mengajak masyarakat memahami dirinya sendiri serta mempersiapkan nilai-nilai yang akan dijalankan dalam kehidupan mendatang,” kata Dipokusumo.

Pihak Karaton berharap masyarakat tidak hanya hadir sebagai penonton. Tradisi ini juga mengajak setiap peserta memahami pesan yang terkandung dalam setiap prosesi.

Lima Kerbau Bule Kembali Memimpin Kirab

GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusumadewayani memastikan pelaksanaan kirab tahun ini tidak mengalami perubahan besar.

Panitia tetap menggunakan rute yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Susunan prosesi juga masih mempertahankan pola yang selama ini menjadi ciri khas Malam 1 Suro.

“Ya kalau malam 1 Suro-nya sendiri karena itu sudah berjalan bertahun-tahun mestinya seperti biasa tidak ada perubahan yang signifikan. Kemudian rutenya tidak berubah seperti tahun-tahun yang lalu,” ujarnya.

Masyarakat selalu menantikan kemunculan kerbau bule dalam setiap Kirab Pusaka. Kerbau bule memegang peran penting sebagai cucuk lampah atau pembuka jalan dalam prosesi kirab.

Tahun ini, Karaton menurunkan lima ekor kerbau bule untuk memimpin rombongan.

“Mahesanya ada lima kalau nggak salah, karena yang disiapkan itu. Kalau yang lainnya biasanya karena sekarang lebih banyak di kandang terus mungkin akan lebih sulit untuk mengatasi ketika diajak kirab,” katanya.

Karaton Masih Menunggu Dawuh Sinuhun

Hingga awal Juni, pihak Karaton masih menunggu dhawuh SISKS Pakoe Boewono XIV terkait jumlah dan jenis pusaka untuk prosesi kirab tahun ini.

Keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan Sinuhun. Para pendahulu Karaton juga menjalankan tradisi yang sama selama bertahun-tahun.

Menurut GKR Timoer, Sinuhun biasanya menentukan pusaka yang akan keluar berdasarkan petunjuk atau wisik menjelang Malam 1 Suro.

Karena itu, masyarakat masih menunggu pusaka apa saja yang akan mengiringi prosesi sakral tersebut. Setiap pusaka membawa makna filosofis yang berbeda dan menjadi bagian penting dari perjalanan budaya Karaton.

Di tengah laju modernitas, Kirab Pusaka tetap menjaga denyut budaya Jawa. Tradisi tahunan ini tidak hanya merawat warisan leluhur, tetapi juga memperkuat hubungan masyarakat dengan sejarah dan identitas budayanya.

Kirab Pusaka 1 Suro bukan sekadar agenda budaya tahunan. Tradisi ini mengingatkan masyarakat bahwa sebuah peradaban tetap kokoh ketika generasinya mengenal sejarah, memahami jati diri, dan menjaga nilai-nilai yang lahir dari perjalanan panjang leluhurnya. @dimas

Tags: Budaya SoloKaraton SurakartaKirab PusakaMalam 1 SuroPakoe Boewono XIVTradisi Jawa

Kamu Melewatkan Ini

Ruwatan Anak Gimbal Dieng: Ketika Rambut Menjadi Simbol Harapan

Ruwatan Anak Gimbal Dieng: Ketika Rambut Menjadi Simbol Harapan

by dimas
Agustus 30, 2026

Ruwatan anak gimbal Dieng bukan sekadar potong rambut. Tradisi ini menyimpan doa, kepercayaan, dan harapan keluarga untuk kehidupan anak. Tabooo.id...

Ruwatan Anak Gimbal: Tradisi, Harapan dan Perubahan Zaman

Ruwatan Anak Gimbal: Tradisi, Harapan dan Perubahan Zaman

by dimas
Agustus 29, 2026

Ruwatan Anak Gimbal dalam Dieng Culture Festival 2026 mempertemukan tradisi, harapan keluarga, dan perubahan zaman dalam budaya Dieng. Tabooo.id -...

13 Anak Bajang Jalani Ruwatan Rambut Gimbal di DCF 2026

13 Anak Bajang Jalani Ruwatan Rambut Gimbal di DCF 2026

by dimas
Agustus 29, 2026

13 anak bajang mengikuti Ruwatan Rambut Gimbal dalam Dieng Culture Festival 2026 di Kompleks Candi Arjuna, Banjarnegara, dengan beragam permintaan....

Next Post
Refal Hady dan Wajah Anak Sulung yang Memikul Segalanya

Refal Hady dan Wajah Anak Sulung yang Memikul Segalanya

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id