Misteri peluru nyasar di UNP membuka pertanyaan besar tentang keselamatan ruang sipil. Dua mahasiswa terluka, sementara asal proyektil masih diselidiki.
Tabooo.id – Sore itu seharusnya berjalan seperti hari-hari lain di Universitas Negeri Padang (UNP). Mahasiswa duduk santai di alun-alun depan rektorat. Sebagian bercakap ringan. Sebagian lagi menikmati waktu luang setelah kuliah.
Tidak ada tanda bahaya, tidak ada peringatan, tidak ada yang menyangka sebuah proyektil akan mengubah suasana kampus dalam hitungan detik.
Nova Wirantika, 25 tahun, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNP, tiba-tiba mengalami luka di paha kirinya. Di dekatnya, Guruh Guwino, 22 tahun, juga mengalami luka pada bagian tangan.
Keduanya tidak berada di lokasi konflik. Mereka juga tidak berada di area latihan militer. Mereka duduk di ruang publik kampus yang selama ini dianggap aman.
Tim medis segera membawa kedua korban ke rumah sakit. Dokter kemudian mengoperasi Nova karena proyektil masih bersarang di pahanya. Sementara itu, Guruh menjalani perawatan lanjutan untuk memulihkan lukanya.
Satu pertanyaan langsung muncul: dari mana peluru itu datang?
Temuan yang Membuka Misteri Baru
Polisi Militer Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol bergerak cepat melakukan penyelidikan. Tim investigasi melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa sejumlah saksi.
Hasil awal justru menghadirkan teka-teki baru.
Tim menemukan proyektil berkaliber 9 milimeter dari tubuh Nova. Temuan itu menarik perhatian karena berbeda dengan amunisi kaliber 5,56 milimeter yang digunakan dalam latihan senjata laras panjang di Lapangan Tembak Lapai.
Perbedaan kaliber tersebut membuat penyidik tidak bisa langsung menyimpulkan sumber peluru.
Kepala Penerangan Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, Kolonel Kavaleri Taufiq, menjelaskan bahwa proyektil 9 milimeter lebih identik dengan amunisi pistol. Karena itu, tim kini menelusuri kemungkinan penggunaan pistol selama latihan maupun kemungkinan sumber lain di luar lokasi latihan.
Penyidik juga menjalankan uji balistik untuk memastikan asal proyektil secara ilmiah.
Jarak antara lapangan tembak dan lokasi korban mencapai sekitar 800 meter. Fakta itu membuat penyelidikan semakin kompleks.
Semakin banyak data terkumpul, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul.
Ketika Dugaan Belum Menjadi Jawaban
Untuk sementara, tim investigasi masih menganggap latihan tembak sebagai kemungkinan yang paling dekat dengan waktu kejadian. Namun, penyidik belum berani menarik kesimpulan final.
Beberapa informasi yang beredar bahkan mengarah pada kemungkinan lain.
Sejumlah warga sempat menyebut adanya suara tembakan di sekitar lokasi kampus. Akan tetapi, tim investigasi belum menemukan saksi yang dapat menguatkan informasi tersebut.
Sebaliknya, banyak saksi di area korban justru mengaku tidak mendengar suara letusan apa pun.
Kontradiksi ini menunjukkan bahwa kasus tersebut belum sepenuhnya terang.
Penyidik kini mengumpulkan setiap potongan informasi yang tersedia. Mereka juga mencari proyektil kedua yang mengenai tangan Guruh untuk mengetahui apakah kedua korban terkena peluru dari sumber yang sama.
Di titik inilah investigasi tidak lagi sekadar mencari arah datangnya peluru. Investigasi juga berusaha memastikan rantai tanggung jawab yang mengikutinya.
Bukan Sekadar Peluru Nyasar
Publik mungkin melihat peristiwa ini sebagai kecelakaan.
Namun persoalannya jauh lebih besar daripada sekadar sebuah proyektil yang salah arah.
Peluru hanyalah ujung dari persoalan.
Masalah yang lebih besar adalah bagaimana ruang sipil dapat terpapar risiko dari aktivitas bersenjata yang berlangsung di sekitarnya.
Kampus bukan hanya kumpulan gedung dan ruang kuliah. Kampus merupakan ruang aman tempat mahasiswa belajar, berdiskusi, dan membangun masa depan.
Ketika sebuah proyektil mampu menembus ruang itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar tentang standar keselamatan publik.
Seberapa aman zona latihan berada dari area sipil?
Seberapa ketat pengawasan yang diterapkan?
Dan siapa yang bertanggung jawab jika risiko itu akhirnya mengenai warga biasa?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak hanya penting bagi UNP. Pertanyaan itu juga penting bagi masyarakat yang tinggal di sekitar berbagai fasilitas latihan bersenjata di Indonesia.
Luka yang Tidak Selalu Terlihat
TNI telah menyatakan komitmen untuk menanggung seluruh biaya pengobatan korban. Selain itu, pihak militer juga berjanji menghentikan latihan menembak di sekitar kawasan kampus UNP.
Langkah tersebut patut diapresiasi.
Namun pemulihan korban tidak berhenti pada biaya rumah sakit.
Nova dan Guruh mungkin dapat sembuh secara fisik. Akan tetapi, pengalaman yang mereka alami berpotensi meninggalkan jejak psikologis yang lebih lama.
Rasa takut sering kali bertahan lebih lama daripada luka.
Trauma tidak selalu muncul dalam hasil rontgen.
Kadang trauma muncul ketika seseorang kembali duduk di tempat yang sama dan bertanya apakah kejadian itu bisa terulang.
Di sinilah dampak kemanusiaan dari kasus ini menjadi sangat nyata.
Ketika Kepercayaan Ikut Terluka
Kasus di UNP bukan hanya soal mencari pemilik peluru.
Kasus ini juga menyangkut kepercayaan publik terhadap sistem keselamatan yang seharusnya melindungi warga sipil.
Sebuah proyektil mungkin berukuran kecil. Namun dampaknya bisa jauh lebih besar daripada logam yang membentuknya.
Peluru itu melukai dua mahasiswa. Pada saat yang sama, peluru itu juga mengguncang rasa aman yang selama ini dianggap biasa.
Karena itu, penyelidikan yang transparan menjadi kebutuhan mutlak.
Publik berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Publik juga berhak mendapatkan jaminan bahwa peristiwa serupa tidak akan kembali muncul di ruang yang seharusnya aman.
Sebab pada akhirnya, ini bukan sekadar kisah tentang peluru nyasar.
Ini adalah pengingat bahwa satu celah kecil dalam sistem keselamatan dapat mengubah sore biasa menjadi tragedi yang tak pernah direncanakan.
Dan sampai penyelidik menemukan jawaban yang pasti, satu pertanyaan akan terus menggema:
Jika kampus bisa kehilangan rasa amannya dalam satu sore, seberapa siap kita memastikan hal yang sama tidak terjadi lagi? @dimas




