Sore perlahan merambat turun di Kota Mojokerto. Langit mulai berubah warna. Lampu jalan menyala satu demi satu. Kendaraan terus bergerak di antara deretan bangunan yang tumbuh mengikuti laju zaman sebuah menara emas Tribuana Tunggadewi kokoh berdiri.
Tabooo.id – Dari kejauhan, suara klakson bercampur dengan hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar berhenti. Namun di tengah kesibukan itu, satu sosok tetap berdiri tenang. Menara Emas Tribuana Tunggadewi menjulang tinggi dengan balutan warna emas yang memantulkan cahaya senja. Dari berbagai sudut kota, bangunan itu tampak seperti penjaga yang mengawasi perjalanan Mojokerto dari masa lalu menuju masa depan.
Ia tidak berbicara Akan tetapi, justru karena diam, pesannya terasa semakin kuat. Sebab menara ini bukan sekadar landmark.
Lebih dari itu, ia hadir sebagai pengingat bahwa tanah yang kini ramai oleh kendaraan dan aktivitas perkotaan pernah menjadi pusat salah satu peradaban terbesar yang pernah berdiri di Nusantara.
Di saat banyak daerah berlomba membangun identitas baru, Mojokerto memilih jalan yang berbeda. Kota ini berusaha menjaga ingatan.
Nama yang Membawa Jejak Kejayaan Majapahit
Banyak warga mengenalnya sebagai Menara Sekarsari. Namun nama resminya menyimpan cerita yang jauh lebih besar.
Tribuana Wijayatunggadewi merupakan Maharani Majapahit yang memimpin kerajaan pada tahun 1328 hingga 1350 Masehi. Pada masa pemerintahannya, gagasan penyatuan Nusantara mulai menemukan arah yang lebih jelas.
Kemudian, sang maharani mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih Amangkubhumi. Dari keputusan itulah lahir Sumpah Palapa.
Sebuah ikrar politik yang kelak mengubah arah sejarah kepulauan Nusantara.
Karena itu, penggunaan nama Tribuana pada menara tersebut bukan keputusan yang muncul secara kebetulan.
Pemerintah Kota Mojokerto sengaja menghadirkan simbol yang mampu menghubungkan kehidupan modern dengan akar sejarah daerahnya.
Dalam evaluasi pembangunan kota yang disampaikan pada 12 Maret 2024, Pemerintah Kota Mojokerto menegaskan:
“Menara ini dibangun bukan sekadar penanda geografis, melainkan penanda identitas. Kami ingin menghidupkan kembali Spirit of Majapahit dalam pembangunan kota modern agar masyarakat tidak kehilangan akar budayanya.”
Pernyataan itu memperlihatkan satu tujuan yang jelas. Mojokerto tidak sedang membangun menara semata tetapi Mojokerto sedang menjaga memori kolektif.
Mengapa Kota Modern Masih Membutuhkan Simbol Sejarah?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun semakin cepat dunia berubah, semakin penting pula jawabannya.
Modernisasi menghadirkan gedung baru, teknologi baru, dan cara hidup baru. Di sisi lain, arus perubahan juga sering menghapus jejak yang membentuk identitas suatu daerah.
Bangunan lama menghilang Cerita masa lalu perlahan memudar. Sementara itu, generasi muda semakin akrab dengan budaya global dibanding sejarah yang tumbuh di lingkungannya sendiri.
Dalam Seminar Kebudayaan pada 22 Mei 2024, seorang akademisi sejarah Universitas Airlangga menyampaikan pandangan yang menarik.
“Penamaan Tribuana Tunggadewi pada menara ini mengingatkan publik bahwa Majapahit pernah dipimpin perempuan yang berhasil menjaga stabilitas dan memperluas pengaruh kerajaan. Narasi seperti ini penting untuk terus dihidupkan.”
Pandangan tersebut terasa relevan hingga hari ini.
Pasalnya, banyak anak muda mengenal tokoh dunia melalui media sosial. Namun pada saat yang sama, tidak sedikit yang justru asing dengan tokoh yang pernah membentuk sejarah bangsanya sendiri.
Di titik itulah menara ini mengambil peran. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Menara yang Menjadi Jangkar Ingatan
Dari kejauhan, Menara Tribuana Tunggadewi memang terlihat seperti ikon kota yang mempercantik lanskap Mojokerto.
Namun fungsi simboliknya jauh melampaui aspek visual. Bangunan ini bekerja layaknya jangkar.
Keberadaannya menjaga Mojokerto agar tidak hanyut terlalu jauh dalam derasnya arus modernisasi.
Dalam kajian ruang publik pada 5 Oktober 2024, seorang sosiolog Universitas Brawijaya menjelaskan:
“Simbol sejarah di ruang publik berfungsi sebagai media transmisi memori kolektif. Masyarakat mungkin datang untuk berekreasi, tetapi mereka juga menyerap identitas budayanya secara tidak sadar.”
Fenomena tersebut tampak jelas di kawasan Sekarsari. Anak-anak bermain di sekitar area pemandian.
Para remaja memanfaatkan latar menara untuk membuat konten digital. Keluarga menikmati suasana sore sambil duduk di ruang terbuka yang tersedia.
Meski demikian, ada proses lain yang berlangsung secara diam-diam. Foto-foto yang beredar di media sosial ikut membawa cerita tentangnya.
Video yang direkam para pengunjung memperpanjang jejak visual bangunan tersebut.
Bahkan tatapan singkat orang yang melintas turut menyimpan hubungan dengan sejarah yang diwakilinya.
Tanpa banyak orang sadari, menara ini terus menanamkan ingatan.
Emas yang Menyimpan Filosofi
Warna emas yang mendominasi menara bukan sekadar pilihan estetika.
Dalam tradisi Jawa dan simbolisme Majapahit, emas selalu berkaitan dengan kejayaan, kemakmuran, serta cita-cita luhur.
Karena itu, kemilau yang terlihat dari kejauhan sesungguhnya menyimpan pesan yang lebih dalam.
Budayawan Mojokerto dalam wawancara kebudayaan pada 10 Agustus 2024 pernah menyampaikan refleksi yang cukup menohok.
“Emas di menara ini adalah pengingat. Dulu kita pernah berkilau di mata dunia. Pertanyaannya, apakah perilaku kita hari ini sudah sepadan dengan kebesaran para leluhur kita?”
Pertanyaan tersebut terdengar sederhana. Namun justru di situlah letak kegelisahannya. Sejarah memang bisa melahirkan kebanggaan.
Akan tetapi, sejarah juga menghadirkan tanggung jawab. Mewarisi kejayaan tidak cukup dengan mengenang nama-nama besar masa lalu.
Setiap generasi harus membuktikan bahwa mereka layak meneruskan warisan tersebut.
Cahaya yang Keluar dari Dalam
Ada detail menarik yang sering luput dari perhatian. Tubuh menara memiliki pola geometris berlubang yang memungkinkan cahaya bergerak dari dua arah.
Ketika malam tiba, cahaya memancar dari dalam menara. Saat matahari kembali menguasai langit, arah cahaya justru berbalik masuk dari luar.
Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai elemen desain modern semata. Akan tetapi, para pengamat budaya menangkap lapisan makna yang lebih dalam.
Simbol keterbukaan muncul melalui pola-pola geometris yang membiarkan cahaya bergerak bebas.
Pada saat yang sama, detail arsitektur tersebut mengingatkan bahwa kejayaan tidak boleh berubah menjadi tembok yang memisahkan masyarakat dari perkembangan zaman.
Dalam ulasan arsitektur yang terbit pada 17 November 2024, seorang pengamat desain menjelaskan:
“Pola perforasi pada menara ini memperlihatkan dialog yang cerdas antara sejarah dan modernitas. Tradisional dalam makna, tetapi sangat kontemporer dalam penyajiannya.”
Pandangan tersebut terasa masuk akal. Sebab Majapahit mencapai kejayaan bukan karena menutup diri.
Sebaliknya, kerajaan itu berkembang karena mampu membangun hubungan dengan berbagai wilayah di luar pusat kekuasaannya.
Generasi Digital dan Tantangan Menjaga Akar
Hari ini, banyak anak muda mengenal menara ini melalui layar ponsel. Sebagian menjadikannya latar foto.
Konten media sosial kemudian merekam kehadirannya dari berbagai sudut. Tidak sedikit pula yang mengabadikannya dalam beragam bentuk visual.
Fenomena itu tidak perlu dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, kondisi tersebut justru membuka peluang baru.
Menara Tribuana Tunggadewi membuktikan bahwa sejarah tidak harus tampil kuno untuk tetap relevan.
Warisan budaya dapat hadir dengan wajah yang modern. Tradisi dapat berjalan berdampingan dengan teknologi.
Sementara itu, masa lalu juga mampu berbicara kepada generasi yang hidup di era digital.
Pesan tersebut terasa penting bagi generasi muda saat ini. Menjadi modern tidak berarti meninggalkan akar. Justru seseorang akan lebih kuat ketika memahami dari mana ia berasal.
Ini Bukan Sekadar Menara
Pada akhirnya, Menara Tribuana Tunggadewi bukan sekadar bangunan yang berdiri di tengah kota.
Lebih dari itu, ia menjelma menjadi bentuk perlawanan yang tenang terhadap lupa.
Di era ketika perhatian manusia sering berhenti hanya beberapa detik di layar ponsel, Mojokerto berusaha menjaga cerita yang telah hidup selama lebih dari enam abad.
Sebuah arsip raksasa kini berdiri menjulang ke langit, bukan dalam bentuk buku atau prasasti, melainkan dalam wujud menara yang dapat dilihat setiap hari oleh warganya.
Kehadirannya mengingatkan bahwa kemajuan tanpa identitas hanya akan melahirkan kota yang sibuk, tetapi kehilangan jiwa.
Karena itulah menara emas ini tetap berdiri di jantung Mojokerto. Menara itu tidak berdiri untuk mengejar popularitas.
Sorotan publik juga bukan alasan utama keberadaannya. Sebaliknya, bangunan tersebut terus menyampaikan pesan yang sama kepada siapa pun yang melintas di hadapannya.
Bangsa yang melupakan akar sejarahnya sering kehilangan arah ketika berlari menuju masa depan.
Maka pertanyaannya sederhana Ketika kita sibuk mengejar dunia, masihkah kita mengenal cerita tanah tempat kita berpijak?. @teguh







