Di tengah lalu lintas yang padat, suara klakson yang saling bersahutan, dan deretan bangunan yang terus tumbuh, berdiri sosok Patung Mahapatih Gajah Mada yang seolah menolak tunduk pada waktu.Ia tidak berbicara, Ia tidak bergerak. Namun, pesannya terus menggema hingga hari ini.
Tabooo.id – Patung Mahapatih Gajah Mada di Mojokerto berdiri tegak dengan tangan kanan mengepal ke langit. Sementara itu, sebilah keris terselip di pinggangnya. Keris itu tetap berada di sarungnya, tidak terhunus dan tidak mengancam.
Namun justru di situlah letak pesannya. Ini bukan sekadar patung sejarah. Ini adalah pengingat tentang bagaimana sebuah bangsa pernah mencapai puncak kejayaan, lalu kehilangan semuanya karena kesalahan yang lahir dari dalam dirinya sendiri.
Ketika Sejarah Berdiri di Tengah Kota
Banyak orang melintas setiap hari tanpa benar-benar menatapnya. Padahal, sosok perunggu itu menyimpan salah satu kisah terbesar yang pernah lahir di Nusantara.
Pada abad ke-14, Gajah Mada memimpin upaya penyatuan berbagai wilayah kepulauan yang kemudian dikenal sebagai Majapahit. Bersama Raja Hayam Wuruk, ia membangun jaringan politik, perdagangan, dan diplomasi yang menjadikan Majapahit sebagai salah satu kekuatan terbesar di Asia Tenggara.
Sumpah Palapa bukan sekadar ambisi kekuasaan. Sebaliknya, sumpah itu menghadirkan visi besar tentang persatuan.
Karena itulah banyak sejarawan memandangnya sebagai salah satu fondasi imajinasi kebangsaan yang kemudian melahirkan Indonesia modern.
Majapahit menghubungkan pelabuhan, memperkuat jalur perdagangan, dan menciptakan pengaruh yang melampaui batas wilayah Indonesia saat ini.
Namun, hukum sejarah tidak pernah memberi keistimewaan kepada siapa pun. Setelah mencapai puncak kejayaan, Majapahit perlahan kehilangan kekuatannya.
Ironisnya, kehancuran itu tidak datang dari serangan besar bangsa asing.
Sebaliknya, konflik internal menggerogoti fondasi kerajaan hingga akhirnya melemahkan seluruh bangunan kekuasaan dari dalam.
Keris yang Tidak Pernah Keluar dari Sarungnya
Ada satu detail yang sering luput dari perhatian. Keris di pinggang Gajah Mada tetap berada di tempatnya.
Ia tidak mencabutnya, Ia tidak mengacungkannya Namun justru detail itulah yang menyimpan makna paling dalam.
Budayawan Jawa Ki Sujarwo Hadi menjelaskan bahwa kepalan tangan Gajah Mada tidak melambangkan amarah ataupun arogansi.
“Mengepalnya tangan Gajah Mada itu bukan simbol arogansi atau amarah, melainkan ‘nyawiji’—penyatuan rasa dan tekad. Keris di pinggangnya tidak terhunus, artinya kekuatan militer dan kekuasaan harus selalu dikendalikan oleh kebijaksanaan nurani.”
— Ki Sujarwo Hadi, 20 Mei 2025
Karena itu, patung ini tidak hanya berbicara tentang kekuatan. Lebih jauh lagi, patung ini berbicara tentang pengendalian diri.
Di era ketika semua orang ingin menang dalam perdebatan, pesan tersebut terasa semakin relevan. Sebab kekuatan terbesar bukan lahir dari kemampuan menyerang.
Sebaliknya, kekuatan terbesar muncul dari kemampuan menahan diri ketika memiliki kesempatan untuk menghancurkan.
Paregreg Digital yang Sedang Kita Jalani
Banyak orang menganggap sejarah sebagai cerita masa lalu. Namun sejarah sering kali hanya berganti panggung dan kostum.
Perang Paregreg yang mempercepat kemunduran Majapahit muncul akibat perebutan kekuasaan di dalam istana.
Sementara itu, hari ini kita menyaksikan bentuk konflik yang berbeda, tetapi polanya terasa sangat mirip.
Polarisasi politik terus mengeras Perang opini terus berlangsung, Media sosial terus memperbesar perbedaan.
Akibatnya, masyarakat semakin mudah terpecah ke dalam kelompok-kelompok yang saling mencurigai.
Sosiolog Prof. Dr. Rahmawati Widjaja melihat fenomena tersebut sebagai bentuk baru konflik internal yang pernah menghancurkan Majapahit.
“Konflik Paregreg di masa lalu adalah potret nyata bagaimana polarisasi sosial-politik bisa menghancurkan peradaban besar. Hari ini, media sosial sering kali menjadi medan ‘Paregreg digital’. Jika generasi muda tidak dewasa menyikapi perbedaan, kita sedang menabung bahan bakar untuk keruntuhan kita sendiri.”
— Prof. Dr. Rahmawati Widjaja, 7 Januari 2026
Masalahnya, banyak orang menikmati konflik sebagai hiburan. Padahal sejarah menunjukkan hal yang berbeda.
Peradaban besar jarang runtuh ketika musuh datang dari luar. Sebaliknya, peradaban besar sering tumbang ketika warganya sibuk saling menghancurkan dari dalam.
Gajah Mada dan Generasi yang Sedang Mencari Arah
Bagi generasi muda, nama Gajah Mada sering muncul di buku sejarah, papan nama jalan, atau lembar ujian sekolah.
Namun sosok ini menawarkan pelajaran yang jauh lebih relevan daripada sekadar hafalan tahun.
Gajah Mada tidak lahir sebagai bangsawan Ia juga tidak mewarisi takhta. Sebaliknya, ia memulai perjalanan dari bawah sebagai anggota Bhayangkara.
Kemudian, ia membuktikan kapasitasnya hingga mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan Majapahit.
Akademisi sekaligus Rektor Universitas Lokal, Dr. Ir. Ahmad Fauzi, M.T., menilai warisan terbesar Gajah Mada terletak pada cara berpikirnya.
“Gajah Mada adalah representasi dari teknokrat kuno yang menguasai manajemen strategi, hukum, dan geopolitik. Generasi muda saat ini tidak boleh hanya romantis terhadap masa lalu, melainkan harus meniru etos kerja dan ketajaman berpikir sang Mahapatih untuk memenangkan persaingan global.”
— Dr. Ir. Ahmad Fauzi, M.T., 17 Agustus 2025
Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya mengagumi sejarah. Mereka perlu melanjutkan semangat yang pernah melahirkan sejarah tersebut.
Jika dahulu Gajah Mada bermimpi menyatukan Nusantara, maka generasi hari ini menghadapi tantangan yang berbeda.
Mereka perlu menaklukkan ketertinggalan teknologi, kemiskinan, disinformasi, dan krisis kualitas sumber daya manusia.
Patung yang Menjadi Cermin Bangsa
Sejarawan Dr. Agus Munandar mengingatkan bahwa bangsa ini perlu terus mempelajari keruntuhan Majapahit.
“Majapahit hancur bukan karena armada lautnya kalah bertempur, melainkan karena istananya retak dari dalam akibat perebutan kekuasaan. Patung Gajah Mada di era modern harus dibaca sebagai pengingat: kedaulatan sebuah bangsa rapuh jika elitnya sibuk bertikai demi kepentingan kelompok.”
— Dr. Agus Munandar, 12 Oktober 2024
Karena itu, patung Gajah Mada tidak hanya mengajak kita mengenang masa lalu. Lebih jauh lagi, patung ini mengajak kita memeriksa kondisi bangsa hari ini.
Pemerintah Kota Mojokerto juga menegaskan bahwa pelestarian monumen Majapahit bukan sekadar urusan estetika kota.
“Kami merawat monumen-monumen berbasis sejarah Majapahit di bumi Mojokerto ini bukan sekadar untuk estetika tata kota atau pariwisata. Ini adalah upaya jangka panjang untuk menanamkan spirit of excellence kepada setiap warga yang melintasi jalanan ini.”
— Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kota Mojokerto, 28 November 2024
Pesan yang sama juga muncul dari masyarakat.
Bambang Supriyanto, warga yang setiap hari melintasi kawasan tersebut, mengaku selalu melihat makna sederhana dari sosok Gajah Mada.
“Tiap hari saya lewat jalan ini. Buat saya, patungnya seperti bilang: ayo podo rukun, kerjo sing bener. Sungguh eman kalau negara yang sudah dibangun susah payah dari zaman dulu dirusak cuma gara-gara urusan politik.”
— Bambang Supriyanto, 2 Juni 2026
Ini Bukan Sekadar Patung. Ini Pola.
Patung itu memang tidak berbicara Namun kehadirannya terus mengirim pesan kepada siapa saja yang melintas. Pesan yang ingin disampaikan adalah persatuan membangun Majapahit tapi Sebaliknya, perpecahan meruntuhkannya.
Tangan yang mengepal menunjukkan tekad. Sementara itu, keris yang tetap tersarung menunjukkan kebijaksanaan. Dua simbol itu berdiri berdampingan dalam satu tubuh.
Dan mungkin, di situlah pesan terpenting yang ingin diwariskan Gajah Mada kepada Indonesia hari ini. Sebab bangsa ini tidak kekurangan kekuatan dan Bangsa ini juga tidak kekurangan sumber daya.
Namun sejarah berulang kali menunjukkan satu hal Sebuah bangsa bisa kehilangan segalanya ketika gagal menjaga persatuan yang pernah membuatnya besar.
Lalu pertanyaannya sederhana, Apakah kita sedang melanjutkan semangat yang pernah membesarkan Nusantara? Atau justru sedang mengulangi kesalahan yang pernah menghancurkannya?. @teguh







