Budaya ranking di sekolah kembali diperdebatkan setelah dianggap memicu bullying dan tekanan sosial. Benarkah pendidikan terlalu menekankan kompetisi?
Tabooo.id: Reality – Sekolah seharusnya menjadi ruang tumbuh. Tempat anak belajar, bertanya, gagal, lalu berkembang tanpa rasa takut. Namun, di balik budaya ranking, angka rapor, dan obsesi menjadi “yang terbaik”, muncul pertanyaan yang makin sulit dihindari: apakah sekolah tanpa sadar sedang menciptakan tekanan sosial yang melahirkan perundungan?
Pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti soal sistem ranking yang berpotensi memicu bullying kembali membuka perdebatan lama tentang wajah pendidikan Indonesia. Persoalannya bukan cuma angka. Masalah utamanya terletak pada cara sekolah menilai manusia.
Ketika Sekolah Mengubah Belajar Menjadi Perlombaan
Banyak sekolah masih menjadikan kompetisi sebagai pusat pendidikan. Murid berlomba mengejar nilai tinggi, berebut posisi terbaik, dan berusaha masuk kelompok siswa unggulan. Dalam situasi itu, angka perlahan berubah menjadi identitas sosial.
Anak dengan nilai tinggi sering mendapat cap lebih pintar, lebih rajin, dan lebih menjanjikan. Sebaliknya, siswa dengan nilai rendah kerap merasa tertinggal atau kurang mampu. Label seperti itu akhirnya menciptakan jarak sosial di lingkungan sekolah.
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji menilai, akar persoalannya bukan sekadar ranking kelas. Ia melihat sistem pendidikan sejak awal memang membangun pola persaingan antarsiswa.
Menurut Ubaid, sekolah terlalu sering memakai satu ukuran untuk menilai semua anak. Padahal setiap siswa memiliki minat, kemampuan, dan kecerdasan yang berbeda.
“Mengukur calon musisi, atlet, dan ilmuwan dengan satu alat ukur lalu me-ranking-nya adalah bentuk ketidakadilan,” ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan satu hal penting sistem pendidikan sering gagal melihat manusia secara utuh.
Ranking Tidak Sekadar Mengukur Nilai
Masalah terbesar ranking bukan hanya urutan angka di rapor. Sistem itu ikut membentuk identitas sosial siswa.
Lingkungan sekolah sering memuja murid berprestasi akademik. Guru menjadikan mereka contoh. Teman-temannya menganggap mereka kelompok unggulan. Di sisi lain, siswa dengan capaian rendah mulai merasa minder, tersisih, bahkan tidak dianggap.
Situasi seperti itu menciptakan relasi sosial yang tidak sehat.
Sebagian siswa yang menonjol secara akademik bisa menjadi sasaran ejekan atau dijauhi teman-temannya. Sebaliknya, siswa dengan nilai rendah rentan mengalami tekanan psikologis dan pengucilan.
Ubaid menilai, kondisi tersebut muncul karena sekolah terlalu menekankan persaingan dibanding kolaborasi.
Akibatnya, ruang belajar berubah menjadi arena pembuktian. Anak-anak tidak lagi fokus memahami pelajaran, tetapi sibuk mengalahkan satu sama lain.
Ranking Kelas Memudar, Hierarki Tetap Bertahan
Beberapa sekolah memang mulai meninggalkan pengumuman ranking secara terbuka. Namun, pola pengotakan tetap hidup dalam bentuk lain.
Masyarakat mengenal sekolah unggulan, sekolah favorit, hingga sekolah yang dianggap “buangan”. Sistem seperti itu menciptakan hierarki sosial sejak usia remaja.
Ubaid menilai, negara masih memelihara “ranking besar” melalui pengelompokan sekolah berdasarkan prestise dan capaian akademik.
Artinya, larangan ranking di kelas belum otomatis menghapus budaya kompetisi.
Anak-anak tetap tumbuh dalam tekanan untuk masuk sekolah elite, tampil lebih unggul, dan terlihat lebih berhasil dibanding teman sebayanya.
Pada titik itu, pendidikan terasa seperti perlombaan panjang yang melelahkan.
Pengalaman Siswa Menunjukkan Realitas yang Berbeda
Meski kritik terhadap ranking terus muncul, pengalaman siswa menunjukkan realitas yang lebih kompleks.
Leyta, siswi SMA di Depok, mengaku sekolahnya masih menerapkan sistem ranking. Namun, pihak sekolah tidak mengumumkannya secara terbuka kepada seluruh siswa. Ranking hanya diketahui siswa dan orangtua saat pembagian rapor.
Menurut Leyta, ranking tetap menghadirkan tekanan karena kemampuan siswa diringkas menjadi angka. Meski begitu, ia mengaku tidak pernah melihat bullying akibat ranking di sekolahnya.
Pandangan berbeda datang dari Arkan, siswa SMA lain di Depok. Ia justru merasa sistem ranking memotivasinya untuk belajar lebih giat dan meningkatkan prestasi akademik.
Dua pengalaman itu menunjukkan bahwa ranking tidak selalu berujung pada perundungan secara langsung. Namun, budaya kompetisi yang berlebihan tetap berpotensi menciptakan tekanan sosial di lingkungan sekolah.
Pendidikan Tidak Seharusnya Membuat Anak Merasa Gagal
Persoalan terbesar pendidikan Indonesia mungkin bukan sekadar ranking. Masalah utamanya terletak pada cara sekolah mendefinisikan keberhasilan.
Selama nilai menjadi ukuran utama harga diri, anak-anak akan terus tumbuh dalam ketakutan untuk dibandingkan.
Padahal kecerdasan manusia tidak lahir dalam bentuk yang seragam.
Sebagian anak unggul di akademik. Sebagian lain berkembang lewat seni, olahraga, kepemimpinan, atau empati sosial. Namun, sekolah sering hanya memberi panggung pada kemampuan tertentu.
Akibatnya, banyak siswa merasa gagal sebelum benar-benar mengenali potensinya sendiri.
Di tengah meningkatnya persoalan kesehatan mental remaja, kita tidak bisa lagi menganggap tekanan seperti itu sebagai hal sepele.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa sekolah harus menjadi ruang aman, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial dan psikologis.
Pertanyaannya, apakah sekolah hari ini benar-benar sudah menjadi ruang aman itu?
Atau jangan-jangan, banyak anak sebenarnya sedang bertahan hidup di dalam sistem yang terus memaksa mereka saling mengalahkan?
Karena kadang, luka terbesar di sekolah bukan berasal dari nilai merah. Luka itu muncul ketika seorang anak mulai percaya bahwa dirinya tidak cukup berharga hanya karena angka yang ia peroleh kalah dibanding orang lain. @dimas


